(Yogyakarta, 09/11/2025) — Rangkaian Pameran dan Pentas Akhir Bimbingan Seni Art for Children (AFC) 2025 yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) resmi berakhir dengan penuh kemeriahan dan haru pada Minggu (9/11/2025). Puncak acara yang digelar di Gedung Societeit Militaire ini menjadi momentum bersejarah bagi 880 anak peserta yang telah menempuh perjalanan belajar seni selama hampir satu tahun penuh.

Sejak dibuka pada 5 November, TBY menjadi rumah kedua bagi ratusan anak yang menyalurkan bakat dan kreativitas mereka melalui berbagai cabang seni. Hari terakhir menjadi puncak dari segala upaya itu sebuah perayaan yang tidak hanya menampilkan hasil latihan, tetapi juga menegaskan makna seni sebagai sarana membentuk karakter, kepekaan, dan rasa kebersamaan.

“Tamasya”: Panggung Ceria yang Ajarkan Anak untuk Bergembira

Pentas dibuka dengan segmen “Tamasya” dari AFC Vokal, menampilkan para penyanyi cilik yang dengan penuh semangat membawakan lagu-lagu ceria tentang liburan dan kebebasan anak-anak dari rutinitas sekolah. Keceriaan di wajah mereka seolah mengingatkan penonton bahwa dunia anak adalah dunia yang penuh tawa, imajinasi, dan rasa ingin tahu yang tak terbatas.

Sigit, pengampu vokal AFC, berbagi refleksi mendalam mengenai filosofi yang ia pegang selama membimbing anak-anak.

“Kunci untuk bergelut dengan anak-anak itu satu: senang,” ujarnya dengan nada penuh kehangatan. “Kalau mereka tidak senang, apa pun yang kita ajarkan tidak akan masuk. Anak-anak jangan dibikin sedih, karena kesedihan justru bisa mematikan kreativitas. Di kelas vokal AFC, kami berusaha menghadirkan suasana yang riang di mana anak-anak bisa bernyanyi, tertawa, dan mengekspresikan dirinya tanpa takut salah.”

Pernyataan itu menggambarkan esensi program AFC: bahwa seni bukan semata soal teknik, melainkan juga ruang bagi anak-anak untuk merasa bahagia dan bebas mengekspresikan diri.

“Sekar Putri”, Keanggunan yang Menyimpan Harapan Penerus Seni

Suasana kemudian berubah lembut dan anggun ketika giliran AFC Tari Klasik tampil dengan karya bertajuk “Sekar Putri”. Gerak yang gemulai dan penuh simbol menggambarkan kegembiraan seorang gadis kecil yang mulai beranjak dewasa, bermain dan berhias diri dalam dunia yang indah. Dengan balutan busana tradisional yang memukau, para penari cilik berhasil menciptakan suasana yang menenangkan sekaligus mengharukan.

Tere, pengampu tari klasik, menyampaikan rasa bangga sekaligus harapannya yang besar bagi masa depan seni klasik di Yogyakarta.

“Antusias anak-anak untuk belajar tari klasik semakin banyak dari tahun ke tahun,” ujarnya dengan mata berbinar. “Artinya, generasi penerus untuk melestarikan Tari Klasik Gaya Yogyakarta tetap ada dan terus tumbuh. Sebagai pengampu, kami merasa lega dan optimis, karena seni yang diwariskan leluhur ini tidak akan punah. Suatu saat nanti, anak-anak inilah yang akan berdiri di panggung menggantikan kami, melanjutkan tradisi dengan gaya mereka sendiri.”

Kata-kata Tere disambut tepuk tangan hangat, seolah menjadi penegasan bahwa nilai-nilai tradisi akan terus hidup di tangan generasi muda.

Harmoni Kompak AFC Ansambel: Belajar Mendengar, Belajar Bersinergi

Selepas pertunjukan tari, panggung kembali bergemuruh oleh harmoni instrumen dari AFC Ansambel Musik. Anak-anak menampilkan kekompakan yang mengagumkan, memadukan berbagai alat musik dalam satu irama yang padu dan menggugah semangat. Penampilan ini menunjukkan bahwa seni juga mengajarkan tentang mendengarkan, menunggu giliran, dan bekerja bersama dalam satu harmoni. Dewi, pengampu AFC Ansambel, tak kuasa menutupi rasa harunya.

