(Yogyakarta, 17/08/2016) — Menyusun cerita melalui jepretan kamera membutuhkan kepekaan dalam memilih foto dan keterhubungan narasi yang kuat. Menjawab kebutuhan tersebut, kolektif Rana Budaya menggelar lokakarya fotografi bertajuk “Merangkai Foto: Dari Satu Foto ke Foto Lain” yang berlangsung di Ruang Rapat, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Senin (17/8). Lokakarya ini membedah bagaimana gambar tunggal bertransformasi menjadi narasi utuh melalui metode photo sequence (sekuens foto). 

Acara ini merupakan bagian dari aktivasi program Rana Budaya ke-4: For Your People. Sesi ini dipandu oleh Safira Rahmasari bersama Kurniadi Widodo (akrab disapa Mas Wid), seorang fotografer asal Yogyakarta yang telah berkiprah sejak 2010. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media nasional, termasuk Project Multatuli dan National Geographic Indonesia. 

Fondasi Pembacaan Foto: Teks, Konteks, dan Subteks 

Di awal sesi, peserta dengan beragam latar belakang, mulai dari pegiat riset antropologi, penikmat kamera analog, fotografer produk, hingga pemula, berbagi perspektif mengenai pendekatan mereka saat memotret. Keragaman ini memantik pertanyaan mendasar: kapan sebuah foto berhenti menjadi sekadar dokumentasi dan mulai menjadi cerita? 

Memasuki sesi inti, Kurniadi menjelaskan bahwa langkah awal menyusun cerita visual yang kuat adalah menyepakati bahwa foto dapat dibaca seperti teks. Untuk memahaminya secara utuh, ia memperkenalkan tiga lapisan analisis yang saling bertaut: teks, konteks, dan subteks. 

“Membaca foto itu ada tiga tahapannya. Pertama adalah teks, yaitu apa pun yang terlihat jelas di dalam foto tanpa kita meraba-raba. Kedua adalah konteks, yaitu latar belakang atau cerita nyata di balik foto tersebut yang biasanya cuma diketahui si pemotret. Terakhir adalah subteks, yaitu pesan mendalam yang lahir saat kita menggabungkan apa yang terlihat dengan cerita di baliknya,” ujar Kurniadi. 

Sebagai contoh, Kurniadi membedah karyanya tentang seorang pria yang sedang salat di bawah pohon rindang berlatar sepeda motor (teks). Ketika diketahui pria tersebut adalah petani Pantai Samas yang beristirahat menunaikan salat duha di bawah pohon bakau (konteks), perpaduan tersebut melahirkan perenungan tentang keteguhan ibadah dan keharmonisan manusia dengan alam (subteks). 

Resonansi Emosi dan Peran Takarir 

Selain analisis struktural, lokakarya ini menekankan resonansi emosi dan fungsi takarir (caption). Menurut Kurniadi, foto yang bermuatan emosional kuat akan berlipat ganda dampaknya saat dipadukan dengan informasi kontekstual.

Ia juga menegaskan bahwa foto tidak pernah benar-benar berdiri sendiri—maknanya selalu terikat dengan teks pendamping. Terkait fungsi takarir, penerapannya sangat bergantung pada posisi si fotografer.

“Kalau fotografer jurnalistik, caption berguna untuk memberi konteks objektif 5W 1H. Namun, tak semua dari kita ingin menyampaikan sesuatu secara objektif; caption juga sangat mungkin dipakai untuk pendekatan yang personal dan subjektif,” jelas Kurniadi.

Praktik Kurasi dan Refleksi Peserta 

Sesi berlanjut ke praktik penyusunan narasi visual. Peserta ditantang untuk memilih satu foto pribadi sebagai fondasi cerita, lalu merangkainya dengan dua hingga lima foto acak milik peserta lain yang disebar di meja tengah.

“Mulailah dari satu foto utama. Amati apa yang ada di dalamnya, elemen visual, emosi, hingga asosiasinya. Cara ini melatih kita untuk berpikir melampaui konteks asli foto tersebut,” kata Kurniadi.

Setiap peserta diminta menyusun rangkaian foto tersebut ke dalam alur narasi yang utuh lengkap dengan takarir yang relevan. Setelah selesai, mereka bergantian mempresentasikan karyanya, menceritakan alasan di balik kurasi visual, konteks yang melatarbelakangi, hingga pesan tersirat yang ingin disampaikan kepada audiens.

Keterbukaan ruang diskusi dalam lokakarya ini meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Damai, salah seorang peserta, mengungkapkan apresiasinya terhadap jalannya sesi yang inklusif bagi pemula.

“Awalnya saya tidak berekspektasi tinggi karena merasa masih amatir, tetapi ternyata saya tetap bisa ikut berdiskusi dan berbagi perspektif. Pemateri tidak hanya membagikan ilmu, tetapi juga sangat mengakomodasi dan membantu kami menggali ide-ide baru yang lahir dari sudut pandang masing-masing,” ungkap Damai.

Melalui lokakarya ini, para peserta diajak menyadari bahwa merangkai foto bukan sekadar menyejajarkan lembaran gambar, melainkan seni mengolah dialog visual. Kepekaan menghubungkan apa yang tertangkap di dalam bingkai dengan cerita di baliknya menjadi kunci agar pesan dapat tersampaikan secara utuh dan bermakna. Bekal pemahaman ini diharapkan mampu memantik peserta untuk terus melahirkan karya visual yang tak hanya memikat mata, tetapi juga berdaya gugah dan berdampak luas.