Yogyakarta (08/04/2026) — Industri kreatif di Yogyakarta kembali menunjukkan taringnya. Setelah melewati proses panjang dari tahap pengembangan hingga produksi, tiga film pendek dari program Jogja Film Pitch & Fund (JFPF) 2025 akhirnya resmi diperkenalkan ke publik melalui acara Gala Premiere yang digelar pada Rabu (08/04) di Gedung Societeit Militaire, Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Program garapan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY ini menjadi ruang bagi para sineas lokal untuk mewujudkan sinematik mereka melalui Dana Keistimewaan.
Sinergi Pemerintah dan Kreativitas Sineas

Acara dibuka secara simbolis dengan pemukulan kenong oleh Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Sosial Budaya dan Kemasyarakatan, Dr. Didik Wardaya, S.E., M.Pd. Mewakili Sekretaris Daerah DIY, Didik menekankan bahwa film di Yogyakarta telah bertransformasi menjadi ruang produksi makna.
“Dukungan melalui Dana Keistimewaan ini adalah bentuk keberpihakan kebijakan agar kreativitas tidak terhenti oleh keterbatasan, sehingga gagasan lokal memiliki ruang untuk tumbuh dan bersuara,” ujar Didik.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., menambahkan bahwa JFPF bukan sekadar bantuan biaya, melainkan langkah strategis. Dari 43 proposal yang masuk, terpilih tiga karya terbaik yang masing-masing mendapatkan pendanaan sebesar Rp180.000.000.
“Maksud dan tujuan Kompetisi Pendanaan Film setiap tahun adalah untuk memberikan ruang bagi para filmmaker Yogyakarta untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuannya sehingga diharapkan mampu bersaing di industri perfilman baik nasional maupun internasional,” tambah Dian.

Menampilkan Tiga Karya Unggulan
Gala Premiere ini menayangkan tiga film yang berhasil diproduksi dan diputar perdana dalam Gala Premiere ini mencakup genre fiksi dan dokumenter:
Lidah Api (Fiksi): Karya sutradara Bani Nasution yang mengangkat kisah misteri tentang memori masa kecil dan arwah seorang ibu.
Rumah Duka (Fiksi): Disutradarai oleh Riza Pahlevi, film ini menyoroti dilema ambisi materiil yang berbenturan dengan kasih sayang orang tua.
Discordia (Dokumenter): Sutradara Dery Prananda menyajikan narasi hibrida tentang musisi punk di Yogyakarta yang berjuang merajut tanggung jawab keluarga dan kelestarian alam.
Memotret Wajah Jogja hingga Menjamin Mutu Sinematik
Selanjutnya, sebagai perwakilan kurator, Dr. Budi Irawanto, S.I.P., M.A., menyampaikan keunikan film-film hasil JFPF terletak pada kedalaman konten yang berakar pada dinamika sosiokultural Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa proses seleksi sangat mempertimbangkan kemampuan film dalam merepresentasikan identitas daerah, mulai dari lanskap geografis hingga karakter manusianya.
“Kami menimbang dengan saksama kemampuan film dalam merepresentasikan dinamika budaya di Yogyakarta, konteks sosiokultural yang khas, hingga bagaimana karakter manusianya berinteraksi dan bertahan,” ujar Budi.
Pembeda utama program ini dengan bantuan lainnya adalah adanya pendampingan intensif selama lima bulan oleh tim supervisi. Perwakilan tim supervisi, Kelik Sri Nugroho, mengungkapkan bahwa para pemenang dikawal ketat mulai dari pembedahan naskah, proses produksi di lapangan, hingga tahap pascaproduksi seperti editing dan coloring.
“Tujuan kami memastikan film-film ini menjadi karya maksimal, tidak hanya berhenti di laci penyimpanan atau selesai di Gala Premiere saja," tegas Kelik.

Kegelisahan di Balik Karya, Bahasa Cinta Antargenerasi dan Realita Kota
Usai pemutaran film selesai, suasana gedung dipenuhi dengan tepuk tangan meriah. Para penonton menyatakan kekagumannya terhadap kualitas visual dan kedalaman cerita yang ditampilkan. Banyak penonton yang merasa terkesan dengan kemampuan para sineas dalam menangkap dinamika budaya Yogyakarta secara autentik, hal ini sesuai dengan yang ditekankan oleh tim kurator.
Dalam sesi berikutnya, yaitu diskusi yang dipandu Gundhissos, terungkap kegelisahan di balik karya. Riza Pahlevi (Sutradara Rumah Duka) menyinggung isu UMK dan harga tanah di Jogja sebagai latar belakang filmnya, sementara Dery Prananda menekankan pentingnya merawat rumah tua sebagai bahasa cinta antargenerasi.
Suara Penonton dan Harapan Komunitas
Antusiasme juga datang dari masyarakat umum. Nia, seorang penonton asal Bantul, sengaja hadir membawa kedua anaknya untuk menyaksikan karya-karya sineas lokal. Menurutnya, acara seperti ini sangat penting sebagai sarana edukasi agar anak muda tidak hanya sekadar menjadi penikmat film, tetapi juga memahami proses di balik layarnya.
“Saya mengajak anak-anak supaya mereka lebih bisa mengenal dunia perfilman, terutama yang lokal di Jogja. Selama ini anak muda lebih banyak hanya menikmati tanpa tahu tujuan dan bagaimana jalan cerita itu dibuat,” ungkap Nia.

Sementara itu, bagi pegiat komunitas film seperti Aziz dan Ais, acara ini menjadi ajang riset. Mereka mempelajari standar film yang lolos kurasi untuk persiapan kompetisi mendatang. Aziz mengaku terkesan dengan keberanian film Lidah Api dalam mengeksplorasi efek visual yang jarang ditemui di film lokal sebelumnya.
Gala Premiere Jogja Film Pitch Fund 2025 menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi antara kebijakan pemerintah melalui Dana Keistimewaan DIY dengan kreativitas sineas lokal. Melalui proses kurasi yang ketat dan pendampingan supervisi selama lima bulan, program ini berhasil menetaskan tiga karya unggulan, Lidah Api, Rumah Duka, dan Discordia yang tidak hanya berkualitas secara teknis, tetapi juga mampu merepresentasikan dinamika sosiokultural Yogyakarta secara autentik. Kekaguman penonton saat pemutaran film menegaskan bahwa standar perfilman Yogyakarta kini telah siap untuk bersaing di kancah nasional maupun internasional.