(Yogyakarta, 10/06/2026) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menyelenggarakan dialog interaktif, yaitu Sarasehan Masyarakat Tari Yogyakarta (MASTARYO) Edisi Juni 2026 pada Rabu (10/06). Bertempat di Ruang Seminar TBY, sarasehan kali ini mengangkat tema krusial: “Setelah Otentisitas: Tari Indonesia di Era Reproduksi Digital dan Pasar Seni Global”. Forum ini menjadi ruang refleksi kritis bagi para pelaku seni untuk melihat kembali eksistensi serta arah gerak tari tradisional maupun kontemporer di tengah gempuran teknologi modern.
Menegosiasikan Otentisitas di Ruang Virtual

Koordinator Mastaryo, Galih Prakasiwi, menjelaskan dalam sambutannya bahwa tantangan yang dihadapi oleh koreografer masa kini sudah jauh berbeda dengan para maestro terdahulu. Jika generasi pendahulu melakukan perubahan besar pada zamannya, maka generasi hari ini harus berhadapan dengan realitas baru yang kompleks.
“Bagaimana koreografer hari ini bernegosiasi dengan tantangan berbeda, yakni logika platform digital, pasar kesenian secara global, dan tuntutan konten yang mudah dikonsumsi? Apakah kategori autentisitas yang selama ini menjadi landasan penilaian estetika tari Indonesia masih bisa dipertahankan, atau justru perlu tarik ulur untuk memperoleh kemungkinan ruang baru?” ujar Galih.

Menanggapi hal tersebut, koreografer muda sekaligus pendiri platform Beksans, Hanif Joaniko, mengungkapkan pandangannya mengenai esensi autentisitas bagi seniman generasi sekarang. Menurut Hanif, pencarian jati diri dan hal yang betul-betul autentik adalah proses tanpa akhir yang terus dialami oleh para koreografer saat ini. Ia menilai tantangan terbesar bagi seniman tari era sekarang bukanlah hilangnya tradisi, melainkan ketidakpastian (uncertainty) dalam mempertemukan karya tradisional dengan audiens baru di ruang digital.
Di sisi lain, Hanif juga menyayangkan masih banyaknya hasil riset penting mengenai teknik tari tradisional yang mandek di perpustakaan institusi dan tidak tersampaikan ke publik. Salah satu contohnya adalah riset anatomi tubuh dalam tari Jawa milik almarhum maestro Miroto. Menurutnya, pemahaman ilmiah mengenai teknik tersebut sangat disayangkan jika tidak diketahui oleh penari Jawa itu sendiri.
Lahirnya Tubuh Layar dalam Estetika Modern
Jeannie Park, salah satu pembicara seminar, mengupas lebih dalam tentang bagaimana platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah menggeser sekat pertunjukan konvensional. Melalui ruang virtual tersebut, lahirlah konsep screen body atau tubuh layar, di mana pelestarian dan apresiasi tari kini bertumpu pada visualisasi teknologi.
Kamera kini bukan lagi sekadar alat dokumentasi pasif, melainkan bagian utuh dari pertunjukan itu sendiri. Eksplorasi estetika tari masa kini pun mulai melibatkan manipulasi cahaya hingga distorsi digital seperti fragmentasi, repetisi, glitch, layering, dan delay. Kendati teknologi ini mempermudah masyarakat untuk menikmati seni tari secara instan, fenomena ini memicu pertanyaan mendasar mengenai esensi dari tubuh penari ketika bertransformasi ke bentuk digital.
“Pertanyaannya adalah bagaimana tubuh tetap membawa pengalaman dan memori budaya dalam ruang digital,” tutur Jeannie.
Namun, ia menegaskan bahwa konsep screen body bukan bertujuan untuk menggantikan kehadiran fisik manusia di atas panggung, melainkan sebagai ruang negosiasi baru agar seniman tetap relevan dengan zaman. “Tubuh tari hari ini hidup di antara panggung dan layar,” tegasnya.

Kecerdasan Buatan (AI) Sebagai Rekan, Bukan Majikan
Masuknya teknologi mutakhir seperti Artificial Intelligence (AI) juga memicu diskusi hangat. Bagi koreografer dan seniman tari Erwin Mardiansyah, kehadiran AI adalah realitas yang tidak bisa dihindari, namun kendali penuh harus tetap berada di tangan manusia. Erwin memilih menempatkan AI sebagai rekan bertukar pikiran dalam menggali konsep kreatif.
Erwin menambahkan bahwa otentisitas ketubuhan seorang penari tidak akan pernah tumbuh dari ruang digital, melainkan dari pembiasaan sehari-hari dan latar belakang lingkungan tempatnya tumbuh, seperti bagaimana perbedaan geografis antara masyarakat pegunungan dan pesisir secara alami membentuk gestur tubuh yang berbeda. Senada dengan Erwin, Hanif juga melihat AI sebagai alat bantu efisien untuk manajemen media dan konsep awal, walau ia menyayangkan ketertinggalan adopsi teknologi pertunjukan di dalam negeri jika dibandingkan dengan negara lain.

