(Yogyakarta, 16/04/2026) — Pernah merasa apa yang muncul di layar ponsel bukan sepenuhnya pilihan kita, melainkan seperti telah diseleksi oleh sistem tak kasatmata yang perlahan mengarahkan apa yang kita baca, tonton, bahkan pikirkan? Kegelisahan semacam itu menjadi titik tolak Sarasehan Budaya bertajuk Mengurai Akar, Melawan Arus: Medan Sastra di Hadapan Kuasa Algoritma yang digelar di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kamis (16/04), sebuah forum yang sejak awal memang diniatkan sebagai ruang refleksi bersama di tengah derasnya arus digital.

Dalam suasana yang hangat namun penuh perenungan, diskusi ini segera mengerucut pada satu persoalan besar, yakni bagaimana sastra kini berada di persimpangan yang tidak sederhana, sebab di satu sisi ia tetap dituntut menjaga kedalaman makna, sementara di sisi lain ia dihadapkan pada logika baru yang mengukur keberhasilan melalui angka likes, shares, views, hingga engagement yang terus bergerak cepat dan sering kali terasa menentukan arah perhatian publik.

Moderator Heru Joni Putra membuka percakapan dengan nada yang cukup kritis, sekaligus mengajak peserta untuk melihat perubahan cara pandang terhadap karya sastra di era digital, di mana menurutnya tekanan terhadap penulis kini tidak lagi semata soal kualitas isi, melainkan juga soal bagaimana karya tersebut mampu bertahan dalam arus algoritma yang serba kompetitif.

“Sekarang penulis seperti dikejar oleh angka, dan situasi ini membuat karya seolah-olah baru dianggap ‘ada’ ketika ia viral, ketika ia mendapatkan banyak klik dan dibagikan secara luas. Padahal, jika kita kembali pada esensinya, sastra tidak pernah dibangun di atas logika angka, melainkan tumbuh dari kedalaman pengalaman dan proses yang tidak selalu bisa diukur secara instan,” ujarnya, sembari menegaskan bahwa perubahan ini perlahan membentuk cara berpikir yang berpotensi menyamakan kualitas dengan popularitas.

Dari titik itulah diskusi berkembang, menghadirkan empat narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi, yakni Amanatia Junda sebagai penulis, Endah Raharjo sebagai penerjemah, Katrin Bandel sebagai akademisi, serta Ni Made Purnamasari sebagai penyiar, yang masing-masing tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga menghadirkan kegelisahan yang berkelindan dalam satu benang merah: bagaimana menjaga makna di tengah percepatan.

Ni Made Purnamasari, misalnya, membawa peserta pada suasana yang lebih personal ketika ia mengajak untuk menengok kembali masa lalu, saat proses berkarya tidak secepat sekarang, tetapi justru menghadirkan pengalaman emosional yang lebih dalam karena adanya jarak dan penantian.

“Dulu kita mengirim puisi lewat pos, dan di situ ada waktu tunggu yang panjang, ada rasa deg-degan menanti apakah karya kita akan sampai dan dibaca. Proses itu memang tidak instan, tetapi justru di situlah letak kedalaman pengalaman berkesenian, karena kita benar-benar menjalani setiap tahapnya dengan penuh kesadaran,” tuturnya, sebelum kemudian mengaitkan refleksi tersebut dengan kondisi hari ini yang serba cepat dan serba instan.

Ia pun melanjutkan dengan nada yang lebih reflektif, bahwa kemudahan akses saat ini memang membuka banyak kemungkinan, namun sekaligus menghadirkan pertanyaan baru tentang posisi puisi di tengah banjir konten digital yang lebih ringan dan cepat dikonsumsi.

“Sekarang semuanya ada di layar, dan kita bisa membaca apa saja dalam hitungan detik, tetapi justru di situlah muncul pertanyaan, apakah puisi masih benar-benar ‘berbunyi’ di masyarakat, atau justru tenggelam di antara konten-konten cepat yang lebih mudah menarik perhatian,” lanjutnya, menegaskan bahwa tantangan hari ini bukan hanya menciptakan karya, melainkan juga memastikan karya itu tetap memiliki ruang untuk dimaknai.

