(Yogyakarta, 22/10/2026) — Dinamika kesenian rupa di Indonesia kembali menjadi sorotan dalam diskusi publik bertajuk “Polemik Seni Pasca Reformasi” yang digelar pada Kamis (22/10) pukul 15.00 WIB bertempat di Selasar Ruang Pameran, Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Diskusi yang diprakarsai oleh Nandur Srawung #13 ini membedah kembali pergolakan wacana seni rupa yang pernah mengemuka pada awal dekade 2000-an.
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Bagus Purwoadi (dosen Institut Kesenian Jakarta sekaligus kurator Galeri Cemara) dan Nirwan Dewanto (sastrawan, kurator, dan penulis), dengan moderator Febrian A. Hasibuan yang juga merupakan seorang kurator Nandur Srawung #13.
Pentingnya Polemik dalam Wacana Kebudayaan
Mengawali sesi diskusi, Febrian A. Hasibuan menyampaikan bahwa polemik dalam dunia seni merupakan elemen penting dalam pendewasaan wacana kebudayaan. Meskipun perdebatan tersebut telah berlangsung lebih dari dua dekade, pertanyaan dasar mengenai pendekatan, perspektif, dan kerangka analisis karya seni tetap relevan hingga saat ini.
“Polemik sering kali tidak pernah selesai secara mutlak, tetapi ia membuka kecenderungan baru, menguji kembali batas-batas gagasan, dan memunculkan cara pandang yang lebih segar,” ujar Febrian.
Pergeseran Pendekatan Kurikulum Seni Rupa
Bagus Purwoadi menjelaskan bahwa pengajaran sejarah seni rupa Indonesia di tempatnya mengajar kini mengalami reposisi pendekatan. Jika sebelumnya materi ditarik jauh dari era prasejarah, kurikulum terkini cenderung difokuskan pada periode modern dan kontemporer. Pendekatan yang diambil dalam perkuliahan menekankan pada dimensi politis. Menurutnya, seni rupa tidak pernah berdiri di ruang hampa, melainkan selalu bergulir dan berinteraksi erat dengan peristiwa-peristiwa politik di sekitarnya.
“Kami membicarakan bagaimana seni itu bergulir dari peristiwa-peristiwa politik yang berkembang di sekitarnya,” ujar Bagus.
Namun, ia menyoroti tren wacana pascareformasi yang cenderung didominasi oleh kritik institusional pada perhelatan besar seperti Jogja Biennale dan Art Jakarta. Akibatnya, kritik formalis yang mengulas estetika dan genealogi karya menjadi terabaikan.
Ketimpangan Kurikulum, Keterbatasan Ruang Diskusi di Kampus
Bagus menilai ketiadaan kritik formalis serta struktur kurikulum yang terlalu berorientasi pada aspek teknis menjadi kendala utama dalam pengembangan wacana di kampus. Mata kuliah berbasis sosiologi seni umumnya hanya berbobot 3 SKS, sehingga pembekalan perspektif sosial-politik bagi mahasiswa menjadi minim.
“Pada akhirnya, materi-materi yang berkaitan dengan isu-isu politik sosial di dalam lingkungan seni rupa itu tidak terlalu tertanam pada mahasiswa, karena mereka lebih banyak waktu belajarnya untuk mempelajari teknis,” tutur Bagus.
Kilas Balik Pertarungan Gagasan Seni di Indonesia
Nirwan Dewanto mengulas kilas balik pertarungan gagasan seni dan kebudayaan di Indonesia dari masa ke masa. Nirwan menceritakan pada tahun 1930-an, perdebatan wujud kebudayaan nasional antara Sutan Takdir Alisjahbana (modernisasi dan kebebasan individu) melawan Ki Hajar Dewantara serta Sanusi Pane (kebudayaan lokal dan pendidikan rasa).
Kemudian, memasuki 1940-an hingga 1950-an, pertarungan gagasan berlanjut saat kelompok Tiga Menguak Takdir (karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani) dan Sudjojono menghadirkan seni modern sebagai kritik disonan terhadap optimisme modernisasi.
Lebih lanjut, Nirwan memaparkan tahun 1970-an, ketika lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), Gerakan Desember Hitam, dan Puisi Mbeling sebagai bentuk perlawanan terhadap narasi tunggal kebudayaan. GSRB dinilai sebagai wujud postmodernisme avant la lettre yang meruntuhkan batasan seni tinggi dan rendah melalui karya konseptual.
Integrasi Formalisme dan Cultural Studies Hari Ini
Perkembangan wacana seni saat ini semakin diperkaya oleh kehadiran pendekatan Cultural Studies yang mendobrak sekat-sekat seni tinggi (high art). Tokoh seperti Sanento Yuliman menjadi figur penting yang berhasil memadukan formalisme (analisis bentuk karya) dengan sosiologi seni (kajian konteks sosial-budaya). Penggabungan ini membentuk pola kerja dunia seni rupa kontemporer, sehingga pameran kini menjalankan dua fungsi sekaligus.
Nirwan menyoroti bahwa seniman dan kurator masa kini menggabungkan aspek estetika dan respons sosial dalam karya mereka.
“Kalau kita melihat gejala seni rupa kita sekarang, sebenarnya setiap seniman, setiap kurator, dan setiap pameran itu menjalankan dua hal sekaligus, yaitu formalisme untuk menyeleksi kelayakan estetik karya dan kritik Cultural Studies menjadikan pameran sebagai jawaban etis atas berbagai persoalan sosial-masyarakat,” ungkap Nirwan.
Diskusi bertajuk Polemik Seni Pasca Reformasi ini menegaskan bahwa perdebatan dalam dunia seni bukanlah sekadar perbedaan pandangan di masa lalu, melainkan fondasi penting bagi perkembangan wacana seni hari ini. Melalui integrasi antara kritik estetik dan kepekaan sosial, para pelaku seni diharapkan dapat terus melahirkan karya yang tidak hanya matang secara visual, tetapi juga berdaya kritis dalam merespons dinamika masyarakat.