(Yogyakarta, 08/10/2025) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menghadirkan wadah diskusi mengenai seni budaya Jawa dengan menyelenggarakan Sarasehan Seni Budaya: Karawitan dan Nilai Kehidupan. Sarasehan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam esensi dari seni karawitan, tidak hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga sebagai sumber nilai-nilai yang relevan bagi kehidupan sehingga dapat menjadi panduan hidup di masa kini. 

Acara dibuka oleh Pardiman Joyonegoro, yang mengakui adanya perkembangan positif dalam pelestarian karawitan. Namun, ia menekankan bahwa masih banyak potensi yang harus digarap lebih lanjut. “Sebenarnya masih ada peluang lagi karawitan hubungannya dengan nilai dan budaya,” ujarnya, memicu diskusi utama sarasehan.

Karawitan: Jantung Toleransi dan Gotong Royong

Anggota Komisi D DPRD, Dra. Sri Muslimatun, M.Kes., menyoroti karawitan sebagai seni musik tradisional yang mengandung nilai budaya dan filosofi yang sangat mendalam. Namun, ia mengkritisi baahwa karawitan saat ini berisiko hanya menjadi gambar dalam bingkai yang mewah. 

“Karawitan dan budaya Jawa itu hari ini hanya menjadi gambar dalam bingkai yang mewah. Memang mewah, luar biasa,” ujarnya. Ia menyoroti tingginya keahlian yang dibutuhkan oleh para pelakunya. “Enggak gampang lho, jadi niyaga. Enggak gampang juga jadi waranggana,” tambahnya. 

Sri Muslimatun mengaitkan karawitan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam konteks toleransi dan keteladanan. Ia menyampaikan bahwa karawitan mencerminkan kedamaian dan non-diskriminasi, di mana lakon dan tontonannya memiliki peran. 

“Apa ada Pak Dalang ngomong agama? Enggak ada, kan?” tanyanya retoris. Menurutnya, lakon dan tontonan dalam karawitan memiliki peran sebagai tatanan (aturan hidup), tontonan (hiburan yang menyegarkan), dan tuntunan yang membuat penonton dari tidak mengerti menjadi mengerti. “Ini kan damai, ini, yang tidak membeda-bedakan,” pungkasnya. 

Lebih lanjut, ia juga menyoroti bahwa karawitan adalah esensi dari kerja tim yang harmonis dan gotong royong. Dalam tim karawitan, jika salah satu penabuh melakukan kesalahan, anggota tim lain secara naluriah akan menutupi atau memperbaiki kesalahan tersebut. “Buktinya, kalau ada yang salah, ditutupi,” tegasnya. 

Rasa Indah dan Etika sebagai Landasan dalam Karawitan

Pembicara berikutnya, Murhadi B.A., berfokus pada rasa indah sebagai anugerah ilahi yang mendasari kecintaan manusia pada keindahan. Rasa indah ini, yang juga berkaitan dengan bakat, menjadi landasan utama dalam menguasai seni.

“Dados, kalau ada orang yang mengatakan, ayo belajar gamelan, aku ora bakat. Ada yang ngomongnya gitu. Nah niki, ini suatu sikap yang sebetulnya kurang tepat.” Murhadi merangkum bahwa setiap orang dapat menguasai bidang dengan landasan indah dan adanya minat. 

“Pertama, dilandasi rasa indah, kedua, kalau ada minat, itu mesti bisa,” pungkasnya.

Selain itu, ia menekankan bahwa praktik menabuh gamelan secara simultan mengajarkan etika. Gamelan berfungsi sebagai simbol yang maknanya dirancang untuk mengingatkan manusia pada nilai-nilai etika. “Orang nabuh gamelan itu di situ sekalian mengingatkan bahwa itu mengajari etika,” jelasnya. Ia juga memberikan contoh ketika seseorang memasuki suatu kawasan yang mewajibkan berperilaku baik, pesan tersebut tidak disampaikan secara tertulis namun berupa simbol pohon sawo kecik — turunan sarwo becik (serba baik). 

Evolusi Sajian Karawitan dan Dinamika Kehidupan Masyarakat

Muchlas Hidayat, S.Sn., seorang pegiat seni, melanjutkan pemaparan dengan menyoroti bagaimana evolusi sajian karawitan mencerminkan kompleksitas dan dinamika kehidupan bermasyarakat, mulai dari hubungan yang sederhana hingga tantangan sosial yang lebih luas.

“Ada sajian Siteran biasanya mung siter sama sinden. Tu kalau diibaratkan, ya, orang berpasangan rembukannya pasti gampang. Cokekan itu kita tambah lagi, tambah gender, tambah suling, tambah kendang. Yang tadi dua orang, ini menjadi empat sampai lima orang. Ibaratnya ya satu keluarga, bapak, ibu, dengan anaknya. Sudah banyak dinamikanya. Sudah banyak masalah yang ada di dalamnya,” jelasnya. 

Muchas melanjutkan penjelasannya, “Kemudian, naik lagi, Gardon. Gardon mungkin bisa sampai delapan sampai sepuluh orang. mungkin kita bisa ibaratkan satu RT atau RW, semakin kompleks masalah, tetapi sisi positifnya, kalau gotong royong ya semakin dapat banyak, karena semakin banyak,” pungkas Muchlas.

Karawitan: Warisan yang Harus Tetap Hidup sebagai Tuntunan

Melalui sarasehan ini, Taman Budaya Yogyakarta menegaskan bahwa karawitan jauh melampaui dari sekedar musik atau seni pertunjukan. Dari kritik Sri Muslimatun yang tidak ingin karawitan hanya menjadi 'gambar dalam bingkai mewah', hingga penekanan Murhadi tentang landasan rasa indah dan etika dalam praktik menabuhnya, semua pembicara sepakat bahwa karawitan adalah esensi dari nilai kehidupan.

Dari karawitan ini mengajarkan toleransi, gotong royong, dan kerja tim harmonis — sebuah cerminan yang dibutuhkan dalam masyarakat yang semakin kompleks, sebagaimana diilustrasikan oleh Muchlas Hidayat melalui evolusi sajian karawitan. Dengan adanya peluang besar yang ditekankan oleh Pardiman Joyonegoro, tantangan bagi pelaku seni dan budaya adalah memastikan karawitan tidak hanya dilestarikan sebagai