(Yogyakarta, 23/06/2026) — Aroma kuliner tradisional kembali memenuhi kawasan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) saat Pasar Kangen 2026 resmi dibuka pada Senin (22/6/2026). Gelaran tahunan yang menjadi salah satu ikon budaya Yogyakarta ini akan berlangsung selama tujuh hari, hingga 28 Juni 2026, menghadirkan ruang perjumpaan antara nostalgia, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya.
Mengusung tema “Ono Upoyo Ono Upo”, Pasar Kangen tahun ini menegaskan kembali filosofi kerja keras dan keberlanjutan hidup dalam tradisi Jawa: bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan berbuah hasil dan keberkahan.
Ratusan UMKM Tampil Setelah Seleksi Ketat
Tahun ini, Pasar Kangen TBY 2026 menghadirkan sekitar 300 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang telah lolos proses kurasi dari total 687 pendaftar. Proses seleksi dilakukan untuk memastikan kualitas produk, keberagaman, serta konsistensi pada nilai-nilai tradisi yang diusung dalam gelaran ini.
Para peserta terbagi ke dalam dua klaster utama, yakni:
135 stan kerajinan dan produk kreatif, yang menampilkan hasil kriya, batik, hingga barang-barang etnik dan koleksi antik
165 stan kuliner tradisional dan barang antik, yang menjadi magnet utama pengunjung dengan sajian makanan khas tempo dulu
Tidak hanya pelaku dari Daerah Istimewa Yogyakarta, sejumlah peserta dari luar daerah juga turut ambil bagian, memperkaya ragam kuliner dan produk yang ditawarkan kepada pengunjung.
Aroma Masa Lalu di Tengah Kota
Sejak pintu kawasan TBY dibuka, pengunjung langsung disambut oleh suasana pasar tempo dulu. Aroma khas seperti kue putu ayu, apem yang baru matang, jenang, hingga sate kronyos yang dibakar di atas arang, menjadi daya tarik utama yang membangun kembali ingatan masa kecil banyak pengunjung.

Suasana tersebut sengaja dihadirkan sebagai bagian dari konsep Pasar Kangen, yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan pengalaman sensorik aroma, suara, dan visual yang mengingatkan pada kehidupan masyarakat masa lampau.
Misi Budaya,Dari Nostalgia Menuju Regenerasi
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., menegaskan bahwa Pasar Kangen bukan sekadar agenda tahunan berbasis nostalgia, tetapi juga memiliki misi jangka panjang dalam pelestarian budaya.
Menurutnya, tema “Ono Upoyo Ono Upo” dipilih sebagai pengingat bahwa kerja keras dan ketekunan merupakan bagian dari nilai budaya yang harus terus diwariskan.
“Pasar Kangen Taman Budaya mengangkat tema Ono Upoyo Ono Upo, sebuah filosofi Jawa yang mengandung makna bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan manfaat penghidupan dan keberkahan,” ujar Dian.
Ia menambahkan bahwa Pasar Kangen juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda, agar tidak hanya mengenal budaya sebagai masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan yang terus berkembang.
“Tidak sekadar menjadi media nostalgia, tetapi juga menjadi sarana edukasi, pelestarian, dan regenerasi nilai-nilai kearifan lokal,” lanjutnya.
Dinas Kebudayaan DIY berharap Pasar Kangen dapat menjadi ruang inklusif yang mempertemukan pelaku budaya, UMKM, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Ruang yang Menjembatani Masa Lalu dan Masa Depan
Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X, secara resmi membuka rangkaian Pasar Kangen 2026. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Pasar Kangen memiliki posisi penting sebagai ruang budaya yang menghubungkan ingatan kolektif masyarakat dengan harapan masa depan.
“Pasar Kangen adalah ruang perjumpaan antara ingatan dan harapan. Tempat di mana berbagai hal yang pernah akrab dalam kehidupan kita dihadirkan kembali,” ujarnya.

Ia juga menyoroti makna tema tahun ini sebagai pengingat bahwa kesejahteraan dan keberhasilan tidak lahir secara instan.
“Tema Ono Upoyo Ono Upo adalah pengingat bahwa setiap hasil selalu berakar pada ikhtiar. Kehidupan yang lebih baik tidak lahir dari penantian, tetapi dari kesediaan untuk terus berusaha,” katanya.
Lebih jauh, ia berharap Pasar Kangen tidak hanya menjadi penggerak ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat ekosistem kebudayaan di Yogyakarta yang selama ini menjadi salah satu penopang identitas daerah.
Pembukaan Pasar Kangen 2026 berlangsung dengan prosesi simbolis yang kental dengan nuansa tradisi Jawa. Wakil Gubernur DIY bersama jajaran pejabat daerah melakukan pemukulan kentongan dan menumbuk padi menggunakan alu di atas lesung.
Suara lesung yang berpadu dengan kentongan menjadi tanda resmi dimulainya kegiatan Pasar Kangen 2026. Prosesi ini sekaligus merepresentasikan nilai kebersamaan, kerja kolektif, dan harmoni dalam kehidupan masyarakat agraris Jawa.
Antusiasme Pengunjung dan Suasana Pasar
Sejak hari pertama, kawasan TBY dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Arus pengunjung terus mengalir, terutama pada sore hingga malam hari, ketika suasana pasar semakin hidup dengan lampu-lampu temaram dan pertunjukan budaya.
Pengunjung terlihat antusias berburu kuliner tradisional, barang antik, hingga sekadar menikmati suasana pasar tempo dulu yang jarang ditemui di ruang urban modern.
Salah satu pengunjung, Naura Jingga, warga Kulon Progo, mengaku datang untuk menikmati suasana sekaligus menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Alasan datang ke sini sebenarnya ingin cuci mata, khususnya menemani suami. Pengen lihat-lihat baju dan jajan juga. Tadi aku sudah beli jeruk keprok ndeso sama sate kronyos,” ujarnya.

Selama penyelenggaraan, Pasar Kangen 2026 tidak hanya menghadirkan aktivitas jual beli, tetapi juga rangkaian pertunjukan seni dan budaya yang berbeda setiap harinya. Mulai dari musik tradisional, pertunjukan ketoprak, hingga berbagai atraksi komunitas seni akan mengisi panggung utama TBY. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Pasar Kangen sebagai ruang budaya hidup yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif.
Lebih dari sekadar festival kuliner dan pasar tematik, Pasar Kangen 2026 menjadi representasi bagaimana ekonomi rakyat dan budaya dapat berjalan beriringan. UMKM yang terlibat tidak hanya mendapatkan ruang promosi, tetapi juga kesempatan memperluas jaringan pasar.
Di sisi lain, masyarakat mendapatkan ruang untuk kembali terhubung dengan memori kolektif yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.