(Yogyakarta, 09/06/2026) — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar perayaan Hari Jadi dengan penuh rasa syukur dan bahagia pada Selasa (9/6). Bertempat di Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta (TBY), perayaan tahun ini dirangkaikan secara harmonis dengan Peringatan Peristiwa Bersejarah Jogja Kembali. Momentum ini menjadi ajang refleksi bagi keluarga besar Dinas Kebudayaan DIY, termasuk para pegawai dari Museum Negeri Sonobudoyo, Taman Budaya Yogyakarta, serta Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi untuk mengenang kembali semangat perjuangan sekaligus melestarikan tradisi lokal.

Momentum Hari Jadi ini merupakan tonggak pengikat komitmen seluruh jajaran dalam mengemban amanah keistimewaan. Melalui penelaahan mendalam terhadap regulasi dan implementasi masa lalu, perayaan ini menjadi penegas sejarah atas disepakatinya tanggal 5 Juni 1997 sebagai hari lahir resmi Kundha Kabudayan DIY. Lebih dari sekadar selebrasi tahunan, ruang refleksi bersama dihadirkan untuk menghormati perjuangan para tokoh perintis terdahulu, sekaligus untuk memotivasi aparatur muda agar mampu bertransformasi menjadi benteng penjaga peradaban yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Suasana semarak sendiri mulai terasa saat pukul 08.00 WIB lewat penampilan pra-Acara dari Extravagongso, yang sukses memukau hadirin dengan harmonisasi alunan musik yang dinamis. Setelah itu, Master of Ceremony (MC) secara resmi membuka jalannya perayaan dengan pembacaan doa bersama.
Acara kemudian dilanjutkan, sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A. Dalam sambutannya, beliau mengulas kembali sejarah awal berdirinya instansi berdasarkan hasil kajian regulasi. “Kami bersepakat untuk memilih tanggal 5 Juni tahun 1997 sebagai hari lahir Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta,” ungkap Dian.

Lebih lanjut, Dian Lakshmi menjelaskan bahwa perayaan tahun ini sengaja mengusung konsep kekeluargaan yang sarat akan nilai penghormatan kepada para perintis lembaga (founding fathers). “Peringatan Peristiwa Jogja Kembali tidak lain dan tidak bukan adalah momen bagi kami untuk mengumpulkan kembali keluarga besar Dinas Kebudayaan. Bagi kami, prinsip mikul dhuwur mendhem jero itu menjadi bagian yang penting,” ujar Dian.
Secara khusus, Dian juga menyampaikan rasa takzim dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para mantan pimpinan serta tokoh perintis kebudayaan yang hadir.
“Pada kesempatan ini, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para senior yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Apa yang ada sekarang ini sebenarnya adalah trah DNA yang diwariskan kepada kami. Saya berdiri, baik secara pribadi maupun kedinasan, di sini, tidak lain dan tidak bukan adalah bentukan dari para senior kami,” tuturnya.
Mengakhiri sambutannya, Dian menegaskan komitmen dinas terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas publik, di mana sikap rendah hati serta keterbukaan terhadap kritik konstruktif menjadi modal utama dalam menyempurnakan khidmah kebudayaan di Yogyakarta.
Kemeriahan acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan line dance yang memukau dari jajaran staf Dinas Kebudayaan DIY, membawa suasana perayaan menjadi semakin hangat dan penuh kebersamaan. Setelah itu, dilanjutkan sambutan oleh Ir. Condroyono, selaku mantan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, memberikan sambutan Purna Tugas. Beliau menyampaikan kilas balik perjuangan instansi, menceritakan bahwa pada awalnya, posisi kebudayaan belum menjadi prioritas kelembagaan.
“Pertama kali, kebudayaan itu hanya sebagai salah satu bidang di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal sejak dulu, Jogja itu sudah ngerek bendera (dikenal sebagai) pusat pendidikan, pusat kebudayaan, dan tujuan utama wisata Indonesia,” kenang Condroyono.

Bagi Condroyono, kebudayaan bukanlah sekadar urusan peninggalan masa lalu atau pentas seni belaka, melainkan sebuah ruang maha luas yang memiliki keistimewaan untuk menyentuh dan merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat. “Jaringan kebudayaan itu tidak ada batasnya. Apa saja bisa jadi kebudayaan,” ujarnya.
Ia berharap dengan dukungan fasilitas dan anggaran yang jauh lebih besar saat ini, Dinas Kebudayaan DIY ke depan bisa terus bergerak leluasa agar eksistensi Yogyakarta sebagai pusat budaya benar-benar riil dan tidak hanya berhenti pada slogan atau euforia semata
Usai sesi sambutan, suasana gedung seketika pecah oleh gelak tawa hadirin berkat aksi jenaka komika Udin Amstrong lewat stand-up comedy-nya. Kemeriahan pun berlanjut dengan penampilan apik paduan suara dari internal Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY. Memasuki selanjutnya, panggung langsung diambil alih oleh pementasan Teater Drama Tradisional persembahan staf internal yang mengangkat lakon berjudul Kungkum.
Sebagai penutup, prosesi pemotongan tumpeng digelar khidmat sebagai simbol rasa syukur atas HUT Dinas Kebudayaan DIY. Langkah demi langkah acara terus bergulir hingga tiba pada momen penting, yaitu penyerahan estafet penyelenggaraan HUT tahun 2027 yang kini resmi berlabuh di Museum Sonobudoyo. Seluruh rangkaian acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama di atas panggung serta ramah tamah yang menyempurnakan kehangatan hari jadi tersebut.

Melalui perpaduan momen refleksi sejarah dan selebrasi budaya ini, Dinas Kebudayaan DIY meneguhkan kembali langkahnya ke depan. Bukan sekadar merayakan bertambahnya usia, momentum ini menjadi mesin penggerak bagi seluruh elemen instansi untuk terus menjaga, merawat, dan menghidupkan khazanah budaya Yogyakarta agar tetap kokoh melintasi zaman.