(Yogyakarta, 22/10/2026) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menghidupkan ruang ekspresi, pembelajaran, dan apresiasi seni rupa melalui Pameran Seni Rupa Nandur Srawung XIII tahun 2026. Mengusung tema Akademi Lanskap, pameran ini resmi dibuka pada Rabu (21/10) di halaman TBY dan berlangsung hingga 28 Oktober 2026. Pameran tahun ini melibatkan 100 perupa terpilih dari total 264 pendaftar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, hingga Kalimantan. 

Suasana pembukaan Pameran Nandur Srawung terasa kian memikat lewat pertunjukan musik Kebun Kecil sebagai penampil pembuka. Band indie pop/folk asal Sewon, Bantul, ini membawakan lagu yang berjudul Memoria sebagai sajian pertama, menyapa pengunjung dan tamu undangan melalui alunan akustik yang dekat serta lirik-lirik puitis. 

Nandur Srawung Sebagai Platform Pengembangan Seni 

Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi TBY, Diah Aprilina, S.I.P., M.P.A., menjelaskan bahwa pameran Nandur Srawung edisi 13 tahun 2026 dirancang bukan sebagai ruang presentasi karya saja, melainkan sebagai platform tempat bertemunya para seniman, gagasan, dan ekosistem seni rupa. 

“Nandur Srawung diharapkan tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga ruang untuk memperluas percakapan, membangun hubungan, dan menumbuhkan pengetahuan seni rupa,” ujar Diah.

Diah menambahkan bahwa untuk merancang program berkesinambungan tiga tahunan (2026–2028) bernama Platform Akademi, TBY berkolaborasi dengan tiga kurator: Gintani Swastika, Febrian A. Hasibuan, dan Tomi Firdaus. Gagasan ini berangkat dari pemahaman bahwa proses kreatif seniman tidak hanya tumbuh melalui pendidikan formal, tetapi juga lewat ruang kolektif, diskusi, eksperimen, dan inisiatif mandiri.

Tiga Tahapan Trilogi Akademi 2026–2028 

Kurator Gintani Swastika menjelaskan bahwa konsep Akademi lahir dari pemahaman mendalam bahwa perkembangan seni tidak hanya terbatas di dalam studio atau ruang pameran. Seni juga tumbuh melalui dialog informal, ruang belajar bersama, kolaborasi, residensi, hingga perjumpaan kritis antarpraktisi.

“Melalui Akademi, kami ingin mengembangkan Nandur Srawung dari sekadar pameran tahunan menjadi platform pengembangan praktik seni yang berkelanjutan dan berdampak panjang,” ujar Gintani.

Gintani juga menjelaskan bahwa trilogi ini dirancang secara bertahap, diawali dengan Akademi Lanskap pada 2026 yang berfokus pada pemetaan lanskap seni kontemporer, pembacaan pendekatan artistik, dan pemahaman infrastruktur seni. Tahap berikutnya dilanjutkan dengan Akademi Lab pada 2027 sebagai fase inkubasi dan eksperimen artistik melalui pendampingan serta pertukaran gagasan. Rangkaian ini kemudian ditutup pada 2028 lewat Akademi Lintasan untuk memperluas jejaring kolaborasi dengan organisasi seni dan budaya di tingkat regional. 

Membaca Lanskap dan Wacana Kritis 

Tomi Firdaus, kurator, memaparkan tajuk pameran tahun ini, Menata Jarak Pandang, Mengheningkan Keberadaan. Tajuk ini mengajak pengunjung untuk melihat lanskap bukan sebagai pandangan alam yang netral, melainkan sebagai ruang yang sarat akan memori, posisi sosial, sejarah kolonialisme, dan ketimpangan.

“Keindahan sering kali menyamarkan kenyataan. Melalui pameran ini, kami mengajak publik tidak hanya melihat apa yang tersaji, tetapi juga mempertanyakan siapa yang bersuara dan pengalaman siapa yang belum memperoleh tempat,” ungkap Tomi.

Kurator Febrian A. Hasibuan menambahkan bahwa pameran ini dilengkapi dengan serangkaian program publik untuk menghidupkan wacana kritis, antara lain Kelas Penulisan Seni yang diikuti oleh 10 penulis seni muda dari Yogyakarta dan sekitarnya, Simposium Seni yang mengangkat topik Polemik Seni Pasca-Reformasi dan Ide-Ide di Balik Pendidikan Seni, serta Kuliah Umum yang membahas relasi kuasa dan tata kelola festival seni. 

Selain itu, terdapat program Bicara Seniman sebagai pertemuan dialogis antara peserta kelas penulisan dengan seniman seperti Bonggal Hutagalung, Maryanto, Nina Wijaya, Pangestumu, dan Yuda Kusumaputra, serta Kios Seni hasil kolaborasi bersama Yogyakarta Art Book Club (YABC) yang menyajikan ragam publikasi seni independen dan lokakarya interaktif. 

Komitmen Dukungan Pemerintah dan Seremonial Pembukaan 

Mewakili Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra. Purwiati menegaskan bahwa Nandur Srawung berfungsi sebagai ruang krusial dalam mendukung tumbuhnya pengetahuan, berkembangnya praktik artistik, serta mewadahi generasi baru seniman untuk belajar, bereksperimen, dan membangun jejaring. 

“Perkembangan seni rupa tidak cukup hanya ditandai oleh terselenggaranya pameran dan hadirnya karya-karya yang dapat kita nikmati. Lebih dari itu, seni rupa membutuhkan ekosistem yang memungkinkan pengetahuan itu tumbuh,” ujar Purwiati. 

Purwiati berharap pameran ke-13 ini mampu mengajak publik membaca lanskap seni rupa Indonesia secara lebih luas, sekaligus memahami proses panjang di balik lahirnya sebuah karya. 

Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Purwiati yang diserahkan kepada perwakilan tim kurator, Gintani Swastika, sebagai simbol dimulainya kerja kolaboratif tiga tahun ke depan. Pameran ini resmi dibuka melalui prosesi pelepasan burung merpati di area terbuka TBY. 

Acara kemudian ditutup oleh dua grup musik asal Yogyakarta, Sunlotus dan Niskala. Sunlotus menyuguhkan wall of sound berdistorsi tebal khas heavy shoegaze/noise rock bernuansa atmosferik. Sementara itu, Niskala sukses menutup seremoni dengan megah lewat narasi emosional tanpa lirik vokal, mengandalkan komposisi musik post-rock/art-rock yang bertahap hingga puncaknya. 

Keberhasilan pameran ini dalam menyajikan ragam eksplorasi medium karya pun turut mendapat tanggapan positif dari pengunjung. Salah satu pengunjung, Aca, mengaku terkesan dengan keberanian para seniman muda dalam mengolah material baru. 

“Aku lumayan senang melihat pameran ini karena banyak seniman yang mengeksplorasi media baru. Terasa lebih segar karena karyanya tidak melulu konvensional. Tadi ada beberapa perupa yang memakai material kertas tidak biasa, dan itu menarik sekali,” ujar Aca. Ia juga berharap para seniman muda terus bereksplorasi agar karya yang dipamerkan semakin variatif. 

Melalui peluncuran Akademi Lanskap, Nandur Srawung XIII berhasil membuktikan fungsinya tidak hanya sebagai ajang pameran tahunan, tetapi juga sebagai panggung awal dari komitmen tiga tahun ke depan dalam membangun iklim seni rupa yang inklusif dan progresif. Kehadiran ruang belajar bersama ini diharapkan dapat terus memicu lahirnya wacana-wacana baru serta gagasan segar dari para seniman muda di masa depan.