(Yogyakarta, 23/10/2026) — Pendidikan seni memegang peranan krusial sebagai salah satu pilar ekosistem seni. Untuk menelisik lebih dalam mengenai posisi serta dinamika di baliknya, isu mendasar ini diangkat menjadi benang merah dalam diskusi publik bertajuk “Ide-ide di (Balik) Pendidikan Seni”. Diskusi tersebut diselenggarakan pada Jumat (23/10) pukul 15.00 WIB di Selasar Ruang Pamer, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), sebagai bagian dari rangkaian acara Nandur Srawung #13. 

Diskusi ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Ugo Untoro dari L’asry (Yogyakarta) dan Ade Darmawan dari Gudskul (Jakarta). Moderasi dipandu oleh Tomi Firdaus, kurator muda sekaligus alumni Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, yang menyoroti bagaimana institusi pendidikan formal sering kali kaku dalam merespons perkembangan zaman. “Pendidikan seni formal sering kali terikat oleh administrasi kaku, sehingga bahan ajarnya stagnan dan berjarak dari dinamika zaman,” ujar Tomi. 

Ia menjelaskan bahwa kondisi inilah yang mendorong lahirnya inisiatif independen berbasis pengalaman langsung dan jaringan sosial. Meski tanpa gelar atau sertifikasi resmi, dampaknya terbukti ampuh melegitimasi posisi para praktisi muda di kancah seni nasional maupun global. 

“Sejauh mana ijazah dan formalitas gelar masih relevan dalam mengukur kapasitas aktual seorang subjek seniman di era sekarang?” tanya Tomi. 

Evolusi Ruang Belajar Informal

Dalam pemaparannya, Ade membeberkan perjalanan panjang lahirnya ekosistem belajar mandiri yang bermula dari komunitas Ruangrupa sejak awal 2000-an. Berangkat dari pertemanan lintas kota antara Jakarta dan Yogyakarta, berbagai inisiatif seperti forum mahasiswa 30 Derajat Celsius pada 2004 hingga workshop kuratorial dan kritik seni rupa pada 2007 digelar untuk mengisi celah yang saat itu belum tersentuh oleh akademi formal.

“Waktu itu belum ada studi kuratorial atau tata kelola seni di kampus-kampus. Kita melihat ini sebagai peran yang sangat sedikit difokuskan, sehingga perlu ada platform khusus untuk meresponsnya,” jelas Ade.

Pendidikan Kolektif: Menolak Resep Seragam

Ade menjelaskan bahwa Gudskul kini memetakan 11 subjek pembelajaran, mulai dari kecerdasan kolektif, tata kelola, spasial praktis, hingga kurasi. Namun, Ade menekankan bahwa subjek-subjek ini bukanlah mata kuliah terstruktur yang bersifat top-down atau linier.

“Praktik kolektif itu bukan pengetahuan yang mekanis. Dia adalah pengalaman yang sangat lokal. Apa yang dilakukan teman-teman di Jakarta pasti berbeda dengan di Jogja, Papua, Sulawesi, Lombok, atau Kalimantan,” ujar Ade.

Ade menambahkan bahwa metode yang diterapkan mengedepankan kesetaraan antara pengajar dan peserta didik untuk saling menantang, mengkritisi, serta memproduksi pengetahuan bersama. Melalui model lumbung atau berbagi sumber daya, para peserta didorong untuk terus berpraktik secara interlokal di daerah masing-masing dan menjaga jejaring bahkan setelah program usai. 

Respons L’asry terhadap Pergeseran Kurikulum 

Bagi Ugo Untoro, L'asry hadir bukan untuk menentang perubahan zaman atau menolak eksperimen teknologi seni modern. Kehadiran L'asry adalah bentuk respons atas bergesernya kurikulum akademis formal yang dinilai mulai kehilangan karakter dasar seni rupa Jogja, seperti tradisi melukis langsung di tempat (on the spot), pembuatan sketsa manual, dan pemahaman anatomi serta pencahayaan alami.

“Sekolah seni itu, yang paling mendasar dan bisa dipelajari secara teknis adalah pencahayaan, komposisi, dan anatomi. Tapi di luar itu, ada hal yang tidak bisa dipelajari dari teori saja, yaitu rasa kepekaan,” ujar Ugo.

Mengasah Kepekaan Indrawi di Luar Sekat Akademis 

Ugo menceritakan bahwa untuk melatih kepekaan tersebut, L'asry memberlakukan aturan yang terbilang ketat: para siswanya dilarang menggunakan kamera atau teknologi visual modern selama proses belajar. Seluruh materi, mulai dari nirmana, sketsa, hingga melukis media alternatif, dilakukan secara manual dan on the spot. Para siswa diajak berhadapan langsung dengan realitas, seperti riuhnya pasar sapi, sepinya pemakaman, hingga cuaca ekstrem. Metode indrawi ini memang sempat mengejutkan, tetapi efektif menggembleng mental serta kedalaman artistik peserta. 

“Awalnya mereka mungkin merasa tersiksa, tapi setelah dijalani, banyak yang malah kecanduan.Ada peserta yang awalnya cuma mengambil program pendek satu bulan karena sambil bekerja, akhirnya bela-belain minta izin ke kantornya demi lanjut ke program tiga bulan,” ungkap Ugo. 

Ugo menambahkan, tanpa ijazah maupun akreditasi birokratis, L’asry memilih berjarak dari sistem akademis kaku dan beroperasi mandiri melalui dukungan ekosistem seni lokal. 

Merawat Makna Berkesenian di Tengah Warga 

Ruang refleksi pendidikan seni yang diusung oleh pakar dan praktisi seperti Ugo dan Mas Ade ini menyisakan kesan mendalam bagi para peserta diskusi. Salah satu pendatang baru di ekosistem seni Yogyakarta, Like, mengungkapkan gagasannya usai mengikuti sesi ruang belajar tersebut.

“Ruang diskusi ini mengajak kita melihat lagi makna berkesenian. Seperti cerita Mas Ugo tentang indahnya apresiasi seni tanpa sekat komersial, hingga dorongan Mas Ade agar ruang seni dan kolektif bisa kembali tumbuh dan menyatu dengan masyarakat,” ujar Like.

Ia berharap diskusi reflektif ini terus dihidupkan di Jogja. “Sering kali kita sibuk membicarakan wacana besar, sampai lupa berefleksi tentang alasan mendasar kita berkesenian,” tutupnya. 

Kehadiran ruang belajar alternatif seperti L’asry, Gudskul, hingga berbagai gerakan kolektif independen ini menjadi angin segar di tengah kaku dan seragamnya lanskap seni rupa saat ini. Tidak hanya tempat mengasah teknik menggambar atau berkarya, platform-platform ini mengembalikan hakikat seni sebagai ruang olah rasa, tempat bereksperimen yang merdeka, sekaligus jembatan untuk kembali menyatu dengan masyarakat. Ketika formalitas ijazah tak lagi menjadi jaminan utama kapasitas seorang seniman, keberanian untuk merawat kepekaan dan daya kritis inilah yang akan terus menghidupkan ekosistem seni rupa Yogyakarta ke depan.