(Yogyakarta, 06/03/2026) — Perpustakaan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tampak lebih hidup saat menggelar diskusi literasi bersama komunitas Mumpung Moco bertajuk Jagongan #6, pada Jumat (06/03). Bertempat di Perpustakaan TBY, acara ini menjadi wadah para Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya di lingkungan Pemerintah Daerah DIY untuk membedah isu terkini serta saling berbagi gagasan.
Mumpung Moco merupakan komunitas bagi para ASN yang mengusung format bercerita. Melalui wadah ini, para ASN saling berbagi ulasan mengenai buku, artikel, hingga tontonan seperti film dan pementasan. Komunitas ini hadir sebagai ruang refleksi yang menarik, membedah fenomena teknologi modern sekaligus menengok kembali catatan sejarah sosial di tanah Jawa. Melalui narasi yang dibagikan, literasi bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan menumbuhkan daya kritis, kepekaan terhadap perubahan zaman demi meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Menimbang Peran Akal Imitasi (AI)
Diskusi dibuka dengan topik yang sangat relevan dengan efisiensi kerja masa kini yakni mengenai peran Akal Imitasi (AI) atau kecerdasan buatan dalam ekosistem kerja. Di satu sisi, teknologi ini diakui sangat membantu dalam penyusunan konsep dan efisiensi tugas sehari-hari. Namun, dalam diskusi tersebut juga muncul peringatan mengenai ancaman di balik kemudahan tersebut. Wisnu Wirawan, Biro Hukum Setda DIY, mengungkapkan kekhawatiran mengenai potensi ketergantungan manusia pada AI.
“Ada risiko di mana kemampuan kita untuk menelaah dan membaca materi mentah secara mendalam menjadi berkurang karena terlalu banyak bergantung pada akal imitasi,” ujar Wisnu.
Ia menekankan bahwa meskipun AI menawarkan kemudahan, ketajaman nalar manusia dalam memvalidasi informasi tetap tidak tergantikan.

Refleksi Disrupsi Sosial Masa Lalu
Selain topik teknologi, diskusi ini juga membedah sejarah kehidupan masyarakat di Kasunanan Surakarta pada periode 1900–1915. Diskusi menyoroti fenomena disrupsi sosial yang dialami golongan priyayi pada masa itu akibat berkembangnya ekonomi kerakyatan, khususnya melalui perdagangan batik oleh kaum pribumi.
Kala itu, kematangan ekonomi pedagang batik pribumi menciptakan dinamika baru yang menantang kemapanan status sosial pegawai pemerintah kolonial. Hal ini menjadi pengingat bahwa perubahan ekonomi dan sosial akan selalu membawa pergeseran nilai dalam struktur masyarakat.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang hangat. Melalui pelaksanaan rutin setiap Jumat pekan pertama, komunitas Mumpung Moco dan Taman Budaya Yogyakarta berupaya menghidupkan tradisi literasi di kalangan birokrasi. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa kebijakan dan pelayanan publik di era modern harus didasari oleh kedalaman wawasan dan kemampuan literasi yang mumpuni. Dengan semangat berbagi ilmu ini, diharapkan para ASN dapat terus mengaktualisasikan diri demi kemajuan tata kelola pemerintahan yang lebih adaptif dan maju di masa depan.