(Yogyakarta, 16/09/2026) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menghadirkan ruang perbincangan kebudayaan melalui Podcast TBY. Sesi taping yang berlangsung pada Rabu (16/9/2026) di Gedung Societet Militaire, TBY, mengangkat sejumlah inisiatif kebudayaan, mulai dari perjalanan 20 tahun Majalah Kebudayaan Matajendela, program Tutur Tumurun, hingga eksplorasi musik kelompok experimental death-thrash asal Yogyakarta, Untu.
Dipandu Aditya Novikasari, perbincangan menghadirkan Vini Oktaviani Hendayani, kurator sekaligus redaktur Matajendela, serta Latief S. Nugraha, pengawal program Tutur Tumurun. Kehadiran Untu turut memperkaya perbincangan dengan eksplorasi musikal yang mempertemukan musik metal dengan instrumen gamelan Jawa.
Podcast TBY menjadi ruang untuk melihat bagaimana kebudayaan dapat dirawat melalui berbagai medium—tulisan, cerita, hingga musik—sekaligus tetap menemukan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Dua Dekade Matajendela, Merawat Jejak Pemikiran Kebudayaan
Dalam sesi podcast, Vini Oktaviani Hendayani mengulas perjalanan Matajendela yang telah hadir sejak 2004. Lahir dari inisiatif Dyan Anggraini, majalah kebudayaan tersebut menjadi salah satu ruang yang disediakan TBY untuk mendokumentasikan pemikiran dan refleksi atas perkembangan seni dan kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Majalah ini berawal dari kepedulian Taman Budaya Yogyakarta untuk menampung refleksi atas kerja-kerja kesenian dan pemikiran kebudayaan di wilayah DIY. Jejak pemikiran itulah yang selama dua dekade kami rawat dan catat,” ujar Vini.
Memperingati 20 tahun perjalanannya, TBY menerbitkan buku pilihan naskah 20 Tahun Matajendela: Meninjau ke Dalam dan Memandang ke Luar. Vini menjelaskan, proses kurasi naskah dalam buku tersebut bertumpu pada sejumlah pertimbangan, antara lain kemampuan tulisan dalam menjadi penanda zaman, relevansi yang melampaui konteks waktu, keterhubungan dengan isu lintas bidang di luar seni konvensional, serta keberagaman perspektif.
Karya-karya yang dihimpun juga memberikan ruang bagi suara kelompok yang selama ini berada di luar arus utama, termasuk kawan-kawan difabel sebagai subjek yang memiliki pengalaman dan perspektif penting dalam kehidupan kebudayaan.
“Buku pilihan naskah 20 Tahun Matajendela ini kami terbitkan bukan sekadar perayaan seremonial atau artefak masa lalu, melainkan upaya membaca kembali dinamika kebudayaan sekaligus instrumen literasi yang terus memantik diskusi hingga masa mendatang,” tambahnya.
Tutur Tumurun, Membaca Alam melalui Cerita
Perbincangan kemudian berlanjut pada program Tutur Tumurun: Menulis Cerita Pendek Berbasis Geomitologi Daerah Istimewa Yogyakarta. Program ini dirancang tidak hanya sebagai sayembara penulisan cerpen, tetapi melalui rangkaian kegiatan yang meliputi lokakarya kepenulisan, kompetisi, hingga penerbitan buku antologi.
Latief S. Nugraha menjelaskan, program tersebut berangkat dari upaya menggali kembali berbagai folklor, mitologi, legenda, dan cerita tutur masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan fenomena geologis di wilayah DIY.
“Program ini kami rancang untuk menggali kembali folklor, mitologi, legenda, serta cerita tutur masyarakat yang memiliki kaitan erat dengan fenomena geologis di seantero wilayah DIY,” ujar Latief.
Menurut Latief, konsep geomitologi membuka ruang pertemuan antara sastra, kebudayaan, dan ilmu kebumian. Lanskap Yogyakarta seperti Gunung Merapi, kawasan perbukitan, gua-gua karst, jaringan sungai, hingga pesisir Laut Selatan dapat dibaca bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi juga sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang diwariskan melalui cerita.
Melalui Tutur Tumurun, pengetahuan dan ingatan tersebut kemudian diolah ke dalam bentuk cerita fiksi. Dengan demikian, fenomena kebumian dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui pendekatan sastra yang lebih dekat dan mudah dipahami.
“Cerpen geomitologi ini tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, melainkan instrumen strategis untuk merekam sejarah lisan, menumbuhkan literasi mitigasi bencana, serta memperkuat resiliensi kultural masyarakat Yogyakarta dalam menghadapi dinamika alam,” tutur Latief.
Ketika Metal Bertemu Gamelan
Podcast TBY juga menghadirkan Untu, kelompok musik experimental death-thrash asal Yogyakarta yang dikenal melalui eksplorasi bunyi dan pengolahan unsur musik lokal.
Dalam perbincangan tersebut, Untu membagikan proses eksplorasi musikal yang mempertemukan karakter musik metal dengan bunyi instrumen gamelan Jawa. Eksplorasi tersebut tidak berhenti pada aspek musikal, tetapi juga hadir melalui penggunaan lirik berbahasa Jawa dan Inggris yang mengangkat tema mitologi, tradisi lokal, serta mantra dan ritual.
Pertemuan antara Matajendela, Tutur Tumurun, dan Untu menunjukkan beragam cara dalam membaca serta merawat kebudayaan. Arsip tulisan menyimpan jejak pemikiran, cerita geomitologi merawat ingatan masyarakat dan lanskap, sementara musik membuka kemungkinan baru untuk membawa unsur tradisi ke dalam ekspresi kontemporer.
Melalui Podcast TBY, berbagai perspektif tersebut dipertemukan dalam satu ruang dialog. Kebudayaan tidak hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang perlu dikenang, tetapi juga sebagai pengetahuan yang terus dibaca, dibicarakan, dan dikembangkan sesuai dengan konteks zaman.
Salam Budaya, Lestari Budayaku.