Yogyakarta, 2 Oktober 2026 — Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia (TKTB) XXV 2026 resmi ditutup di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (1/10) malam. Setelah berlangsung sejak 24 September 2026, rangkaian kegiatan ini mempertemukan perwakilan Taman Budaya dari berbagai daerah di Indonesia dalam pertukaran karya, gagasan, dan pengalaman kebudayaan.

Malam penutupan dipandu oleh pembawa acara Febri Setiawan dan Wijil Rachmadhani. Rangkaian acara diawali dengan pertunjukan dari empat kontingen, yakni Jawa Timur, Jambi, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali.

Anoman Jagoan Mengasyikkan — Kontingen Jawa Timur

Kontingen Taman Budaya Provinsi Jawa Timur membuka rangkaian pertunjukan dengan karya berjudul Anoman Jagoan Mengasyikkan. Karya ini berangkat dari kegemaran anak-anak terhadap wayang dan gamelan yang dikemas sebagai pengalaman bermain sekaligus sarana berekspresi. Tokoh Anoman dipilih sebagai tokoh utama karena memiliki karakter jenaka dan heroik serta membawa nilai-nilai positif yang dekat dengan dunia anak.

Tari Kodrat — Kontingen Jambi

Selanjutnya, Kontingen Taman Budaya Provinsi Jambi mempersembahkan drama tari Tari Kodrat. Karya ini mengangkat isu mengenai kedudukan perempuan dan hubungan manusia dengan alam. Secara filosofis, pertunjukan tersebut menyoroti keterkaitan antara manusia, perempuan, alam, serta keberadaan Suku Anak Dalam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jambi.

Sasmita Coloho — Kontingen DIY

Taman Budaya Yogyakarta kemudian mempersembahkan karya tari Sasmita Coloho yang disutradarai koreografer Anter Asmorotedjo dengan komposisi musik oleh Pardiman Djoyonegoro. Karya ini mengangkat figur mitologis Ki Petruk atau Eyang Petruk dalam kosmologi Jawa sebagai sosok yang berkaitan dengan keseimbangan alam di kawasan Gunung Merapi. Melalui vokal khas coloho dan gerak tari yang memadukan spirit joged Mataraman dengan karakter Punokawan, karya tersebut menggambarkan relasi antara manusia, ruang spiritual, dan bentang alam vulkanik Merapi.

Tari Somya — Kontingen Bali

Rangkaian pertunjukan ditutup oleh UPTD Taman Budaya Provinsi Bali melalui karya Somya. Pertunjukan ini mengangkat mitologi Siwa-Uma, Kala Rudra dan Durga, serta peran Tri Semaya—Brahma, Wisnu, dan Iswara—dalam menetralkan bencana dunia. Karya tersebut juga menghadirkan elemen seni tradisi seperti dalang, topeng, dan barong. Melalui Somya, kontingen Bali menyampaikan gagasan tentang seni tradisi sebagai bagian dari upaya menjaga kesucian, keharmonisan, dan kedamaian.

Penghargaan dan Sambutan Penutupan

Setelah rangkaian pertunjukan, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi bersama Kepala Taman Budaya Yogyakarta Dra. Purwiati menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Putra Putri Kebudayaan Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kebudayaan. Dalam sambutan penutupan, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya TKTB XXV 2026. Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana berkat keterlibatan dan kepedulian bersama terhadap kebudayaan.

“Seluruh rangkaian agenda dapat terselenggara dengan baik tidak lain dan tidak bukan karena rasa cinta kita bersama terhadap kebudayaan,” ujar Dian.

Dian juga menyampaikan terima kasih kepada delegasi dari 17 Taman Budaya se-Indonesia yang telah berpartisipasi dalam seluruh rangkaian TKTB XXV.

“Kami berharap Bapak dan Ibu pulang dengan membawa kenangan manis saja. Kita berharap dapat bertemu kembali besok di Bali, dengan satu tujuan: Taman Budaya se-Indonesia berperan dan berkontribusi penuh untuk memajukan kebudayaan nasional,” tutur Dian.

Estafet TKTB Berlanjut ke Bali

Penutupan TKTB XXV ditandai dengan prosesi pencabutan keris Gyaning Rasa Mantraning Nusantara oleh Dian Lakshmi Pratiwi. Prosesi tersebut menjadi penanda berakhirnya penyelenggaraan TKTB XXV 2026 di Yogyakarta. Estafet penyelenggaraan kemudian dilanjutkan melalui penyerahan keris pusaka kepada Kepala UPTD Taman Budaya Bali, I Wayan Mardika Bhuwana. Penyerahan tersebut menandai Bali sebagai tuan rumah TKTB XXVI pada 2027. Pada kesempatan yang sama, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menyerahkan pataka TKTB kepada Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, yang terpilih sebagai Ketua Forum Taman Budaya se-Indonesia berikutnya.

Jogja Hip Hop Foundation Tutup Malam Penutupan

Malam penutupan TKTB XXV kemudian berlanjut dengan penampilan Jogja Hip Hop Foundation. Musik hip hop berpadu dengan lirik dan rima berbahasa Jawa, mengajak penonton mengikuti suasana pertunjukan hingga akhir acara. Sejumlah penonton turut larut dalam penampilan tersebut. Anindia, salah seorang pengunjung, mengaku terkesan dapat menyaksikan beragam karya budaya dari berbagai daerah dalam satu rangkaian acara.

“Jujur sangat spektakuler, sangat keren, dan bener-bener bangga atas budaya yang dipunyai Indonesia yang dirangkum jadi satu di sini,” ujar Anindia.

Ia juga berharap penyelenggaraan TKTB berikutnya di Bali dapat kembali menghadirkan keberagaman karya budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Berakhirnya TKTB XXV di Yogyakarta sekaligus menandai berlanjutnya estafet penyelenggaraan TKTB ke Bali pada 2027. Pertemuan antartaman budaya tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan karya, memperkuat komunikasi, serta membangun jejaring kebudayaan antardaerah di Indonesia.