(Yogyakarta, 15/04/2026) — Arus digital yang kian deras telah menggeser cara seni pertunjukan diproduksi, disebarkan, sekaligus diapresiasi. Perubahan ini menghadirkan tantangan baru bagi para pelaku seni tradisi untuk tetap relevan tanpa kehilangan jati diri. Dalam konteks itulah, sosok Yati Pesek hadir sebagai pengingat bahwa menjadi seniman adalah proses panjang yang menuntut kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi. Gagasan tersebut mengemuka dalam sarasehan bertajuk “Dagelan Putri Tiga Generasi: Bukti Kemampuan Diri atau Sekadar Emansipasi?” yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) di Ruang Seminar, Rabu (15/04).

Forum ini mempertemukan lintas generasi untuk membicarakan perjalanan, tantangan, serta arah masa depan perempuan dalam seni dagelan Mataram. Hadir sebagai pembicara Yati Pesek (generasi senior), Rini Widyastuti (generasi menengah), serta Herdina Anna Lutfiani atau Dini Trinil (generasi muda), bersama praktisi seni Tulis Priyantoro (Toelis Semero). Diskusi dipandu oleh Yanti Lemu sebagai moderator yang mengarahkan percakapan tetap cair sekaligus tajam.

Dari Panggung Tradisi ke Ruang Digital

Dalam sambutannya, Kepala TBY, Dra. Purwiati, menyoroti perubahan signifikan posisi perempuan dalam dagelan. Ia melihat adanya pergeseran peran yang tidak lagi menempatkan perempuan sebatas pelengkap, melainkan sebagai aktor utama dalam ekosistem kreatif.

“Perempuan kini mengambil peran penting sebagai aktor, penulis naskah, sutradara, hingga penggerak komunitas. Ini bukan lagi soal tampil atau tidak tampil, tetapi soal bagaimana perempuan mampu menentukan arah, membangun narasi, dan memberi warna dalam perkembangan dagelan itu sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan perempuan tidak bisa lagi dibaca sebagai simbol emansipasi semata, melainkan sebagai representasi kapasitas yang terus tumbuh. Perempuan hadir bukan hanya untuk mengisi ruang, tetapi untuk menggerakkan dan memperluas kemungkinan artistik dalam seni pertunjukan tradisi.

Regenerasi yang Masih Menjadi Tantangan

Di sisi lain, persoalan regenerasi masih menjadi sorotan serius. Tulis Priyantoro menilai bahwa keberlanjutan dagelan Mataram sangat bergantung pada kualitas generasi penerus, terutama dalam membangun karakter yang kuat.

“Dagelan Mataram hari ini kesulitan menemukan pemain perempuan yang benar-benar punya daya hidup di atas panggung. Banyak yang bisa tampil, tetapi belum sampai pada tahap menghidupi peran—padahal di situlah letak kekuatan dagelan,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa menjadi pemain dagelan tidak cukup hanya menguasai teknik atau hafal naskah. Diperlukan kedalaman rasa, pemahaman konteks, serta kemampuan membaca situasi sosial agar humor yang dihadirkan tetap bernas dan berakar.

“Kalau tidak ada pembinaan yang serius dan berkelanjutan, kita akan kehilangan ruhnya. Dagelan bisa saja tetap ada, tetapi kosong dari makna,” tambahnya.

Adaptasi sebagai Kunci Bertahan

Perspektif generasi muda disampaikan oleh Dini Trinil yang melihat perubahan lanskap seni sebagai tantangan sekaligus peluang. Ia menegaskan bahwa seniman masa kini dituntut memiliki kapasitas yang lebih kompleks.

“Di zaman sekarang, penampilan saja tidak cukup. Kita harus punya skill, attitude, karakter, dan juga kecerdasan untuk membaca situasi. Dunia seni sudah berubah, dan kita tidak bisa hanya mengandalkan satu kemampuan,” jelasnya.

Menurut Dini, kehadiran media sosial telah membuka ruang baru yang tidak bisa diabaikan. Platform digital bukan hanya menjadi media distribusi karya, tetapi juga ruang kompetisi yang menentukan visibilitas seorang seniman.

“Followers dan viewers itu aset. Karya kita sekarang tidak hanya berhenti di panggung, tapi juga hidup di media sosial. Satu konten bisa menjangkau jutaan orang, dan itu membuka peluang baru—baik secara artistik maupun ekonomi,” tambahnya.

Ia melihat bahwa kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi bagian penting dari strategi bertahan, tanpa harus kehilangan identitas sebagai pelaku seni tradisi.

Menjaga Pakem di Tengah Perubahan

Dalam arus perubahan tersebut, Yati Pesek mengingatkan pentingnya menjaga pakem sebagai fondasi utama. Baginya, adaptasi harus berjalan seiring dengan pemahaman terhadap akar tradisi.

“Kadang yang dianggap sepele justru menunjukkan bagaimana kita menghargai seni. Dari cara berpakaian saja sudah terlihat—misalnya penempatan wiru yang tidak tepat. Itu bukan hanya soal estetika, tapi juga soal etika dalam berkesenian,” tuturnya.

Melalui penjelasan yang disertai peragaan, ia menunjukkan bahwa detail-detail kecil dalam tradisi memiliki makna yang tidak bisa diabaikan. Pakem bukan sekadar aturan, melainkan bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang budaya itu sendiri.

“Beradaptasi itu perlu, tapi jangan sampai kehilangan pegangan. Kalau kita paham dasarnya, kita bisa berkembang tanpa tercerabut dari akar,” lanjutnya.

Sarasehan ini menegaskan bahwa perempuan dalam dagelan Mataram telah menempati posisi strategis sebagai subjek yang aktif membentuk arah perkembangan seni. Kemampuan untuk belajar dan beradaptasi menjadi kunci penting dalam menghadapi perubahan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi sebagai identitas. Dari ruang diskusi TBY, harapan itu disuarakan lahirnya generasi baru yang tidak hanya mampu menghadirkan tawa, tetapi juga menjaga makna dan merawat kebudayaan dalam setiap lakon yang dimainkan.