(Yogyakarta, 8/03/2026) — Peringatan Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret menjadi momentum untuk menyoroti kiprah perempuan di berbagai bidang kehidupan. Di tengah beragam profesi yang kini digeluti perempuan, ada pula mereka yang memilih jalan sunyi untuk menjaga tradisi. Di Yogyakarta, semangat itu tercermin dari sosok dalang perempuan muda, Rizki Rahma Nur Wahyuni.

Di balik kelir pertunjukan Wayang Kulit, Rahma begitu ia akrab disapa menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan dengan penuh penghayatan. Tangan kirinya memainkan wayang, tangan kanannya mengatur ritme cerita, sementara suaranya berganti-ganti memerankan berbagai karakter. Dalam satu pertunjukan, ia bukan hanya seorang pencerita, tetapi juga penghidup dunia pewayangan yang sarat nilai dan filosofi kehidupan.

Kehadiran Rahma di dunia pedalangan menjadi sesuatu yang menarik perhatian. Dunia dalang dalam tradisi Jawa selama ini memang lebih banyak diisi oleh laki-laki. Profesi ini menuntut kemampuan yang tidak sederhana: menguasai puluhan karakter suara, memahami struktur cerita klasik, hingga memiliki stamina untuk memimpin pertunjukan yang bisa berlangsung berjam-jam. Namun bagi Rahma, dunia itu justru menjadi ruang yang ingin ia jelajahi dan tekuni.

Perjalanan Rahma sebagai dalang tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia seni. Sejak kecil, suara gamelan dan kisah-kisah epik dari dunia pewayangan sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Ia kerap menyaksikan pertunjukan wayang dan perlahan mulai mengenal tokoh-tokoh seperti para ksatria Pandawa, Kurawa, hingga punakawan yang jenaka namun penuh makna.

Ketertarikannya pada pedalangan mulai tumbuh ketika ia duduk di bangku sekolah dasar. Bersama kakaknya, Rahma mulai belajar memainkan wayang secara sederhana. Dari sekadar memegang wayang di balik kelir, ia kemudian mempelajari bagaimana mengatur dialog, menghidupkan karakter, hingga memahami alur cerita dalam lakon-lakon klasik.

Semakin lama, dunia pedalangan bukan lagi sekadar hobi baginya, tetapi menjadi panggilan yang ingin ia jalani dengan serius. Ia terus memperdalam pengetahuan tentang teknik mendalang, khususnya dalam tradisi pedalangan gaya Yogyakarta yang kaya dengan pakem dan nilai filosofi.

Ketika Rahma tampil di panggung, tidak sedikit penonton yang merasa terkejut. Dari balik kelir, suara yang lantang dan karakter yang kuat sering membuat orang mengira dalangnya adalah laki-laki. Baru ketika pertunjukan selesai, banyak yang menyadari bahwa sosok yang memimpin cerita tersebut adalah seorang perempuan muda.

Di situlah Rahma menunjukkan bahwa batas-batas dalam tradisi bisa dilihat dengan cara yang lebih terbuka. Baginya, pedalangan bukan tentang siapa yang memainkan, melainkan tentang bagaimana cerita-cerita warisan leluhur itu terus hidup dan sampai kepada generasi berikutnya.

Selain tampil dalam berbagai pertunjukan, Rahma juga memiliki kepedulian besar untuk mengenalkan wayang kepada generasi muda. Ia aktif terlibat dalam kegiatan edukasi budaya dan workshop yang mengajak anak-anak mencoba langsung memainkan wayang.

Menurutnya, pengalaman langsung sangat penting agar anak-anak tidak merasa jauh dari seni tradisi. Ketika mereka memegang wayang, merasakan suara gamelan, dan mencoba berdialog sebagai tokoh pewayangan, di situlah ketertarikan terhadap budaya mulai tumbuh.

Langkah kecil semacam ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi di tengah arus modernisasi yang begitu cepat. Rahma percaya bahwa masa depan wayang sangat bergantung pada seberapa jauh generasi muda merasa memiliki kesenian tersebut.

Dalam konteks yang lebih luas, kiprah Rahma juga mencerminkan semangat yang dibawa oleh Hari Perempuan Internasional: membuka ruang yang setara bagi perempuan untuk berkarya dan berkontribusi. Kehadirannya di dunia pedalangan bukan hanya memperkaya perspektif dalam seni tradisi, tetapi juga menghadirkan inspirasi bagi banyak orang.

Melalui tangan dan suaranya di balik kelir, Rahma tidak sekadar memainkan tokoh-tokoh pewayangan. Ia juga merawat nyala budaya membuktikan bahwa tradisi dapat terus hidup ketika ada generasi yang mau menjaganya.

Di tengah perubahan zaman, sosok seperti Rizki Rahma menjadi pengingat bahwa semangat perempuan dan kekuatan budaya dapat berjalan beriringan. Dari balik kelir yang sederhana, ia menjaga agar cerita-cerita lama tetap memiliki tempat di hati generasi masa kini.