(Yogyakarta, 21/04/2026) — Di tengah denyut Yogyakarta sebagai simpul kebudayaan, tujuh belas kepala Taman Budaya dari berbagai provinsi membentang dari Sumatra hingga Maluku duduk dalam satu meja panjang yang sama. Pertemuan itu bukan sekadar agenda koordinasi, melainkan ruang batin untuk merawat sesuatu yang tak kasatmata namun esensial: rasa. Rapat Koordinasi Forum Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia yang berlangsung pada 21–23 April 2026 menjadi ruang temu gagasan, sekaligus jeda reflektif untuk menimbang arah kebudayaan Indonesia di tengah arus perubahan zaman.
Forum ini memegang peran strategis dalam memperkuat sinergi lintas daerah, menyatukan persepsi, serta memastikan kesiapan menuju penyelenggaraan TKTB XXV yang akan digelar pada September 2026. Dalam suasana yang hangat namun tetap produktif, para peserta tidak hanya bertukar pikiran, tetapi juga merumuskan langkah-langkah konkret—baik dari sisi teknis maupun konseptual agar perhelatan mendatang tidak sekadar berlangsung, melainkan bermakna.
Sejumlah isu krusial menjadi fokus pembahasan. Mulai dari arah kebijakan pengembangan seni budaya di daerah, penguatan fungsi Taman Budaya sebagai pusat kreativitas dan laboratorium budaya, hingga tantangan aktual dalam pengelolaan kebudayaan di era digital yang serba cepat. Diskusi juga mengerucut pada kesiapan masing-masing daerah, termasuk gagasan karya yang akan ditampilkan sebuah upaya memastikan bahwa setiap partisipasi bukan hanya representatif, tetapi juga relevan.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra. Purwati, membuka ruang dialog melalui laporan yang tak hanya informatif, tetapi juga reflektif. Ia menegaskan bahwa menjadi tuan rumah bukan semata perkara kesiapan infrastruktur, melainkan kesiapan batin dalam menyambut keberagaman.
“Taman Budaya bukan hanya ruang pertunjukan, tetapi ruang pertemuan nilai. Di sinilah keberagaman dirawat agar tetap hidup, sekaligus menemukan relevansinya di tengah perubahan zaman. Menjadi tuan rumah berarti membuka ruang seluas-luasnya bagi perjumpaan, bukan hanya karya, tetapi juga pengalaman kultural yang saling menguatkan,” ujarnya.
Nada serupa disampaikan Ketua Forum Taman Budaya se-Indonesia, Ary Heriyanto, S.STP., M.M. Ia melihat forum ini sebagai simpul penting yang menjahit keberagaman menjadi kekuatan kolektif.
“Kita datang dari latar budaya yang berbeda, dengan bahasa ekspresi yang beragam. Namun justru di situlah kekuatan kita. Forum ini bukan sekadar wadah koordinasi administratif, tetapi ruang kolaborasi yang memungkinkan kita saling belajar, saling mengisi, dan memastikan bahwa kebudayaan tetap menjadi arus utama dalam pembangunan,” kata Ary.
Dari tingkat nasional, perspektif pemerintah disampaikan oleh Ike Rofiqoh Fazri, S.H., M.Kn., perwakilan Kementerian Kebudayaan RI. Ia menekankan pentingnya tata kelola kebudayaan yang adaptif tanpa tercerabut dari akar tradisi.
“Pengelolaan kebudayaan hari ini menuntut keseimbangan antara menjaga dan mengembangkan. Tradisi tidak boleh berhenti sebagai arsip masa lalu, tetapi harus terus hidup sebagai praktik yang dihidupi masyarakat. Di sinilah pentingnya inovasi yang tetap berpijak pada nilai,” ujarnya.
Sementara itu, sambutan Kepala Dinas Kebudayaan DIY yang dibacakan oleh sekretaris dinas, Drs. Budi Husada, menegaskan posisi Yogyakarta sebagai ruang bersama bagi kebudayaan Indonesia.
“Yogyakarta bukan hanya tuan rumah secara geografis, tetapi juga secara kultural. Kami ingin memastikan setiap daerah yang hadir merasa memiliki ruang yang setara untuk berekspresi, berkolaborasi, dan menampilkan identitasnya secara utuh,” tuturnya.

Penguatan sumber daya manusia menjadi sorotan dalam paparan Direktur Bina SDM Lembaga dan Pranata Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, S.S., M.AP. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan kebudayaan sangat bergantung pada manusia yang menghidupinya.
“Kebudayaan tidak akan berjalan tanpa pelaku yang memiliki kapasitas, sensitivitas, dan komitmen. Karena itu, penguatan SDM bukan hanya pelengkap, tetapi fondasi utama dalam menjaga ekosistem kebudayaan agar terus tumbuh dan berdaya,” jelasnya.
Menutup rangkaian sambutan Sekretaris Daerah DIY, yang di wakilkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., membawa forum ini pada satu simpul makna yang lebih dalam kebudayaan sebagai perekat bangsa.
“Melalui TKTB, kita tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga mempertemukan rasa. Di situlah Indonesia dirawat bukan hanya sebagai wilayah geografis, tetapi sebagai pengalaman bersama yang terus diperbarui melalui perjumpaan budaya. Sinergi yang terbangun diharapkan mampu mendorong kualitas penyelenggaraan TKTB menjadi lebih inklusif, representatif, dan berdampak luas bagi masyarakat,” ucapnya.

Momentum simbolik peluncuran logo dan tema TKTB XXV 2026 bertajuk “Gyaning Rasa Mantraning Nusantara” menjadi penegasan arah gerak tersebut. Tema ini menempatkan rasa sebagai sumber pengetahuan sekaligus energi pemersatu sebuah gagasan yang menegaskan bahwa kebudayaan tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan dan dihidupi.
Rapat koordinasi ini tidak berhenti pada diskusi. Para peserta menyepakati keikutsertaan serta nomor urut penampilan masing-masing daerah, sekaligus melakukan peninjauan langsung ke sejumlah venue di Taman Budaya Yogyakarta. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan ruang, baik secara teknis maupun atmosferik.
Sebagai tuan rumah, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki peran strategis dalam memastikan keberhasilan pelaksanaan TKTB XXV 2026. Selain dikenal sebagai pusat kebudayaan nasional, Yogyakarta juga memiliki infrastruktur seni yang memadai serta ekosistem kreatif yang terus berkembang.
Melalui forum koordinasi ini, semangat kolaborasi antar Taman Budaya semakin diperkuat. Harapannya, TKTB XXV 2026 tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni semata, tetapi juga ruang pertukaran gagasan, penguatan jejaring, serta perayaan keberagaman budaya Indonesia yang hidup dan terus berkembang di setiap daerah.