(Yogyakarta, 30/09/2026) — Rangkaian Temu Karya Taman Budaya (TKTB) ke-25 yang menampilkan pertunjukan seni dan budaya dari delegasi Taman Budaya se-Indonesia yang digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Selasa (29/9). Perhelatan tahunan ini menjadi wadah apresiasi, panggung ekspresi, sekaligus sarana mempererat tali silaturahmi antar-kontingen seni budaya Nusantara. 

Dipandu oleh yaitu Dhani Dananjaya dan Fira Sasmita, antusiasme penonton tampak luar biasa hingga memadati seluruh kursi Concert Hall TBY. Acara ini turut dihadiri langsung oleh Kepala Taman Budaya DIY, Dra. Purwiati, bersama para Kepala Taman Budaya se-Indonesia serta pejabat daerah lainnya yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan para delegasi

Keputren Surosowan, Kesetiaan Mbok Sumarnah dari Banten

Sebagai penampil perdana dari tujuh kontingen yang tampil, Taman Budaya dan Museum Provinsi Banten menyajikan drama tari berjudul Kaputren Surosowan. Sajian drama tari ini mengangkat narasi sejarah Kesultanan Banten pada masa kejayaannya saat Pelabuhan Banten dipadati kapal-kapal dagang dari Gujarat, Arab, hingga Cina. Alih-alih berfokus pada sosok raja atau pertempuran, pementasan ini menyoroti kisah Mbok Sumarnah, seorang perempuan rakyat biasa dari Kasunyatan yang mengabdi di lingkungan keraton.

Nyemulak Sade Reborn, Kebangkitan Jiwa dan Tradisi Lombok dari NTB

Tak kalah memukau, pertunjukan dilanjutkan oleh Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menyajikan rekonstruksi Nyemulak Sade Reborn. Pementasan ini berangkat dari peristiwa memilukan saat musibah kebakaran melalap Dusun Adat Sade di Lombok, rumah kenangan budaya bagi masyarakat Sasak. Pementasan menggambarkan bagaimana duka dan air mata masyarakat Sade perlahan sirna oleh simpati dunia serta kesadaran akan takdir. Dari puing-puing bencana, perempuan-perempuan perkasa Sade bangkit meneriakkan semangat Bismillah, Nyemulak! untuk menghimpun kembali ingatan yang terserak dan membangun kembali apa yang telah runtuh. 

Sa Laksa Wujud Syukur Kolektif dari Jawa Barat

Sebagai penampil ketiga, UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat menghadirkan karya dramaturgi memikat berjudul Sa Laksa. Karya ini berpijak dari filosofi tradisi Ngalaksa yang hidup di tengah masyarakat Rancakalong, Jawa Barat. Melalui gerak dan rasa yang selaras, pementasan ini menggambarkan bahwa rasa syukur bukanlah milik individu semata, melainkan pengalaman kolektif yang menghubungkan manusia dengan sesama, alam, serta sang Pencipta.

Lantunan Musik Tradisi dari Taman Budaya Provinsi Bengkulu

Selanjutnya, kontingen Taman Budaya Provinsi Bengkulu naik keatas panggung menyanyikan lagu berjudul Pantai Malabero. Panggung semakin hangat saat Kepala Taman Budaya Bengkulu turun langsung membawakan lagu daerah Bekatak Kurak Kariak. Penampilan istimewa dari pimpinan dan perwakilan kontingen ini memberi warna tersendiri dan disambut antusias oleh para Kepala Taman Budaya se-Indonesia.

Lang Nginang, Pesona Kekuatan Spiritual Dayak Mualang dari Kalimantan Barat 

Giliran UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat unjuk kebolehan lewat karya tari memukau bertajuk Lang Nginang. Karya ini berakar dari tradisi tari ritual suku Dayak Mualang di Kabupaten Sekadau. Lang yang berarti elang dan Nginang  yang berarti mengintai, merepresentasikan kepakan serta ketajaman gerak burung elang yang dipadukan secara harmonis dengan motif tari pinggan. Diiringi irama tebah tawa, tebah unop, serta kidung bedarak yang sakral.

Taji Pengubat Jiwo, Ritual Sedekah Obat dari Sumatera 

Tidak kalah menggugah, kontingen Taman Budaya Sriwijaya Sumatera Selatan menyajikan naskah teater bernuansa spiritual berjudul Taji Pengubat Jiwo, Mantra Sedekah Obat Desa Jermun, Pampangan. Mengisahkan penderitaan warga Desa Jermun, Pampangan akibat krisis kekeringan panjang, gagal panen, hingga wabah penyakit. Tokoh Dayang Utama bersama tujuh wanita desa berinisiatif memohon pertolongan Yang Mahakuasa dengan menghidupkan kembali ritual Sedekah Obat.

Pambelum Batang Garing dari Kalimantan Tengah

Sajian terakhir dari, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah lewat karya tari bertajuk Pambelum. Berakar dari pemaknaan Batang Garing atau pohon kehidupan sebagai identitas spiritual masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, pementasan ini menghadirkan harmonisasi hubungan antara Sang Pencipta, alam, dan manusia melalui alunan gerak. Karya Pambelum menjadi bentuk refleksi kehidupan modern, dimana manusia beradaptasi dengan perubahan zaman dan lingkungan tanpa melepaskan akar budaya serta nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh leluhur. 

Bertabur Bintang Tamu dan Antusiasme Penonton

Kemeriahan TKTB ke-25 semakin lengkap dengan hadirnya jajaran bintang tamu yang menghibur pengunjung setiap malamnya. Setelah sebelumnya dihibur oleh Tyok Satrio, Marcelia, Princess Alicia, hingga Ndarboy Genk, panggung TKTB malam ini dimeriahkan oleh penampilan Ngatmombilung. Grup musik ini berasal dari Yogyakarta yang bergenre Pop Jawa ini sukses membangun ruang emosional antara musisi dan pendengar hingga kompak bernyanyi bersama. 

Keseruan ini dipastikan akan terus berlanjut hingga malam-malam berikutnya dengan penampilan dari Pendhoza serta penutup megah dari Jogja Hip Hop Foundation. 

Di antara ribuan pasang mata yang memadati area pertunjukan, hadir Rere bersama temannya yang sengaja datang ke Concert Hall TBY untuk menyaksikan kemeriahan seni tradisi ini. “Jujur, terharu banget menyaksikan pertunjukan dari berbagai daerah ini. Aku sama teman kesini buat nonton, dan penampilan mereka benar-benar memutar memori masa kecilku yang dulu juga seorang penari,” ujar Rere. 

Wadah Kolaborasi Seni Budaya Nasional

TKTB ke-25 ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang unjuk kebolehan pertunjukan seni semata, namun juga sebagai ruang strategis bagi pemangku kebijakan budaya untuk merumuskan arah pengembangan program kebudayaan, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta memperkuat jejaring kolaborasi kebudayaan secara nasional. Rangkaian pagelaran seni dari berbagai provinsi di Indonesia masih akan terus berlangsung selama beberapa hari ke depan di Concert Hall TBY menyajikan ragam identitas tradisi yang terus dirawat dan diwariskan bagi generasi muda Indonesia.