(Yogyakarta, 21/08/2026) — Mengabadikan cerita tak selalu membutuhkan latar yang megah atau momen luar biasa. Lewat lokakarya photo walk “Jalan Melihat: Merekam yang Dekat”, program Rana Budaya #4 mengajak para pencinta seni visual untuk menelusuri keindahan dan narasi sederhana di ruang publik. Digelar pada Jumat (21/8) bertempat di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Kegiatan ini memadukan sesi teori dasar fotografi jalanan (street photography) dengan praktik menyusuri kawasan sekitar secara langsung.
Sesi pembekalan dan pendampingan lapangan dipandu langsung oleh dua fotografer berpengalaman, yakni Dwi Oblo dan Stevanus Awang. Keduanya membagikan perspektif tentang pentingnya kepekaan rasa dalam menangkap momen serta teknik membangun narasi visual di balik bingkai foto.
Bukan Sekadar Estetika, Melainkan Cerita
Membuka sesi pertama, Dwi Oblo memaparkan bahwa pembeda utama antara foto jalanan biasa dengan karya yang bermakna terletak pada kekuatan cerita (photo story). Fotografi jalanan berakar pada penangkapan momen spontan tanpa manipulasi adegan di ruang publik.
“Fotografi jalanan berfokus pada pengambilan momen-momen spontan dan candid dari aktivitas sehari-hari di tempat umum. Tujuannya adalah untuk mengabadikan keaslian, keunikan, dan dinamika yang sering kali terlewatkan,” ujar Dwi.

Lebih lanjut, Dwi menguraikan perbedaan antara fotografi jalanan dan human interest. Jika fotografi jalanan menangkap segala dinamika publik, maka human interest menitikberatkan pada manusia beserta emosi, pergulatan, dan interaksinya dengan lingkungannya.
Metode EFAT dan Etika Memotret
Masuk ke ranah teknis, Dwi memperkenalkan metode EFAT (Entire, Feature, Angle, Time). Pendekatan ini menggabungkan bidikan lanskap luas (entire), detail ekspresi objek (feature), variasi sudut pandang (angle), dan ketepatan momen puncak (time). Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa aspek teknis harus selalu diimbangi dengan etika dan empati.
“Kita memotret itu nggak nyolong-nyolong ya. Jadi benar-benar kita harus interaksi sama mereka, nanti kita dapat foto dari apa yang kita interaksikan. Senyum adalah kunci,” tutur Dwi.
Menemukan Cerita dan Eksplorasi Emosi
Melengkapi sesi pembekalan tersebut, Stevanus Awang menegaskan bahwa kekuatan sebuah foto tidak semata-mata bertumpu pada kecanggihan kamera, melainkan pada kepekaan fotografer dalam menyusun narasi visual. Baginya, formula dasar jurnalistik 5W+1H tetap menjadi pegangan utama saat berburu momen di ruang publik.
“Kita itu harus tahu mau foto apa dan subjeknya apa. Misalnya ada becak, apakah kita mau mengarah ke sopirnya, dari POV penumpangnya, atau pedagang di sekitarnya? Kita juga harus tahu mau mengambil foto pagi, siang, sore, atau malam agar ceritanya terbentuk,” jelas Awang.

Awang menambahkan bahwa kondisi emosional fotografer kerap mewarnai hasil akhir karyanya. “Terkadang saat berangkat dengan perasaan sedih, foto yang lahir cenderung mengeksplorasi bayangan (shadow), monokrom, dan ruang negatif (negative space) untuk mengekspresikan kesendirian.”
Praktik Lapangan, Kesan Peserta, Kurasi Karya
Usai pembekalan, para peserta dibagi ke dalam dua kelompok untuk mempraktikkan materi di kawasan Titik Nol Kilometer dan Pasar Beringharjo. Berbekal kamera dan kepekaan visual, mereka menyusuri sudut-sudut kota guna merekam narasi humanis di balik riuhnya aktivitas warga.
Antusiasme dirasakan pada salah satu peserta asal Sewon, Bantul, Henros. Baginya, lokakarya ini memberi cara pandang baru dalam memaknai ruang publik. “Kita belajar mengamati sekeliling, membingkai momen, lalu menarasikannya agar publik paham cerita nyata di balik dinamika Beringharjo,” ujarnya.

Rangkaian lokakarya ditutup dengan sesi kurasi dan evaluasi karya langsung oleh Dwi Oblo dan Stevanus Awang. Dari hasil kurasi tersebut, karya milik Annisa dan Bhakti terpilih sebagai foto terbaik dan masing-masing menerima apresiasi berupa uang pembinaan.
Melalui lokakarya ini, Rana Budaya #4 tidak hanya mengasah kecakapan teknis peserta dalam membingkai gambar, tetapi juga menumbuhkan kepekaan untuk melihat ruang publik secara lebih dekat dan bermakna. Kegiatan ini membuktikan bahwa di balik dinamika jalanan yang serbacepat, selalu ada cerita-cerita sederhana yang berharga untuk dirawat dan diabadikan.