(Yogyakarta, 29/08/2026) — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY kembali mempersembahkan Serenade Bunga Bangsa XII . Mengusung tajuk “Aksaranada Mahardhika”, konser orkestra dan paduan suara sarat muatan sejarah perjuangan ini digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Jumat, 28 Agustus 2026. Sajian musik ini merajut harmoni simfoni dan tradisi lokal sebagai sarana edukasi bangsa guna merawat memori kolektif masyarakat terhadap kemerdekaan Indonesia.
Deretan kursi dipadati antusiasme para pencinta seni yang datang dengan berbagai cerita, tak sedikit yang baru pertama kali menyaksikan pergelaran orkestra ini secara langsung, sementara sebagian lainnya hadir khusus untuk mendukung rekan sejawat yang unjuk kebolehan di barisan musisi. Kehadiran mereka yang memenuhi seisi Concert Hall seketika menyulap suasana menjadi ruang dengar yang hangat.
Misi Edukasi dan Tiga Pilar Nilai Kebudayaan
Sebelum repertoar utama dimainkan, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa pergelaran ini memiliki misi strategis dalam mengedukasi generasi muda melalui seni musik simfoni.
“Konser ini berfokus pada upaya menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan perjuangan yang diambil dari peristiwa bersejarah yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta maupun di Indonesia kepada masyarakat, sekaligus memperkenalkan khazanah budaya Indonesia dan Daerah Istimewa Yogyakarta melalui lagu-lagu,” ujar Dian.

Lebih jauh, Dian mengungkapkan bahwa tajuk Aksaranada Mahardhika merefleksikan tiga pilar penting, yakni peringatan kemerdekaan Republik Indonesia serta momentum 12 tahun disahkannya UU Keistimewaan DIY. Selain itu, pilar ketiga bertepatan dengan pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) oleh Pemda DIY pada 13 September mendatang di Sleman yang secara khusus mengangkat tema bahasa dan aksara.
Fondasi Intelektual untuk Rawat Kemerdekaan
Mewakili Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), K.G.P.A.A. Paku Alam X, Asisten Sekretariat Daerah DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Aria Nugrahadi, S.T., M.Eng., hadir membacakan sambutan resmi sekaligus membuka agenda kebudayaan tersebut. Dalam sambutan tertulisnya, Wagub DIY menekankan kedalaman filosofis di balik tajuk Aksaranada Mahardhika. Setiap kata dinilai memiliki ikatan emosional dan historis yang kuat bagi fondasi bangsa.
“Aksara adalah sumber ilmu; dari aksara manusia mengenal sejarah, membaca tanda zaman, dan merawat ingatan bangsa. Nada adalah suara yang tertata; dari nada terlahir harmoni, rasa, dan kemampuan untuk saling mendengar. Sedangkan Mahardika adalah kemerdekaan; keadaan di mana jiwa dan bangsa mampu berdiri tegak dengan martabatnya sendiri,” urai Aria.
Ia menegaskan perpaduan ketiga elemen ini membawa pesan utama bahwa kemerdekaan sejati harus senantiasa dirawat dengan fondasi ilmu, kehalusan rasa, dan kesadaran sejarah.

Aria menutup sambutan dengan menyampaikan harapan agar Aksaranada Mahardhika dapat meneguhkan generasi muda untuk terus mencintai Indonesia melalui pengetahuan, harmoni, serta rasa tanggung jawab, sekaligus mengucapkan selamat menikmati setiap alunan nada dan meresapi seluruh maknanya.
Eksplorasi Simfoni dan Repertoar Komponis Muda DIY
Usai sambutan, panggung Concert Hall langsung diambil alih oleh kemegahan Serenade Bunga Bangsa XII yang dipimpin oleh konduktor Eki Satria. Penampilan malam itu kian istimewa lewat kolaborasi dua solois tamu, yaitu Jaeko Siena yang meniupkan nyawa tradisi melalui instrumen etnis ke dalam format orkestra, serta violinis Eko Balung yang tampil eksploratif lewat gesekan biola dinamis.
Terkait materi pertunjukan, repertoar musik malam itu dirancang khusus untuk memperkuat literasi dan memori kolektif masyarakat terhadap peran historis DIY bagi Indonesia. Sebanyak 90 musisi hasil kurasi dan audisi membawakan deretan karya komponis muda DIY, di antaranya Merdeka atau Mati, Aji Saka, dan Surat dari Ibu.
Resonansi Emosional dari Panggung hingga Penonton
Sepanjang pertunjukan berlangsung, para penonton tampak terkesima dan larut dalam kedalaman emosi setiap komposisi. Perpaduan harmonis antara tiupan instrumen etnis, gesekan biola yang memikat, serta megahnya orkestra dan paduan suara sukses membius seisi ruangan. Suasana hening penuh penghayatan seketika pecah menjadi gemuruh tepuk tangan meriah saat nada terakhir rampung dimainkan.

Kesan mendalam tersebut turut dirasakan langsung oleh para penonton yang hadir, salah satunya Najwa. Penggemar pertunjukan orkestra yang datang sekaligus untuk mendukung rekannya sebagai pemain biola ini mengaku sangat terharu sepanjang penampilan berlangsung.
“Kesannya sangat bagus dan indah sekali. Di setiap lagu saya sampai berkaca-kaca karena saking memukaunya penampilan mereka,” ungkap Najwa. Najwa juga berharap perhelatan serupa dapat digelar lebih rutin ke depannya.
Dari sudut pandang pengisi acara, pengalaman berharga turut dirasakan oleh salah satu pemain Violin 1, Sheila Sanjaya. Baginya, panggung Serenada Bunga Bangsa edisi kali ini menghadirkan kesan yang sangat menyenangkan sekaligus memperkaya wawasan musikalitasnya.
“Pengalaman kali ini menyenangkan karena membawakan karya dan komposisi baru. Kami belajar bagaimana para komposer memuliakan karya sastra hingga menerjemahkannya ke dalam harmoni musik,” tutur Sheila.
Serenade Bunga Bangsa XII membuktikan diri bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan ruang simfoni yang menghidupkan kembali akar sejarah dan identitas kebangsaan. Lewat lantunan Aksaranada Mahardhika, jalinan nada dan aksara bertaut menjadi jembatan rasa yang menyentuh hati penikmatnya, merawat ingatan kolektif sekaligus meneguhkan komitmen generasi penerus untuk menjaga makna kemerdekaan melalui kepekaan rasa dan harmoni.