Berbeda dengan pendekatan reflektif tersebut, Amanatia Junda justru menawarkan sudut pandang yang lebih adaptif, dengan mengakui bahwa teknologi, termasuk AI, tidak bisa sepenuhnya dihindari dan bahkan dalam beberapa hal dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses kreatif.

“Kalau jujur, saya juga menggunakan AI dalam menulis, dan kadang saya menganggapnya seperti teman diskusi yang bisa membantu menyusun struktur, memberi alternatif sudut pandang, atau sekadar membuka kemungkinan baru yang sebelumnya tidak terpikirkan,” ungkapnya, sembari menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi ancaman jika digunakan secara sadar.

Namun demikian, ia tidak menutup mata terhadap dampak yang muncul dari penggunaan teknologi tersebut, terutama ketika akses yang seragam justru melahirkan pola yang seragam pula dalam gagasan dan gaya penulisan.

“Masalahnya muncul ketika semua orang mengakses sumber yang sama dengan cara yang sama, karena lama-lama ada keseragaman yang tidak terhindarkan. Ide-ide terasa mirip, gaya penulisan tidak jauh berbeda, dan di situlah saya mulai merasa lelah, karena orisinalitas seolah perlahan terkikis,” lanjutnya, menegaskan bahwa teknologi seharusnya tetap ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti intuisi.

Kekhawatiran yang lebih konkret kemudian disampaikan oleh Endah Raharjo, yang melihat langsung bagaimana teknologi mulai memengaruhi praktik penerjemahan, terutama dengan semakin banyaknya penggunaan mesin penerjemah otomatis yang dianggap lebih efisien.

“Sekarang banyak lembaga beralih ke mesin karena lebih cepat dan lebih murah, tetapi persoalannya bahasa tidak sesederhana itu, karena dalam menerjemahkan kita tidak hanya memindahkan kata, melainkan juga membawa konteks budaya, emosi, dan cara pandang yang menyertainya,” jelasnya, sembari menekankan bahwa ada lapisan makna yang tidak bisa ditangkap oleh mesin.

Ia pun menambahkan dengan tegas bahwa di dalam bahasa terdapat “ruh” yang hanya bisa dihadirkan oleh manusia melalui pengalaman hidupnya, sehingga kehadiran teknologi tetap memiliki batas yang tidak bisa dilampaui sepenuhnya.

Sebagai penutup, Katrin Bandel mengajak peserta untuk melihat persoalan ini dari sudut yang lebih struktural, dengan menyoroti bagaimana platform digital sebenarnya tidak pernah benar-benar netral, karena memiliki format dan logika yang secara tidak langsung membentuk cara orang berekspresi.

“Platform seperti Instagram atau Facebook itu punya pola yang tanpa kita sadari mengarahkan cara kita menulis dan menyampaikan gagasan, sehingga banyak karya akhirnya menyesuaikan diri menjadi lebih pendek, lebih cepat, dan sering kali kehilangan kedalaman,” paparnya, sebelum kemudian menawarkan bentuk perlawanan yang sederhana namun mendasar.

“Kita perlu kembali pada praktik slow reading, yaitu membaca dengan pelan dan penuh perhatian, karena hanya dengan cara itu kita bisa benar-benar memahami dan merasakan sebuah teks. Di era yang serba cepat, justru praktik ini menjadi bentuk perlawanan yang paling nyata,” pungkasnya, seolah menutup diskusi dengan ajakan untuk kembali pada esensi membaca.

Melalui sarasehan ini, Taman Budaya Yogyakarta tidak hanya menghadirkan forum diskusi, tetapi juga membuka ruang bagi berbagai kegelisahan untuk dipertemukan, sehingga dari sana muncul kesadaran bahwa sastra tidak bisa sepenuhnya tunduk pada logika algoritma.

Pada akhirnya, di tengah kepungan sistem yang terus bergerak cepat, sastra tetap menemukan tempatnya sebagai ruang kemanusiaan, tempat pengalaman, rasa, dan makna dirawat dengan kesabaran, sehingga selama masih ada yang membaca dengan sungguh-sungguh dan menulis dengan jujur, sastra akan terus hidup—meski harus berjalan melawan arus.