(Yogyakarta, 20/08/2025) – Suasana Rabu malam di Gedung Societeit Militaire, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), terasa berbeda dari biasanya. Sejak menjelang pukul 19.30 WIB, kursi-kursi penonton mulai terisi, wajah-wajah penuh antusias tampak berdatangan, seolah ingin memastikan mereka tidak melewatkan satu pun detik dari penampilan terakhir Pentas Rebon TBY 2025. Malam itu bukan hanya menjadi sebuah pertunjukan seni, melainkan juga momentum penutup tahun yang penuh makna, menghadirkan rangkaian teater, kethoprak, dan dagelan Mataram yang bergantian menghidupkan panggung dengan tawa, sejarah, dan renungan.

Sambutan yang Menghidupkan Panggung

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari para narasumber. Masing-masing perwakilan seni berbicara tidak hanya sekadar memberikan ucapan formalitas, melainkan juga menyampaikan pesan yang mengakar pada pengalaman panjang mereka dalam dunia seni pertunjukan. Dr. Drs. Nur Iswantara, mewakili seni teater, menekankan bahwa panggung tanpa penonton ibarat tubuh tanpa jiwa. Ia mengingatkan bahwa setiap seniman berjuang agar karyanya bisa sampai ke hati masyarakat, dan hal itu hanya mungkin jika kursi penonton benar-benar terisi dan mereka hadir dengan sepenuh perhatian. Kata-kata ini menjadi pengingat bahwa kehadiran penonton bukan sekadar fisik, melainkan energi yang membuat setiap adegan menjadi bernyawa.

Pesan itu disambung oleh Bambang Paningron Astiaji, perwakilan seni kethoprak, yang tak lupa mengucapkan terima kasih kepada penonton setia. Ia menyebut bahwa konsistensi penonton untuk hadir dari bulan ke bulan merupakan dukungan nyata yang sangat berarti bagi para seniman. 

“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, khususnya Taman Budaya Yogyakarta, bagaimana caranya agar penonton yang jumlahnya semakin banyak ini tetap bisa mendapatkan asupan positif di tahun-tahun mendatang,” tuturnya. Ucapannya menegaskan bahwa pertunjukan seni tidak berhenti pada panggung, tetapi juga memiliki dampak panjang pada kehidupan sosial masyarakat.

Baginya, jumlah penonton yang kian meningkat harus diimbangi dengan penyajian karya yang berkualitas, sehingga Pentas Rebon tetap menjadi wadah edukasi sekaligus hiburan positif bagi masyarakat luas.

Kemudian, seniman dan budayawan senior Marwoto Kawer memberi perspektif yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa Pentas Rebon memiliki peran strategis dalam memperkenalkan seni pertunjukan kepada lintas generasi. “Dulu orang yang ingin bermain film harus belajar di lembaga formal seperti Astrafi (Akademi Seni Drama dan Film), tetapi kini banyak yang bisa belajar langsung dari panggung-panggung rakyat seperti Pentas Rebon.” Sambutan ini menegaskan bahwa program bulanan ini bukan hanya sekadar agenda hiburan, melainkan ruang belajar terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami seni, dari generasi muda hingga penonton senior yang ingin bernostalgia.

Teater: Kritik Sosial dalam “Makam Tak Bertuan dan Tuan Tak Bermakam”

Selepas sambutan, tirai pun terbuka, menandai dimulainya pementasan pertama. Teater dengan judul “Makam Tak Bertuan dan Tuan Tak Bermakam” langsung menarik perhatian penonton. Lakon ini menyuguhkan satire sosial yang tajam, bercerita tentang sebuah makam keramat yang seharusnya dijaga penuh penghormatan, tetapi justru dijadikan sumber keuntungan pribadi oleh sang juru kunci. Ironi ini segera menghadirkan refleksi: betapa mudahnya nilai spiritual dan budaya tereduksi hanya menjadi alat mencari keuntungan.

