(Yogyakarta, 13/7/2026) — Pertunjukan seni yang sarat kontemplasi bertajuk “A Mystical Music Dramatic Reading Performance: RUWAT RUWET” sukses digelar di Gedung Societeit, Taman Budaya Yogyakarta pada Minggu malam (12/07). Pementasan ini menjadi puncak sekaligus penutup dari rangkaian panjang program workshop Art Management serta aktivasi situs sejarah. Acara tersebut diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, bekerja sama dengan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) yang telah berkolaborasi sejak tahun 2025.
Perpaduan Sastra Jawa dan Mistisme Islam Mataram
Daya tarik utama pertunjukan ini terletak pada kedalaman lakon Ruwat Ruwet yang diadaptasi dari mahakarya sastra Jawa Serat Sastra Gendhing. Berlandaskan kisah Aji Saka, pertunjukan ini mengontekstualisasikan nilai-nilai mistisisme Islam Mataram yang terkandung dalam Serat Sastra Gendhing, sehingga menghadirkan refleksi mendalam tentang spiritualitas dan kehidupan manusia. Kekayaan makna tersebut kemudian disajikan melalui metode dramatic reading yang kuat secara naratif dan semakin hidup dengan iringan aransemen musik karya Megatruh Sound System.
Tantangan Kreatif bagi Generasi Muda
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menyampaikan bahwa pementasan oleh Pasukan Sultan Agung ini merupakan karya dari pemenang Art Management Workshop tahun lalu yang mengusung tema Poros Mataram Islam. Menurutnya, pertunjukan ini menjadi jawaban atas tantangan dari Dinas Kebudayaan kepada generasi muda untuk terus menggali akar budaya mereka.
“Inilah tantangan-tantangan kami dari Yogyakarta yang memberikan materi untuk teman-teman kami, generasi muda, untuk mengeksplorasi dan memaknai kembali jejak-jejak dalam leluhur masa lalu,” ujar Dian.

Dian menjelaskan adanya temuan menarik dalam proses kreatif pertunjukan ini. Saat meriset di Museum Purbakala Pleret, Pasukan Sultan Agung menemukan harta karun literasi berupa Serat Sastra Gendhing. Mahakarya sastra tersebut digali lebih dalam, khususnya pada pupuh keempat, untuk menjadi ruh dari pertunjukan dramatic reading Ruwat Ruwet.
Sentilan Politik Lewat Kisah Aji Saka
Sebelum penonton dibawa menyelami narasi utama, pementasan malam itu dibuka dengan penampilan memukau dari kelompok Nali Tari. Mereka membawakan sebuah tarian simbolis yang sarat makna berjudul Kabsar.
Memasuki menu utama, trio penampil Ari Hamzah, Kiki Pea, dan Djati Wowok bersama Tim Sultan Agung mengajak penonton menyelami kembali kisah legendaris Aji Saka. Melalui perpaduan musik simfoni orkestra yang megah dan pembacaan teks dramatis yang kuat serta sesekali disisipi sindiran terhadap kondisi politik di Indonesia saat ini, kisah asal-usul aksara Jawa tersebut bertransformasi menjadi cermin besar bagi masyarakat modern.

Ruwat Ruwet Show malam itu tertuju pada kisah Aji Saka, sebuah narasi asal-usul aksara Jawa yang sarat akan makna kekuasaan, kesetiaan, dan tragedi Dora dan Sembada. Dengan memadukan metode dramatic reading, aransemen musik, tata cahaya, serta elemen visual, pertunjukan ini menyuguhkan sebuah pengalaman multisensori yang utuh. Penonton diajak menyelami emosi karakter sekaligus merenungkan hakikat kemanusiaan. Pertunjukan ini membuktikan bahwa sejarah tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus didengar, dirasakan, dan dihidupkan kembali di atas panggung.
Pengalaman Multisensori yang Memukau Penonton
Totalitas performa dan kedalaman materi yang disajikan malam itu sukses meninggalkan kesan mendalam bagi penonton di ruang pertunjukan. Salah satu apresiasi datang dari Alia, penonton asal Jakarta yang sengaja hadir karena terpukau oleh eksekusi pementasan yang di luar ekspektasinya.
“Aku selama nonton ini gokil banget. Aku enggak nyangka bisa segokil itu karena selain mereka tahu banget soal detail acaranya, karakter suara penampilnya juga bulat banget. Jujur, keren banget menurut aku,” ungkap Alia.

Melalui pementasan ini pula terselip pesan kuat tentang pentingnya memahami esensi terdalam dari identitas bangsa. Ketika seseorang ingin menjadi jalma utama atau manusia utama yang mampu membangun dan mempertahankan peradaban besar, maka kunci utamanya ada pada bagaimana kita menjaga, menghargai, dan menghidupkan kembali bahasa serta aksara kita.
Ruwat Ruwet menjadi refleksi budaya yang menyentil kondisi manusia hari ini. Pertunjukan ini menggambarkan fenomena di mana banyak orang merasa sudah berjalan sampai ke tujuan hidup mereka, namun pada kenyataannya justru berbalik arah dan tersesat. Banyak pula manusia modern yang salah mengira, gagal memahami arti kehidupan yang sesungguhnya, dan terjebak dalam keyakinan semu yang sebenarnya hanyalah sekadar mainan kata-kata yang dibolak-balik.