(Yogyakarta, 01/03/2026) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar Upacara Peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara pada Minggu (01/03). Dimulai tepat pukul 08.00 WIB, upacara yang berlangsung di pelataran TBY ini berjalan dengan sangat khidmat, tertib, dan penuh nuansa patriotisme. Upacara ini dihadiri oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, yang meliputi pejabat struktural Dinas Kebudayaan, Museum Sonobudoyo, serta tuan rumah Taman Budaya Yogyakarta.

Peringatan ini menjadi refleksi atas transformasi makna kedaulatan yang kini bertumpu pada tata kelola berintegritas dan kualitas SDM. Melalui momentum ini, ditekankan bahwa kedaulatan bukan lagi sekadar penguasaan wilayah, melainkan kemandirian bangsa melalui kebijakan berbasis data, riset, dan inovasi. Upacara ini sekaligus menjadi penghormatan atas sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 yang membuktikan eksistensi Indonesia di mata dunia.

Mengenang Episentrum Perjuangan

Rangkaian acara dimulai dengan pengibaran Bendera Sang Merah Putih yang diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Momentum mengheningkan cipta begitu terasa saat seluruh peserta memberikan penghormatan bagi para pahlawan yang telah gugur dalam mempertahankan kemerdekaan.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Budi Husada bertindak sebagai Inspektur Upacara dan membacakan amanat penting mengenai makna kedaulatan di era modern. Dalam amanatnya, ia mengingatkan kembali bahwa Yogyakarta merupakan episentrum perjuangan saat Serangan Umum 1 Maret 1949 berlangsung.

“Peristiwa 1 Maret adalah upaya perlawanan anak bangsa sekaligus upaya membuka mata dunia internasional bahwa Indonesia memang masih ada,” ujar Budi Husada saat membacakan pesan dari Gubernur DIY.

Tantangan Kedaulatan Modern

Lebih lanjut, amanat tersebut menekankan bahwa tantangan kedaulatan saat ini tidak lagi sekadar penguasaan wilayah, melainkan kapasitas dalam mengelola sumber daya secara mandiri. Ada tiga poin utama yang ditekankan dalam amanat tahun ini:

  • Integritas Tata Kelola: Kedaulatan menuntut tata kelola yang cermat dan kebijakan berbasis data.

  • Kualitas SDM: Pendidikan, riset, dan inovasi menjadi fondasi utama daya saing nasional.

  • Kematangan Demokrasi: Perbedaan harus menjadi energi konstruktif, bukan sumber perpecahan.

Upacara ditutup dengan pembacaan doa yang memohon agar masyarakat Yogyakarta dan Indonesia senantiasa diberikan kedamaian serta kekuatan untuk menjaga kedaulatan melalui karya nyata. Setelah laporan komandan upacara selesai, barisan dibubarkan dengan tertib sebagai tanda berakhirnya rangkaian upacara tersebut.

Melalui pelaksanaan ini, Peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara ini bukan sekadar seremoni mengenang peristiwa sejarah Serangan 1 Maret 1949 semata. Momentum tersebut menjadi pengingat strategis bahwa kedaulatan bangsa di era modern harus terus diperjuangkan melalui integritas dan kompetensi. Dengan semangat patriotisme yang tertanam, diharapkan nilai-nilai kedaulatan tersebut dapat teraktualisasi dalam karya nyata demi menjaga martabat dan eksistensi Indonesia di masa depan.