(Yogyakarta, 20/06/2026) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar konferensi pers sekaligus doa bersama sebagai bentuk ikhtiar menyambut pelaksanaan Pasar Kangen Taman Budaya Yogyakarta 2026 yang akan berlangsung pada 22–28 Juni 2026 di Taman Budaya Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menyampaikan informasi kepada publik sekaligus memohon kelancaran dan keselamatan seluruh rangkaian acara yang mengusung tema “Ana Upaya, Ana Upa”.
Acara yang dihadiri panitia, perwakilan tenant, seniman, media massa, serta berbagai pihak pendukung tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan. Melalui konferensi pers, penyelenggara memaparkan konsep, program kegiatan, serta berbagai persiapan yang telah dilakukan untuk menyambut salah satu agenda budaya yang telah menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Yogyakarta.
Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa Pasar Kangen TBY 2026 mengangkat tema “Ana Upaya, Ana Upa”, sebuah ungkapan Jawa yang bermakna bahwa setiap usaha akan menghasilkan manfaat dan penghidupan. Tema ini merefleksikan semangat masyarakat dalam merawat tradisi, berkarya, serta membangun kemandirian ekonomi melalui aktivitas budaya yang berkelanjutan.
Selama hampir dua dekade perjalanan Pasar Kangen Taman Budaya Yogyakarta, salah satu akar utama yang terus dijaga adalah semangat ketahanan pangan berbasis budaya. Pasar Kangen tidak hanya menjadi ruang menghadirkan kembali kenangan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga pengetahuan lokal tentang pangan, cara mengolah hasil bumi, serta keberagaman kuliner tradisional yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
Berbagai makanan tradisional yang hadir di Pasar Kangen membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Di balik setiap sajian terdapat pengetahuan turun-temurun mengenai pemanfaatan bahan pangan lokal, kreativitas masyarakat dalam mengolah sumber daya yang tersedia, hingga upaya menjaga keberagaman pangan sebagai bagian dari identitas budaya.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra. Purwiati, menyampaikan bahwa Pasar Kangen bukan sekadar ruang transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan yang menjaga nilai-nilai kebudayaan.
“Pasar Kangen bukan hanya tentang menghadirkan kembali kenangan masa lalu, tetapi bagaimana nilai-nilai yang ada di dalamnya tetap hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat hari ini. Termasuk di dalamnya bagaimana kita menjaga pengetahuan tentang pangan tradisional, karena pangan adalah bagian dari kebudayaan dan cara hidup masyarakat. Ketika tradisi pangan terus dirawat, kita juga sedang menjaga identitas budaya,” ujar Dra. Purwiati.
Tahun ini, Pasar Kangen TBY 2026 berhasil menjaring 687 pendaftar melalui proses seleksi dan kurasi. Dari jumlah tersebut, terpilih 294 tenant, yang terdiri dari 165 tenant kuliner tradisional serta 129 tenant kerajinan, barang antik, dan jasa. Kehadiran para tenant terkurasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman nostalgia sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi budaya di Yogyakarta.
Ketua Pasar Kangen TBY 2026, Ong Hari Wahyu, menjelaskan bahwa perjalanan panjang Pasar Kangen tidak dapat dilepaskan dari upaya menjaga hubungan antara manusia, budaya, dan pangan.
“Akar utama Pasar Kangen selama 20 tahun berjalan salah satunya adalah bagaimana kita menjaga ingatan tentang pangan. Makanan tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi tentang pengetahuan masyarakat dalam mengolah hasil alam, menjaga keberagaman pangan, dan mempertahankan cara hidup yang sudah diwariskan. Ketika pangan lokal tetap hadir, sebenarnya kita sedang menjaga ketahanan budaya sekaligus ketahanan kehidupan,” tutur Ong Hari Wahyu.
Selain menghadirkan beragam kuliner tradisional, benda lawasan, permainan rakyat, dan produk kerajinan, Pasar Kangen TBY 2026 juga akan dimeriahkan oleh Gelar Seni yang melibatkan 19 kelompok kesenian. Berbagai pertunjukan seni tradisi, musik, tari, teater rakyat, hingga wayang kulit akan hadir untuk menghidupkan suasana pasar dan memperkuat fungsi Pasar Kangen sebagai ruang apresiasi budaya bagi masyarakat.
Usai konferensi pers, seluruh tamu undangan mengikuti doa bersama yang dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar penyelenggaraan Pasar Kangen TBY 2026 dapat berjalan dengan lancar, aman, dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat. Doa bersama menjadi simbol kebersamaan antara penyelenggara, seniman, pelaku UMKM, tenant, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan tradisi budaya yang telah menjadi identitas Pasar Kangen selama bertahun-tahun.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta menegaskan bahwa Pasar Kangen merupakan salah satu upaya untuk menjaga ekosistem budaya Yogyakarta agar tetap tumbuh bersama masyarakat. Melalui kegiatan ini, TBY ingin memastikan bahwa budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang kehidupan yang terus bergerak dan memberikan manfaat.
Didukung melalui Dana Keistimewaan DIY Tahun Anggaran 2026, penyelenggaraan Pasar Kangen TBY diharapkan mampu memperkuat pelestarian kuliner tradisional, mendukung pertumbuhan UMKM, mempererat hubungan sosial, serta meningkatkan daya tarik wisata budaya Yogyakarta. Harapan tersebut sejalan dengan semangat tema “Ana Upaya, Ana Upa”, bahwa setiap upaya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menghadirkan manfaat bagi kehidupan bersama.
Pasar Kangen Taman Budaya Yogyakarta 2026 akan berlangsung selama tujuh hari dan terbuka untuk masyarakat umum. Melalui perpaduan antara nostalgia, seni, tradisi, pangan lokal, dan ekonomi kreatif, Pasar Kangen kembali hadir sebagai ruang perjumpaan budaya yang memperkuat identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya.