(Yogyakarta, 25/09/2026) — Bahasa bukan sekadar tentang suara atau kata yang terucap, melainkan jembatan untuk berkomunikasi, memahami, dan saling terhubung. Semangat inilah yang terasa hidup dalam Workshop Bahasa Isyarat di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada hari Jumat (25/9). Menjadi bagian dari rangkaian Suluh Sumurup Art Fest 2026, acara ini hadir untuk membuka ruang seni yang lebih ramah dan inklusif bagi siapa saja. 

Dari Abjad Jari hingga Ngobrol Langsung 

Dalam sesi pelatihan bahasa isyarat ini, para peserta diajak tidak hanya mengenali gerakan tangan, tetapi juga diajarkan mengenai etika serta cara berkomunikasi yang tepat. Sejak awal, pemandu memberikan petunjuk teknis mengenai gerakan isyarat dasar, mulai dari ucapan salam seperti selamat siang hingga tata cara memperkenalkan diri.

Pengenalan dilakukan secara bertahap, diawali dengan bentuk-bentuk huruf atau abjad jari. Setelah menguasai alfabet dasar tersebut, para peserta langsung mempraktikkannya dengan memperagakan kalimat perkenalan diri menggunakan bahasa isyarat.

Mengapa Pengajar Harus dari Komunitas Tuli? 

Di tengah antusiasme peserta, salah satu poin penting yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah standar operasional (SOP) pembelajaran bahasa isyarat. Broto Wijayanto dari komunitas BaWayang, sebagai pemandu acara, menegaskan bahwa pengajar bahasa isyarat yang ideal dan berhak mengajarkan bahasa ini adalah Teman Tuli itu sendiri, bukan Teman Dengar.

“Pengalaman ini akan sangat terasa bagi kalian. Dulu saya juga tidak bisa berisyarat dan komunikasi terasa sangat berbeda. Namun, ketika bertemu langsung dengan Teman Tuli, proses pemahaman bahasa isyarat justru menjadi jauh lebih cepat,” ujar Broto.

Broto juga mengingatkan agar teman dengar yang telah menguasai bahasa isyarat tidak secara sembarangan membuka kelas bahasa isyarat sendiri tanpa melibatkan komunitas Tuli, guna menghormati kepemilikan budaya dan bahasa tersebut.

Suasana pelatihan semakin interaktif ketika para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok didampingi langsung oleh teman tuli untuk belajar bersama. Dalam kelompok ini, peserta tidak hanya mendalami cara perkenalan diri, tetapi juga mempelajari kata-kata tanya seperti apa, kenapa, bagaimana, siapa, hingga ragam ungkapan sehari-hari seperti ucapan selamat dan kalimat sapaan lainnya.

Melihat respons yang ada, Broto menyampaikan rasa senangnya atas antusiasme para pengunjung yang hadir. Banyak dari mereka yang bahkan meminta agar kelas pembelajaran bahasa isyarat bisa dilanjutkan lebih dalam.

“Harapannya ke depan, kami dari BaWayang Production bisa menyebarkan budaya Tuli kepada siapa pun. Bahasa isyarat ini tidak boleh menjadi bahasa yang eksklusif milik Teman Tuli saja, melainkan milik bersama. Ketika masyarakat umum mampu belajar dan berkomunikasi, kesetaraan yang menjadi cita-cita utama dapat terwujud dan keberadaan Teman Tuli diterima secara luas,” tambah Broto.

Membangun Empati dan Ruang Seni yang Inklusif 

Pengalaman berharga ini juga dirasakan langsung oleh Alicia Ainingtyas, salah satu peserta yang hadir karena diajak oleh dua rekan tulinya, Dino dan Pandu. Berawal dari keinginan untuk memperdalam bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi lebih lancar dengan teman-temannya, Alicia mengaku mendapatkan kesan yang sangat luar biasa selama pelatihan.

“Di workshop ini tidak hanya diajarkan teorinya, tetapi langsung dipraktikkan. Ini sangat membantu membiasakan tangan saya untuk memperagakan gerakan isyarat,” ungkap Alicia.

Meski mengapresiasi tinggi dampak positif dari pelatihan ini, ia berharap jangkauan publikasi acara serupa dapat diperluas ke depannya. “Informasinya masih kurang luas, jadi masih banyak orang yang belum tahu. Semoga workshop seperti ini bisa terus berkembang dan dikenal lebih banyak orang,” tambahnya.

Melalui interaksi langsung dan suasana belajar yang hangat, workshop ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis gerakan tangan, tetapi juga menjadi sarana nyata dalam membangun empati serta meruntuhkan sekat komunikasi antara masyarakat luas dan teman Tuli. Harapannya, inisiatif edukatif semacam ini dapat memperluas aksesibilitas di panggung seni dan budaya, sehingga setiap karya dapat dinikmati secara setara tanpa hambatan interaksi.