(Yogyakarta, 29/06/2026) — Setelah sepekan penuh memanjakan lidah dan ingatan warga, gelaran Pasar Kangen Yogyakarta 2026 resmi berakhir pada Minggu (28/6). Mengusung filosofi “Ana Upaya Ana Upa”, penutupan agenda tahunan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) ini mengukir memori indah bagi para pengunjung sekaligus membawa angin segar bagi perekonomian daerah. Acara ini sukses membuktikan bahwa pelestarian budaya tradisional mampu berjalan selaras dengan kebangkitan ekonomi para pelaku usaha lokal.
Antrean Mengular dan Berburu Kuliner Langka
Sejak dibuka pukul 14.00 WIB, arus pengunjung yang didominasi oleh keluarga, muda-mudi, hingga wisatawan mancanegara terpantau memadati area TBY. Menjelang malam penutupan, antrean di ratusan stan kuliner tradisional dan barang antik terlihat mengular panjang.

Berbagai jajanan legendaris tempo dulu seperti es gosrok, jenang sumsum, cenil, rambut nenek, hingga kuliner langka yang sulit ditemui di hari biasa menjadi buruan utama para pengunjung. Tidak hanya berburu makanan, sudut-sudut stan barang lawas yang memamerkan majalah jadul, kaset pita, hingga mainan tradisional juga dipadati kolektor dan pengunjung yang ingin bernostalgia.
Lonjakan Pengunjung dan Capaian Transaksi Fantastis
Dalam sambutannya, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menyampaikan data resmi yang dipaparkan dalam laporan penutupan. Total transaksi ekonomi atau omzet yang berhasil dibukukan hingga Minggu sore menembus angka yang sangat fantastis.
“Kemudian transaksi ekonomi atau omzet yang tercatat sampai dengan sore hari tadi pukul 18.00 (WIB), Rp3,30 miliar selama 7 hari penyelenggaraan,” jelas Purwiati.
Lonjakan omzet yang masif ini didorong oleh membeludaknya arus kunjungan masyarakat sepanjang acara berlangsung sejak dibuka pada tanggal 22 Juni lalu. Tercatat, antusiasme warga luar biasa tinggi dengan perputaran massa yang sangat padat setiap harinya. “Jadi, rata-rata pengunjung harian sebanyak 19.000 orang. Dengan total keseluruhan pengunjung 138.436 orang,” tambah Purwiati.
Apresiasi dan Harapan untuk Kelestarian Budaya
Purwiati menyatakan bahwa keberhasilan ini membuktikan ruang kultural yang dikemas dengan baik mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang kuat di Yogyakarta. Tingginya angka statistik tersebut juga mencerminkan kedekatan masyarakat terhadap akar budayanya yang tidak pernah luntur.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan DIY, UPT Taman Budaya DIY dengan dukungan Dana Keistimewaan 2026, para seniman, pelaku UMKM, serta seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi,” tutur Purwiati.

Sembari resmi menutup acara, beliau berharap seluruh rangkaian kegiatan ini dapat menjadi bekal berharga dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Malam penutupan Pasar Kangen 2026 berlangsung semarak lewat penampilan grup musik Wawes, yang sukses mengajak ribuan pengunjung kawula muda berdendang bersama.
Keseruan ini diakui oleh Nanda, pengunjung asal Klaten yang baru pertama kali datang. “Kesannya seru dan ramai banget. Banyak makanan tradisional unik yang baru aku tahu di sini, penjualnya juga pakai kostum tradisional,” ujar Nanda.
Di sisi lain, masukan konstruktif datang dari Ardian Raka Siwi, pelapak dari stan Rumah Shiro, terkait fasilitas penunjang di masa mendatang.
“Secara keseluruhan sudah oke. Namun, saran untuk panitia ke depan mungkin bisa disediakan smoking area khusus, supaya tidak mengganggu pengunjung anak-anak dan pelapak lainnya,” tutur Ardian.

Dengan berakhirnya malam puncak tersebut, Pasar Kangen Yogyakarta 2026 sukses menunaikan misinya, bukan hanya sebagai ruang rindu yang mempertemukan masyarakat dengan memori masa lalu, melainkan juga bukti nyata ketahanan ekonomi lokal yang berakar pada tradisi. Kemeriahan di TBY malam itu perlahan surut, namun kehangatan rasa, aroma kuliner tempo dulu, dan perjumpaan kultural yang terjadi di dalamnya akan terus membekas. Sampai jumpa di Pasar Kangen tahun depan, di mana masa lalu selalu punya cara untuk pulang dan dirayakan kembali.