(Yogyakarta, 20/05/2026) — Riuh tepuk tangan menggema di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada Rabu (20/05) malam. Ratusan penonton dari berbagai latar belakang memadati ruang pertunjukan untuk menyaksikan “Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi”, sebuah panggung tari yang mempertemukan tiga koreografer dari generasi berbeda dalam satu ruang artistik yang intim, reflektif, dan emosional.
Sejak sore hari, antrean penonton telah mengular di area lobi. Para mahasiswa seni, pekerja kreatif, pegiat budaya, hingga keluarga muda tampak antusias menunggu dimulainya pertunjukan. Tiket yang telah dipesan melalui platform Tuktix menjadi akses menuju sebuah malam yang bukan sekadar pertunjukan tari, melainkan perjumpaan gagasan lintas usia tentang tubuh, tradisi, dan kehidupan modern.
Pementasan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui UPT TBY ini menjadi ruang pertemuan tiga nama koreografer: Galih Puspita, Besar Widodo, dan Eka Lutfi. Ketiganya hadir membawa pendekatan artistik yang berbeda, namun saling terhubung melalui benang merah pencarian makna kehidupan manusia.

Malam dibuka dengan penampilan kolaboratif ketiga koreografer yang langsung menyihir penonton sejak menit pertama. Cahaya panggung yang temaram berpadu dengan komposisi bunyi yang ritmis menghadirkan atmosfer magis. Gerak tubuh para penari bergerak cair, sesekali patah dan menghentak, lalu kembali mengalun lembut. Pertemuan estetika antar generasi itu terasa hidup, tidak saling mendominasi, melainkan saling merespons dan melengkapi.
Kelenturan gerak khas generasi muda bertemu kedalaman pengalaman artistik para senior. Di titik inilah pertunjukan terasa bukan sekadar koreografi, melainkan dialog tentang bagaimana tradisi terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar.
Suasana hangat semakin terasa ketika duo pembawa acara, Alit Jabangbayi dan Putri Manjo, tampil menyapa penonton dengan gaya interaktif dan penuh humor. Candaan ringan yang dilemparkan berhasil mencairkan suasana concert hall yang semula khidmat menjadi lebih akrab. Tawa dan tepuk tangan penonton beberapa kali pecah memenuhi ruangan.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, dalam sambutannya menegaskan bahwa “Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi” merupakan bentuk komitmen TBY dalam menjaga keberlanjutan ekosistem seni pertunjukan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Gelaran Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi merupakan wadah bagi kreator tari kontemporer di DIY untuk berkarya, berekspresi, serta menampilkan bakat-bakat luar biasa sebagai bentuk komitmen bersama menjaga ekosistem seni budaya agar terus tumbuh dan berkelanjutan,” ujar Purwiati.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai jembatan yang kuat untuk masa depan seni budaya di DIY melalui kolaborasi yang inklusif.
“Melalui kegiatan ini, TBY berharap dapat terus menjadi ruang terbuka bagi proses regenerasi, pertukaran gagasan, dan penguatan jejaring seni pertunjukan. Kami percaya bahwa keberlanjutan kebudayaan lahir dari keberanian untuk memberi ruang kepada generasi baru tanpa memutus akar pengalaman generasi sebelumnya,” pungkasnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menyampaikan bahwa tradisi tidak boleh berhenti sebagai romantisasi masa lalu. Menurutnya, kebudayaan hanya akan hidup apabila terus berdialog dengan konteks zamannya.
“Malam ini kita memaknai bahwa tradisi bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan sesuatu yang terus hidup, berkembang, dan berdialog dengan zamannya,” ujar Dian.
Ia menilai pertemuan lintas generasi dalam panggung tari kontemporer ini menjadi simbol penting bahwa kebudayaan lahir dari proses saling mendampingi antara seniman senior dan generasi muda. Tari kontemporer, menurutnya, bukan sekadar olah tubuh di atas panggung, tetapi medium kontemplasi yang merekam realitas sosial dan pergulatan manusia hari ini.
Momen seremoni pembukaan berlangsung khidmat melalui pemukulan gong yang menandai dimulainya rangkaian pertunjukan utama. Suasana semakin emosional ketika seniman legendaris Yati Pesek turut hadir dan naik ke atas panggung. Kehadirannya menjadi simbol kuat estafet budaya lintas generasi, bahwa pengalaman, nilai, dan kreativitas terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menyusuri Lorong Kehidupan Lewat Tari
Pementasan utama dibuka oleh Galih Puspita melalui karya berjudul Ngluru Lurung. Pertunjukan ini menghadirkan kisah seorang nenek buyut yang berjuang menghidupi keluarganya hingga lintas generasi.

