(Yogyakarta, 30/09/2026) — Setiap daerah datang membawa karya dan ceritanya masing-masing. Ada kain khas, kalung, kerajinan, hingga beragam cinderamata yang merepresentasikan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat di daerah asalnya.

Dalam rangkaian Temu Karya Taman Budaya (TKTB) XXV di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), karya-karya tersebut bertemu dalam sebuah tradisi sederhana namun penuh makna: penyerahan tanda tresna atau cinderamata khas daerah.

Momen itu berlangsung dalam jamuan makan malam para Kepala Taman Budaya dan perwakilan Dinas Kebudayaan dari berbagai daerah di Gedung Societeit Militair, TBY, Selasa (29/9). Bukan sekadar tukar cinderamata, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal melalui karya yang dibawa dari daerah masing-masing.

Dari Karya Daerah, Lahir Cerita

Satu per satu perwakilan daerah menyerahkan cinderamata khas kepada Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati.

Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, Banten, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, Bengkulu, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Jawa Timur hadir membawa tanda tresna dari daerah masing-masing.

Kain dan aksesori khas daerah menjadi bagian dari cinderamata yang diberikan. Di balik bentuk dan motifnya, tersimpan cerita tentang tradisi, keterampilan tangan, serta kreativitas masyarakat yang terus tumbuh dan diwariskan.

Cinderamata tersebut juga memperlihatkan bagaimana karya lokal dapat menjadi bagian dari perjumpaan antardaerah. Produk yang mungkin sehari-hari dijumpai di daerah asalnya, dalam momentum TKTB XXV berubah menjadi media untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya kepada para tamu dari berbagai penjuru Nusantara.

Bagi para pelaku usaha dan perajin lokal, karya semacam ini bukan hanya benda yang memiliki nilai ekonomi. Ia juga membawa nama daerah, memperkenalkan karakter budaya, sekaligus membuka ruang perjumpaan dengan masyarakat dari daerah lain.

Tanda Tresna yang Mempertemukan Nusantara

Tradisi tanda tresna menjadi salah satu bagian yang membuat suasana malam itu terasa hangat. Setiap cinderamata membawa ciri khasnya sendiri, tetapi seluruhnya bertemu dalam satu ruang dan satu peristiwa.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menerima langsung berbagai cinderamata tersebut sebagai bentuk penghormatan dan kenang-kenangan dari para kontingen.

Di tengah keberagaman bentuk, bahan, warna, dan cerita yang dibawa, ada satu pesan yang sama: kebudayaan tumbuh melalui perjumpaan.

TKTB XXV mempertemukan para pengelola Taman Budaya dari berbagai wilayah Indonesia. Pertemuan itu tidak hanya berlangsung melalui diskusi dan pementasan seni, tetapi juga melalui karya-karya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dari tangan perajin, pelaku UMKM, dan masyarakat di berbagai daerah, karya-karya tersebut kemudian berjalan lebih jauh—menjadi tanda tresna yang mempertemukan satu daerah dengan daerah lainnya.

Ketika Cinderamata Menjadi Cerita

Usai prosesi penyerahan cinderamata, para Kepala Taman Budaya dan rombongan melanjutkan kebersamaan dengan menyaksikan pertunjukan seni dari berbagai daerah di Concert Hall TBY.

Malam itu memperlihatkan satu hal sederhana: keberagaman Nusantara tidak selalu harus diperkenalkan melalui sesuatu yang besar. Sebuah kain, kalung, kerajinan, atau cinderamata khas daerah pun dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal cerita di baliknya.

Dalam TKTB XXV, karya-karya daerah tersebut bertemu, bertukar cerita, dan menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan yang lebih luas.

Sebab, ketika karya dari berbagai penjuru Nusantara dipertemukan, yang bertemu bukan hanya benda, tetapi juga cerita, tradisi, kreativitas, dan identitas masyarakat yang membuatnya.