Tantangan AI ini juga ditanggapi secara tegas oleh Jeannie, perwakilan dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK). Menurut Jeannie, secanggih apa pun teknologi visual atau teks yang ditawarkan oleh AI, hal tersebut tidak akan pernah bisa menggantikan pengalaman langsung (embodied experience) dan nilai-nilai kemanusiaan (human-based principles) dalam berkesenian.
“Teknologi tetap menjadi alat bantu, tapi aspek humanity-nya, kepekaannya, jangan sampai hilang. Jangan kita yang sangat tergantung hingga menjadi budak teknologi (we become the slave),” tutur Jeannie, seraya mengutip pesan maestro Bagong Kussudiardja agar seniman selalu aktif berkebudayaan dan mencari faktor penentu (why factor), bukan sekadar mereproduksi budaya secara pasif.
Menjaga Tradisi dan Esensi Ketubuhan
PSBK sendiri terus mengkaji relevansi seni pertunjukan pasca-pandemi COVID-19 yang menuntut seniman kembali memperhitungkan interaksi langsung dengan penonton. Bagi padepokan, aspek hosting (penyambutan) hangat khas tradisi Jawa dan kehangatan ruang jabat antarmanusia adalah hal-hal organik yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh robot atau teknologi digital sesempurna apa pun.
Hal ini memperkuat posisi seni tari tradisional di kancah internasional. Erwin menegaskan bahwa orisinalitas tradisi justru menjadi kekuatan utama sekaligus senjata seniman Indonesia di luar negeri, sehingga penggunaan teknologi modern bukanlah syarat mutlak agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Di tengah optimisme tersebut, suasana sarasehan sempat diwarnai duka atas berpulangnya penari asal Merauke, Mas Yohan, serta kabar kondisi kesehatan suami Mbak Jeannie, Mas Martin, yang sedang berjuang pulih dari stroke ringan dan gangguan jantung. Menanggapi realitas ini, pengamat seni senior, Sal Murgiyanto, mengingatkan seluruh anak muda kreatif di bidang tari untuk lebih mawas diri dalam menjaga kesehatan fisik mereka.
“Tari itu alat utamanya adalah tubuh Anda. Medianya gerak, alatnya tubuh Anda sendiri. Maka, jagalah aset paling berharga tersebut,” pesan Sal.
Sebagai penutup, Sal Murgiyanto menegaskan bahwa generasi muda harus mengambil kendali penuh atas perkembangan teknologi, bukan malah dikendalikan olehnya. Ia juga mendorong institusi seperti Taman Budaya untuk aktif memfasilitasi workshop dan festival yang mempertemukan seni tari dengan teknologi interaktif.

Lebih dari sekadar urusan digitalisasi, Sal menitipkan tiga landasan utama bagi para koreografer muda, Kebenaran (Truth), Keindahan (Beauty), dan Kebaikan (Goodness). Di tengah fenomena sosial saat ini, di mana batasan antara kebenaran dan pembenaran makin kabur, ia memberikan tantangan terbuka bagi para seniman muda.
“Kebenaran itu sesuatu yang susah sekali, bukan pembenaran. Berani tidak Anda menentang arus demi mementingkan kebenaran, atau Anda takut untuk hidup dan selamat hanya untuk mencari uang?” tantang Sal.
Bagi Sal, esensi dari sebuah tarian lahir dari kejujuran dan ketulusan rasa di dalam diri seniman, sebuah otentisitas sejati. Ia mengajak para pelaku seni untuk meneladani filosofi hidup prihatin ala Eyang Suryomentaram dalam mencari kebenaran hakiki melalui karya, ketimbang sekadar mengejar tampilan fisik atau materi semata.
Sarasehan MASTARYO Edisi Juni 2026 ini pada akhirnya bukan sekadar ruang diskusi, melainkan sebuah alarm pengingat bagi tari di Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan intervensi kecerdasan buatan, tubuh penari dituntut untuk tidak kehilangan jiwanya di balik layar kaca. Menjaga otentisitas tradisi bukan berarti menutup mata dari kemajuan zaman, melainkan bagaimana seniman mampu menunggangi teknologi tanpa harus kehilangan kemanusiaannya. Seperti pesan mendalam yang ditinggalkan dalam forum ini: keindahan tari digital boleh saja memikat mata dunia, namun kejujuran rasa, kebaikan, dan kebenaranlah yang akan menjaga roh tari Indonesia tetap hidup melintasi generasi.