Lewat eksplorasi gerak yang intens dan emosional, Galih menghadirkan tubuh sebagai medium pencarian makna kehidupan. Gerakan para penari yang berulang, berlari, lalu terjatuh seolah menggambarkan siklus perjuangan manusia dalam mempertahankan hidup dan cinta bagi keluarganya. Penonton diajak masuk ke lorong-lorong batin yang sunyi sekaligus penuh keteguhan.
Atmosfer kemudian berubah lebih reflektif melalui karya Di Atas Irama Dua garapan Besar Widodo. Dalam karya ini, Besar memotret fase kehidupan perempuan usia 50 hingga 60 tahun dengan pendekatan yang jujur dan personal.
Tubuh-tubuh penari bergerak perlahan dengan ritme yang sengaja dipatahkan. Aroma minyak angin yang menjadi simbol keseharian perempuan lansia dihadirkan secara simbolik di atas panggung, memunculkan kesan dekat dan akrab bagi penonton. Karya ini tidak berbicara tentang penuaan sebagai kemunduran, melainkan penerimaan tubuh atas perjalanan waktu.
Puncak emosional malam itu hadir melalui karya penutup Sangkar Sunyi yang Bernyawa karya Eka Lutfi. Pertunjukan ini mengangkat filosofi tradisi mitoni atau tujuh bulanan dalam budaya Jawa.
Melalui komposisi visual yang puitis, Eka menghadirkan refleksi tentang kesucian kehidupan seorang janin di dalam kandungan. Tata cahaya yang redup, bunyi-bunyian lirih, dan gerak tubuh yang perlahan menciptakan suasana spiritual yang mendalam. Beberapa penonton tampak terpaku tanpa berkedip menyaksikan adegan demi adegan yang mengalir syahdu hingga akhir pertunjukan.
Ratusan pasang mata tampak terpaku menyaksikan setiap gerakan dalam pertunjukan tari kontemporer tersebut. Salah satunya adalah Akbar Nugraha Pratama, penonton asal Kebumen yang mengaku terpukau oleh koreografi yang disuguhkan.
“Unik, dan bagian akhir itu benar-benar menyuguhkan pemandangan yang spektakuler. Saya seperti dibawa ke surga, ini masterpiece banget! Mereka membawakan sesuatu yang luar biasa dan benar-benar segar. Saya jadi makin penasaran dengan makna dan filosofinya. Bisa latihan cuma satu bulan itu menurut saya wow sih,” ujar Akbar.

Seniman kawakan, Pardiman, turut mengekspresikan kekagumannya atas pertunjukan tersebut. “Saya begitu menikmati malam ini. Malam ini berbeda sekali. Kami diajak bertamasya untuk menikmati imajinasi-imajinasi yang liar,” ungkap Pardiman.
Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada pihak penyelenggara, “Terima kasih kepada TBY karena telah mewadahi kami untuk mengungkapkan ekspresi dan kreativitas kita,” tutup Pardiman.
Sebagai penutup, Dian Lakshmi Pratiwi bersama Purwiati menyerahkan buket bunga kepada ketiga koreografer sebagai bentuk apresiasi atas karya yang telah dipersembahkan. Prosesi tersebut turut didampingi para narasumber, yakni Anter Asmoro Tedjo, Bimo Wiwohatmo, dan Setiastuti.
Melalui “Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi”, Taman Budaya Yogyakarta menegaskan perannya bukan hanya sebagai ruang pertunjukan, tetapi sebagai laboratorium hidup tempat gagasan, tradisi, dan masa depan seni bertemu. Di atas panggung itu, tubuh tidak sekadar bergerak—ia berbicara, mengingat, dan meneruskan kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.