(Yogyakarta, 14/04/2026)— Taman Budaya Yogyakarta (TBY) terus menunjukkan komitmennya dalam menghidupkan ekosistem seni pertunjukan melalui inovasi program. Salah satunya diwujudkan lewat sesi tapping podcast yang digelar pada Selasa (14/04), sebagai ruang diskusi sekaligus ajang perkenalan Yut Fest 2026 (Yogyakarta Urban Teater Festival) format baru dari festival teater yang sebelumnya dikenal sebagai Parade Teater Lini Masa.
Dalam sesi ini, TBY menghadirkan dua praktisi seni panggung, Elyandra Widharta dari Komunitas Sedhut Senut dan Seteng Sadja seorang aktor teater/film yang belakangan turut menjadi sorotan publik melalui penampilannya dalam video klip lagu “Ada Titik-Titik di Ujung Doa” milik Sal Priadi. Keduanya mengupas transformasi festival sekaligus membahas arah perkembangan teater di Yogyakarta. Diskusi menyoroti bagaimana perubahan identitas festival tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mencerminkan pergeseran pendekatan artistik yang lebih kontekstual dengan dinamika kehidupan urban.

Elyandra menjelaskan bahwa perubahan menjadi Yut Fest tidak lepas dari peralihan sumber pendanaan, dari Dana Keistimewaan (Danais) ke Dana Alokasi Khusus (DAK) dari kementerian. Momentum ini dimanfaatkan untuk melakukan penyegaran konsep festival agar lebih terbuka dan inklusif bagi berbagai kalangan, mulai dari kelompok teater senior, komunitas kampus, hingga pelajar.
“Selama ini Lini Masa sudah berjalan sekitar delapan tahun sebagai program pengembangan teater. Dengan perubahan ini, kami ingin membuka ruang yang lebih luas bagi pertemuan lintas generasi,” ungkap Elyandra.
Lebih jauh, konsep “urban” dalam Yut Fest tidak dimaknai sebatas perpindahan geografis dari desa ke kota, melainkan sebagai bentuk ekspresi kekinian para pegiat teater dalam merespons realitas sosial yang terus berkembang. Yogyakarta, yang kini menjadi titik temu berbagai latar belakang budaya, dinilai melahirkan dinamika baru dalam praktik seni pertunjukan.
Seteng Sadja menambahkan bahwa teater memiliki peran penting sebagai cermin zaman. “Teater adalah galerinya zaman. Apa yang terjadi hari ini, termasuk perkembangan digital dan modernitas, akan selalu tercermin di panggung,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keberlanjutan kreativitas di Yogyakarta melalui analogi sederhana. Menurutnya, ekosistem seni di kota ini ibarat lumut yang mampu tumbuh dalam kondisi minimal namun tetap konsisten.
“Yogyakarta itu seperti lumut, selalu menemukan cara untuk tumbuh. Kreativitasnya tidak pernah habis,” katanya.
Meski teknologi berkembang pesat, Seteng meyakini bahwa teater tetap menjadi medium kritik sosial yang kuat, terutama dalam menjaga kesadaran dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
Yut Fest 2026 sendiri akan menampilkan enam kelompok teater terpilih dari total 25 proposal yang masuk. Beragam bentuk pertunjukan akan dihadirkan, mulai dari drama musikal kolosal hingga pementasan realis dengan pendekatan pewayangan. Seluruh pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 8 Mei 2026 di kompleks Taman Budaya Yogyakarta.

Sesi podcast turut dimeriahkan dengan penampilan dari grup musik Poem Bengsin. Mengusung tema musik humor dengan gaya unik dan nyeleneh, Poem Bengsin mampu menghadirkan hiburan segar yang mengundang tawa sekaligus memukau penonton melalui aksi panggung yang jenaka. Penampilan ini menjadi bukti bahwa kreativitas tidak hanya hadir di atas panggung teater, tetapi juga tumbuh dinamis melalui kolaborasi lintas peran, termasuk para pekerja di balik layar.
Melalui inisiatif ini, TBY kembali menegaskan perannya sebagai ruang kreatif yang adaptif dan terbuka. Program podcast tidak hanya menjadi sarana dokumentasi, tetapi juga medium penting dalam memperluas wacana, mempertemukan gagasan, dan memperkuat jaringan ekosistem seni pertunjukan di Yogyakarta.