Dalam cerita itu, hanya seorang kemit bumi yang tetap menjaga makam dengan penuh ketulusan. Namun, keserakahan yang merajalela menimbulkan kegelisahan, hingga arwah dalam makam digambarkan murka karena kesuciannya terusik. Adegan demi adegan membuat penonton terhanyut dalam alur cerita yang bukan hanya menyentuh perasaan, tetapi juga mengetuk kesadaran kolektif. Pesan moral yang tersirat adalah bahwa warisan leluhur tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas semata, melainkan harus dijaga dengan keikhlasan. Melalui teater ini, Pentas Rebon berhasil mengajak penonton merenungkan kembali nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Kethoprak: Luka Sejarah dalam “Surya Pabaratan”

Setelah penonton larut dalam renungan dari pementasan teater, suasana panggung bergeser ke nuansa sejarah dengan penampilan kethoprak “Surya Pabaratan”. Lakon ini membawa penonton menyelami kisah getir yang terjadi di lingkungan Kraton Yogyakarta. Fokus cerita terletak pada GKR Sekar Kedaton, permaisuri Sultan Hamengkubuwono V, yang setelah melahirkan putra, Gusti Pangeran Timur Muhammad, justru harus menghadapi tekanan adat dan politik yang menyingkirkannya dari garis pewarisan tahta.

Pertunjukan ini berhasil mengemas sejarah dengan sentuhan dramatik yang kuat. Dengan tata panggung yang megah, iringan gamelan yang lirih namun sarat makna, dan dialog yang penuh bahasa simbol, penonton diajak masuk ke dalam pergulatan batin seorang ibu yang berjuang di tengah badai politik. Adegan paling menyayat hati adalah saat GKR Sekar Kedaton bersama putranya dibuang ke tanah Manado pada 1883. Dalam pengasingan itu, mereka menjalani hidup hingga akhir hayatnya, meninggalkan luka sejarah yang hingga kini masih membekas. Melalui kisah ini, kethoprak “Surya Pabaratan” bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan, mengingatkan generasi sekarang bahwa sejarah bukan hanya catatan masa lalu, melainkan juga cermin kehidupan yang relevan untuk dipelajari.

Dagelan Mataram: Gelak Tawa dalam “Omah Warisan”

Selepas drama sejarah yang penuh emosi, giliran Dagelan Mataram tampil sebagai penutup. Lakon “Omah Warisan” disajikan dengan ringan namun sarat sindiran sosial. Cerita ini berkisah tentang empat saudara yang memperebutkan sebuah rumah tua peninggalan leluhur. Masing-masing memiliki alasan: ada yang ingin memilikinya untuk keluarga, ada yang hendak menjual demi keuntungan, ada pula yang menjadikannya latar konten media sosial, bahkan ada yang terpaksa mengincarnya demi melunasi hutang. Konflik semakin memuncak ketika sang penjaga rumah pun ikut tergoda, membuat situasi semakin rumit dan penuh intrik.

Namun, kejutan terbesar muncul ketika rumah tersebut ternyata berhantu. Gelak tawa pun pecah di tengah ketegangan, menghadirkan hiburan segar sekaligus menyentil sifat dasar manusia yang kerap serakah. Sang sutradara, Toelis Priyantono, menegaskan bahwa cerita ini lahir dari kondisi nyata masyarakat saat ini. Menurutnya, hampir semua hal kini diukur dengan harta, tetapi tidak semua harta bisa dinikmati, apalagi jika tidak dijaga dengan sungguh-sungguh. Ia pun mengaitkan kisah ini dengan kondisi bangsa Indonesia yang sejatinya kaya raya, namun kekayaannya sering kali hanya dinikmati oleh segelintir orang. Penonton pun pulang dengan perasaan campur aduk: tertawa sekaligus merenung.

Rangkaian tiga pementasan itu menegaskan bahwa Pentas Rebon TBY 2025 bukan hanya sekadar agenda seni bulanan yang berakhir di penghujung tahun. Ia adalah ruang perjumpaan antara seniman dan penonton, ruang untuk belajar, bercermin, sekaligus bersyukur. Dari teater yang mengajarkan pentingnya kejujuran, kethoprak yang menghadirkan kisah sejarah penuh makna, hingga dagelan Mataram yang menyajikan tawa bercampur sindiran tajam, semuanya memberi pelajaran bahwa seni selalu punya cara untuk menyapa hati sekaligus pikiran.

Melalui keberagaman karya yang ditampilkan, Pentas Rebon memberikan pengalaman kolektif yang kaya: ada hiburan, ada pelajaran sejarah, ada kritik sosial, dan ada ruang untuk bercermin. Harapannya, agenda ini tidak berhenti di tahun 2025, melainkan terus berlanjut dengan karya-karya baru, memperluas apresiasi penonton, serta menjaga Taman Budaya Yogyakarta sebagai rumah besar bagi kreativitas, kebudayaan, dan refleksi kehidupan bersama.