Yogyakarta, (5/11/2025) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menggelar acara tahunan yang paling dinanti, Pameran dan Pentas Akhir Bimbingan Seni Art for Children (AFC) 2025, di Gedung Societeit Militaire. Kegiatan yang berlangsung pada 5–9 November 2025 ini menjadi puncak proses pembimbingan seni bagi ratusan anak yang mengikuti program AFC sepanjang tahun.

Pameran menampilkan karya seni rupa hasil eksplorasi peserta di area lobi gedung, sementara di ruang utama pengunjung disuguhkan beragam pentas seni yang menggambarkan semangat dan kreativitas anak-anak.

Pembukaan acara berlangsung meriah dengan penampilan Tari Klasik Retno Asri, yang menggambarkan kematangan seorang remaja putri dalam memegang nilai-nilai luhur, serta Tari Kreasi “Beruang”, yang memikat penonton lewat gerak-gerak lincah dan menggemaskan.

880 Anak Rampungkan Bimbingan Seni AFC 2025

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menyampaikan apresiasi atas antusiasme luar biasa peserta tahun ini. Dari 1.394 anak yang mendaftar, sebanyak 959 anak dinyatakan lolos seleksi awal, dan 880 anak berhasil menuntaskan seluruh proses pembelajaran.

Purwiati menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada hasil karya, tetapi juga pada semangat dan proses belajar yang dijalani anak-anak.

“Apresiasi kita bukan hanya pada bentuk karya yang tampak, tetapi juga pada semangat, imajinasi, dan mimpi yang mereka tuangkan dalam proses berkarya,” ujarnya.

Kebebasan Menuju Jati Diri, Fokus pada Proses

Penekanan terhadap proses kreatif anak juga menjadi perhatian para instruktur. Nur Rohmad, perwakilan instruktur AFC, menyebut bahwa dunia anak adalah sumber inspirasi utama dalam kegiatan ini.

“Dunia anak adalah dunia yang luar biasa, yang kemudian menginspirasi tema tahun ini, Kebebasan Menuju Jati Diri,” tuturnya.

Ia menambahkan, kegiatan AFC menjadi ruang rekreatif bagi anak maupun pengajar, tempat mereka dapat belajar, bermain, dan berekspresi dengan cara yang membebaskan.

Semangat kebebasan itu tampak dalam sesi peragaan busana di panggung utama, ketika para peserta dengan percaya diri menampilkan busana batik hasil rancangan mereka sendiri.

Menyemai Maestro Masa Depan

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sambutannya menegaskan bahwa tujuan utama AFC bukan semata membentuk seniman, melainkan menumbuhkan karakter dan potensi jangka panjang anak-anak.

“AFC tidak bertujuan membentuk seniman besar hari ini. Namun, 10 hingga 20 tahun ke depan, kami yakin akan lahir maestro-maestro hebat dari AFC,” ujar Dian.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para orang tua dan wali yang setia mendampingi proses pembelajaran anak-anak selama program berlangsung. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi kunci terciptanya lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya kreativitas.

Pesawat Kertas dan Harapan

Sebagai penanda pembukaan pameran dan pentas seni, seluruh peserta bersama tamu undangan menerbangkan pesawat kertas secara serempak. Aksi simbolis ini melambangkan mimpi dan harapan yang siap terbang menuju masa depan.

Antusiasme juga dirasakan para pengunjung. Niki, pengunjung asal Temanggung, mengaku terkesan dengan penampilan para peserta.

“Tari Beruang lucu dan energik banget. Anak-anak tampil percaya diri dan menghibur,” katanya.

Sementara itu, Rahma dari Kediri berharap kegiatan seperti AFC terus dikembangkan agar semakin banyak anak mendapat ruang berekspresi.

Perayaan Kreativitas Anak

Pameran dan Pentas Akhir Bimbingan Seni Art for Children 2025 bukan sekadar ajang unjuk bakat, melainkan ruang pembuktian bahwa dunia anak adalah dunia penuh imajinasi, kebebasan, dan kemungkinan tanpa batas.

Melalui bimbingan dan pendampingan yang konsisten, Taman Budaya Yogyakarta berkomitmen untuk terus menyemai benih-benih kreativitas anak Indonesia generasi yang kelak menjadi maestro-maestro masa depan di panggung seni dan budaya.