(YOGYAKARTA, 2/04/2026) — Sekitar 12.000 pamong dan perwakilan masyarakat dari lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti Kirab Budaya Mangayubagya Yuswa Dalem ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (2/4). Prosesi kirab berlangsung dari kawasan Malioboro hingga Pagelaran Keraton Yogyakarta, melibatkan ribuan peserta dalam satu rangkaian tradisi yang sarat nilai budaya dan filosofi.
Para peserta kirab mengenakan busana adat Ngayogyakarta yang mencerminkan identitas budaya lokal. Mereka berjalan beriringan sambil membawa glondong pengarem-arem, yakni paket berisi hasil bumi, kuliner tradisional, serta produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari masing-masing daerah. Glondong tersebut menjadi simbol ungkapan cinta, penghormatan, sekaligus rasa terima kasih masyarakat kepada rajanya.

Sepanjang rute kirab, masyarakat tampak antusias menyambut iring-iringan. Warga memadati trotoar dan sisi jalan untuk menyaksikan jalannya prosesi. Sejumlah pengunjung juga mengabadikan momen tersebut melalui gawai mereka. Kehadiran ribuan warga menciptakan suasana meriah yang berpadu dengan nuansa sakral khas tradisi Keraton Yogyakarta.
Setibanya di Pagelaran Keraton, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Para pamong dan perwakilan masyarakat secara bergantian menghaturkan pisungsung kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Prosesi berlangsung dengan tata cara adat yang masih terjaga hingga kini, mencerminkan kesinambungan tradisi di tengah perkembangan zaman.

Momen penting dalam rangkaian acara terjadi saat Sri Sultan mengembalikan glondong pengarem-arem kepada para bupati dan wali kota. Hasil bumi dan berbagai produk tersebut kemudian diserahkan kembali kepada pemerintah daerah untuk didistribusikan kepada masyarakat.
“Glondong pengarem-arem saya kembalikan kepada masyarakat agar bisa dibagi rata dan bermanfaat bagi warga,” ujar Sri Sultan dalam prosesi tersebut.
Pengembalian ini memiliki makna filosofis yang kuat, yakni bahwa segala sesuatu yang berasal dari rakyat pada akhirnya dikembalikan untuk kepentingan rakyat. Nilai tersebut menegaskan peran raja sebagai pengayom yang tidak hanya menerima simbol bakti, tetapi juga memastikan kesejahteraan masyarakat tetap menjadi tujuan utama.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan doa dan harapan agar Sri Sultan senantiasa diberikan kesehatan serta umur panjang. Ia juga menekankan pentingnya peran Sri Sultan sebagai pembimbing bagi para kepala daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kami berharap Ngarsa Dalem terus memberikan arahan dan bimbingan kepada kami dalam menjalankan pemerintahan dan melayani masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih. Ia berharap Sri Sultan terus menjadi sosok pemimpin yang mengayomi, menenteramkan, dan melayani masyarakat Yogyakarta, sehingga wilayah ini tetap dalam kondisi aman dan sejahtera.

Kirab budaya ini tidak hanya menjadi daya tarik bagi masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan domestik. Salah seorang pengunjung, Irene, mengaku terkesan dengan pelaksanaan kegiatan budaya di Yogyakarta yang dinilainya memiliki karakter kuat dan berbeda dibandingkan daerah lain.
“Budaya di Yogyakarta sangat terasa dan tetap terjaga. Harapannya kegiatan seperti ini terus dilestarikan agar semakin banyak wisatawan tertarik berkunjung,” katanya.
Kirab Mangayubagya Yuswa Dalem ke-80 ini merupakan bagian dari tradisi Keraton Yogyakarta yang terus dilestarikan dari waktu ke waktu. Selain menjadi peringatan hari kelahiran Sri Sultan, kegiatan ini juga merefleksikan hubungan erat antara pemimpin dan masyarakat.

Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap budaya tetap relevan. Melalui kirab budaya, Yogyakarta kembali menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan akar tradisi, melainkan dapat berjalan beriringan dalam harmoni.