(Yogyakarta, 26/09/2026) — Dalam upaya mewujudkan ruang inklusif sekaligus memperkuat literasi, Workshop Literasi Sastra digelar di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (26/9) pukul 15.30 WIB. Kegiatan ini merupakan bagian dari Suluh Sumurup Art Fest 2026 yang sekaligus hadir dalam rangkaian Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia (TKTB) XXV di TBY.

Workshop menjadi ruang perjumpaan yang memadukan kehangatan silaturahmi, apresiasi seni, dan kesempatan bagi teman-teman disabilitas netra untuk mengekspresikan ide serta gagasan melalui karya sastra. Kehadiran kegiatan ini turut memperluas semangat TKTB XXV sebagai ruang temu antarseniman, pegiat budaya, dan masyarakat dengan beragam latar belakang.

Workshop menghadirkan dua pemateri, yakni Deni Septyanugroho, guru di SLB Kota Magelang, penulis, sekaligus aktivis disabilitas, serta Nunung Deni Puspitasari, aktor, penulis, dan sastrawati.

Deni merupakan pria kelahiran Wonosobo yang mengalami kehilangan penglihatan sejak duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya pada usia 10 tahun. Kondisi tersebut tidak menghentikannya untuk terus berkarya. Selain menjalani profesinya sebagai pendidik, Deni aktif menulis berbagai karya, mulai dari puisi dan cerita pendek hingga novel. Beberapa novel yang telah ditulisnya antara lain Tinta Cinta Maba dan Kanvas Cinta dalam Gelap.

Sementara itu, Nunung Deni Puspitasari dikenal sebagai aktor dan penulis yang telah lama berkecimpung di dunia seni. Ia telah menekuni teater sejak 2000 dan juga aktif menerjemahkan novel. Dalam workshop ini, keduanya berbagi pengalaman sekaligus pandangan tentang bagaimana sastra dapat menjadi ruang untuk mengolah pengalaman hidup menjadi karya.

Sastra sebagai Sarana Stress Release dan Penegasan Diri

Deni membuka sesinya dengan sapaan hangat dan humoris. Ia mengajak peserta melihat sastra dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, menulis puisi maupun karya sastra lainnya dapat menjadi sarana pelepasan stres (stress release) di tengah rutinitas.

“Secara psikologis, kita membutuhkan pengalihan untuk melepaskan kejenuhan agar tidak menumpuk menjadi beban pikiran. Salah satu cara positif yang bisa dilakukan teman-teman adalah dengan berkarya, seperti memasak, membuat puisi,” ujar Deni.

Deni juga mengutip pandangan Frans Magnis-Suseno mengenai daya imajinasi dan fantasi yang dapat menjadi kekuatan bagi teman-teman tunanetra. Menurutnya, ketika pengalaman dan imajinasi tersebut diolah menjadi karya sastra, ia dapat menjadi penanda perjalanan hidup yang bernilai.

Bagi Deni, pengalaman hidup layak untuk didokumentasikan melalui karya. Sastra dapat menjadi ruang kebebasan berekspresi sekaligus cara untuk meninggalkan jejak pemikiran dan pengalaman kepada masyarakat.

Menjelajahi Lanskap Ruang Lewat Pendekatan Multisensori

Dalam sesinya, Nunung mengungkapkan kekagumannya terhadap cara Deni menggambarkan lanskap dan dinamika sebuah tempat melalui puisi.

“Ketika membaca, saya membatin, ini beneran Pak Deni tunanetra? Karena kemampuan beliau dalam menggambarkan sebuah tempat begitu kuat,” ujar Nunung.

Menurut Nunung, proses kreatif Deni menunjukkan bahwa pengalaman terhadap sebuah ruang tidak selalu bergantung pada penglihatan. Deni dapat menyerap cerita, mendengarkan deskripsi, merasakan pergerakan, serta mengolah berbagai pengalaman inderawi di sekitarnya menjadi bahasa puitis.

Ruang kemudian hadir melalui bunyi, seperti deru air dan riuh suara; melalui rabaan dan gerakan, seperti kontur ruang dan langkah kaki; hingga melalui aroma, seperti kopi dan bunga. Berbagai pengalaman tersebut dirangkai menjadi gambaran ruang yang hidup dalam puisi.

“Puisinya bukan jadi pusat keluhan, tetapi justru menjadi alternatif cara Pak Deni untuk mengalami dunia,” tutur Nunung.

Ketika Puisi Dibacakan, Ruang Pun Menjadi Hidup

Suasana workshop semakin hidup ketika peserta diajak membaca puisi-puisi karya Deni. Salah satu momen hangat hadir saat Akbar, salah seorang peserta, membacakan puisi Aksara Jateng Karta dengan penuh penghayatan.

Bait demi bait dibacakan dengan ekspresif hingga mendapat tepuk tangan dan apresiasi hangat dari peserta lainnya. Momen tersebut menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang perjumpaan mempertemukan pengalaman, imajinasi, dan cara pandang yang beragam.

Melihat antusiasme peserta, Nunung berharap ruang-ruang perjumpaan inklusif semacam ini dapat terus hadir secara konsisten.

“Harapan saya dan Pak Deni, acara ini tetap ada karena sangat mendukung teman-teman disabilitas, khususnya tunanetra. Semangat teman-teman saat membaca tadi luar biasa. Harapannya ini terus ada sebagai ruang bagi mereka untuk tetap berkarya, mencipta, dan berkreasi,” tutur Nunung.

Rangkaian kegiatan sore itu ditutup dengan sesi foto bersama dan obrolan hangat antarpeserta. Dalam rangkaian Suluh Sumurup Art Fest 2026 dan TKTB XXV, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana ruang budaya dapat terbuka bagi siapa saja untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan menciptakan karya.

Melalui sastra, teman-teman tunanetra menunjukkan bahwa dunia dapat dialami dan dirangkai dengan beragam cara. Dari suara, rabaan, aroma, gerak, hingga imajinasi, pengalaman tersebut menemukan bentuknya dalam kata.