“Kami tahu pasti, di balik anak-anak yang hebat ini, ada orang tua yang super hebat,” ujarnya dengan suara bergetar. “Tanpa dukungan, kesabaran, dan dorongan dari orang tua, tidak mungkin anak-anak bisa tampil sebaik ini. Proses latihan mereka panjang penuh jatuh bangun, tapi hari ini semuanya terbayar dengan kebanggaan.”

Apresiasi Anak dan Orang Tua, “Kids of The Month” dan 2.871 Pengunjung

Sebagai bentuk penghargaan atas semangat dan dedikasi anak-anak, TBY menyerahkan sertifikat Kids of The Month kepada 11 peserta terbaik dari berbagai bidang seni. Penghargaan diberikan langsung oleh Dr. Purwiati, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, bersama Cerrya Wuri Waheni, M.Sn., Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya. Dalam sambutannya, Purwiati juga mengungkapkan kebanggaan atas antusias publik yang luar biasa.

“Selama lima hari penyelenggaraan, tercatat ada 2.871 pengunjung yang datang menyaksikan pameran dan pentas anak-anak. Bahkan, dua karya kriya batik berhasil terjual dengan total nilai Rp1,3 juta, sementara 15 produk di Pojok Kreatif terjual dengan total Rp3,55 juta. Nilai itu bukan soal angka, melainkan bentuk penghargaan masyarakat terhadap karya dan jerih payah anak-anak.”

Purwiati menegaskan bahwa keberhasilan AFC bukan hanya diukur dari jumlah peserta atau penonton, melainkan dari tumbuhnya kepercayaan diri, kepekaan rasa, dan kreativitas anak-anak selama proses pembelajaran.

Pesan Penutup: Jangan Berhenti Belajar Seni

Menutup sambutannya, Purwiati berpesan dengan nada penuh harap agar anak-anak tidak berhenti berkarya setelah AFC berakhir.

“Mudah-mudahan Bimbingan Seni AFC selama 10 bulan ini telah menumbuhkan kepercayaan diri, kepekaan, dan kreativitas. Teruslah belajar, jangan berhenti di sini. Lanjutkan ke sanggar, sekolah, atau komunitas seni di Yogyakarta, karena perjalanan kalian sebagai seniman baru saja dimulai.”

Suaranya bergetar saat menutup acara dengan ucapan syukur, disambut gemuruh tepuk tangan dan seruan “Alhamdulillah” dari seluruh hadirin.

AFC Asah Soft Skills dan Karakter Anak

Tak hanya menanamkan keterampilan seni, AFC juga diakui berhasil membentuk karakter anak melalui nilai-nilai kedisiplinan dan kerja sama. Hanggoro, salah satu orang tua peserta, menyampaikan kesan mendalamnya.

“Anak saya jadi lebih disiplin, lebih percaya diri, dan mampu bekerja sama dengan orang lain. Itu soft skills yang sangat penting untuk masa depan. Saya berharap AFC terus berkembang dan pesertanya diperbanyak agar lebih banyak anak yang bisa merasakan manfaatnya.”

TBY Tegaskan Peran: Melahirkan Maestro Muda Seni dan Budaya

Pentas ditutup dengan momen penuh haru ketika seluruh pengampu dan peserta dari 11 cabang seni berkumpul di atas panggung, menyanyikan jingle AFC “Hebat, Gembira, Istimewa”. Sorot lampu, tawa, dan air mata kebahagiaan berpadu menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang penuh makna.

Melalui AFC, Taman Budaya Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai ruang tumbuhnya generasi muda seni dan budaya. Dari tangan-tangan kecil yang kini belajar menari, melukis, dan bernyanyi inilah, akan lahir maestro-maestro muda yang kelak memperkaya panggung seni Indonesia.