(YOGYAKARTA - 20/03/2026) — Menyambut hari kemenangan Idulfitri 1447 H/Tahun Dal 1959, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar rangkaian tradisi tahunan yang sarat makna, yaitu Hajad Dalem Garebeg Sawal. Puncak prosesi tradisi ini dilaksanakan pada Jumat (20/03), dimulai tepat pukul 08.30 WIB, sebagai bentuk rasa syukur Sultan atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. 

Melalui tradisi ini, Sultan memberikan sedekah kepada rakyatnya dalam wujud berbagai bentuk gunungan berisikan ubarampe kekayaan hasil bumi. Dalam prosesi kali ini, meski tidak ada gajah dalam arak-arakan gunungan prosesi Garebeg Sawal berjalan dengan dengan meriah. Arak-arakan gunungan hasil bumi dikirab dan dibagikan kepada masyarakat di beberapa lokasi seperti Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, Ndalem Mangkubumen, dan Kompleks Kepatihan. 

Arak-arakan gunungan tersebut dikawal oleh barisan prajurit keraton. Barisan terdepan dibuka dengan gagah oleh Prajurit Jager, yang kemudian diikuti oleh Prajurit Suranata yang bertugas mengawal Abdi Dalem Pengulon dan Kanca Kaji menuju Masjid Gedhe Kauman. Kemudian, disusul oleh prajurit ikonik seperti Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Langenkusuma, hingga Sumahatmaja. Mereka membentuk formasi rapi yang mencerminkan kesinambungan tradisi Keraton Yogyakarta.

Rekonstruksi Tradisi Nyadong di Kepatihan

Di Kompleks Kepatihan, Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Daerah (Pemda) DIY telah bersiap menerima bagian dari gunungan tersebut. Penyerahan ini dilakukan melalui prosesi nyadong atau penjemputan gunungan, sebuah upaya rekonstruksi tradisi lama yang dahulu dilakukan oleh Patih Danurejo pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. 

Tahun ini, bagian gunungan yang diberikan berupa pareden wajik yang berjumlah lebih dari 150 buah. Prosesi nyadong ke Keraton Yogyakarta dipimpin langsung oleh Paniradya Pati Kaistimewaan DIY, Kurniawan, didampingi oleh jajaran pejabat daerah lainnya. Setelah mengikuti doa bersama di Masjid Gedhe Kauman, para utusan ini berjalan mengawal iring-iringan Bregada Bugis yang membawa pareden wajik menuju pusat pemerintahan daerah. 

Setibanya di Pendopo Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan, pareden wajik tersebut diserahterimakan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti. Dalam sambutannya, Ni Made mengungkatkan terima kasih yang mendalam serta memanjatkan doa agar Sri Sultan Hamengku Buwono X senantiasa diberkahi keselamatan. 

“Pemberian ini saya terima. Semoga dapat memberikan keberuntungan, kedamaian, serta kerukunan di DIY,” ujar Ni Made. 

Pareden Wajib Wujud Mangayubagya Raja

Sebagai penutup prosesi, pareden wajik yang merupakan simbol mangayubagya atau kegembiraan Raja atas datangnya Idulfitri ini dibagikan kepada ASN Pemda yang hadir. Ditemui diakhir prosesi Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, menekankan bahwa pareden atau gunungan kecil tersebut bukan sekadar ubarampe fisik, melainkan simbol ikatan batin dan rasa syukur dari Sultan.

“Bagi kami ini maknanya sangat dalam karena ini bagian dari wujud ucap syukur beliau Raja kepada kami para Kaprajan,” ungkap Dian. 

Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan agar berkah tersebut membawa kebaikan bagi seluruh elemen di Yogyakarta. “Kami berharap dengan pareden ini kami berdoa semoga beliau beserta seluruh keluarga dan juga masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta selalu diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan keamanan,” tambah Dian.

Kemeriahan tradisi Garebeg Sawal tidak hanya menyedot perhatian warga lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah. Salah satunya adalah Sherly, pengunjung asal Jakarta Selatan, yang sengaja bersama anak-anaknya untuk menyaksikan secara langsung. 

“Ini adalah perayaan yang memang baru pertama kali saya dan anak-anak tonton. Kesannya sih extravaganza juga ya, luar biasa. Karena memang saya pribadi suka sejarah, jadi melihat kegiatan yang dilakukan dari tahun ke tahun sejak zaman dulu itu senang banget,” kata Sherly. 

Pelaksanaan Hajad Dalem Garebeg Sawal tahun ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi Keraton Yogyakarta tetap menjadi pilar identitas yang hidup dan relevan bagi masyarakat. Dengan berakhirnya seluruh rangkaian prosesi, semangat kemenangan Idulfitri 1447 H diharapkan membawa kedamaian, kerukunan, dan keselamatan bagi seluruh elemen masyarakat.