(Yogyakarta, 27/2/2025) - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar acara Forum Konsultasi Publik yang bertujuan untuk menindaklanjuti surat dari Sekretariat Daerah DIY Nomor B/000/180/BR.6 tanggal 30 Januari 2025 terkait penyusunan dokumen kepatuhan pelayanan publik tahun 2025. Forum yang berlangsung di Taman Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY ini bertemakan “Peninjauan Ulang Standar Pelayanan dan Informasi Pengembangan Website Taman Budaya Yogyakarta”.

Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk seniman, budayawan, serta perwakilan dari Polres Gondomanan dan Universitas di Yogyakarta. Diskusi yang hangat melibatkan masukan-masukan konstruktif mengenai pengembangan dan peningkatan pelayanan TBY. Selain pengembangan website, salah satu isu utama yang dibahas adalah perbaikan fasilitas gedung, khususnya terkait dengan Concert Hall TBY, serta peningkatan koordinasi dalam penyelenggaraan acara.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra. Purwiati, dalam pembukaannya mengungkapkan bahwa TBY berkomitmen untuk terus meningkatkan fasilitas yang ada demi kenyamanan pengunjung dan kualitas pertunjukan. Salah satu fokus utama yang dibahas adalah perbaikan gedung, seperti renovasi kursi, pendingin ruangan, alih daya kelistrikan, pencahayaan ruang, peningkatan kualitas suara, serta fasilitas lainnya yang dapat menunjang pengalaman penonton dan pelaku seni yang berkarya.

"Sebagai pusat kegiatan seni, TBY tidak hanya ingin menawarkan ruang pertunjukan yang memadai, tetapi juga fasilitas yang dapat meningkatkan kenyamanan bagi para pengunjung dan seniman. Oleh karena itu, perbaikan pada fasilitas seperti Concert Hall, mulai dari kursi, pendingin ruangan hingga sistem suara, sangat kami prioritaskan," ujar Purwiati.

Selain itu, perwakilan Polsek Gondomanan, AKP Wuryanto, memberikan saran terkait dengan perizinan dan koordinasi penyelenggaraan acara. Menurutnya, untuk memastikan kelancaran acara, TBY disarankan untuk mengurus perizinan lebih awal, minimal 14 hari sebelum acara berlangsung. Hal ini bertujuan agar pihak keamanan dan tim lainnya dapat melakukan koordinasi dengan lebih maksimal, mengingat wilayah Gondomanan yang merupakan pusat kegiatan seni dan budaya di Yogyakarta.

"Taman Budaya Yogyakarta seringkali menjadi tempat penyelenggaraan acara besar, dan karena itu penting untuk melakukan koordinasi yang baik. Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan di sini, namun agar persiapannya lebih matang, kami menyarankan agar perizinan acara sudah diajukan minimal 14 hari sebelumnya," tambah Wuryanto.

Selain itu, Wuryanto juga menekankan pentingnya tenaga medis yang berjaga ketika acara dihadiri lebih dari 500 orang. "Keamanan dan kesehatan pengunjung harus menjadi prioritas, terutama ketika acara besar digelar. Tenaga medis yang siap sedia bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Masukan dari kalangan seniman juga turut mewarnai forum ini. Toelis Semero, seorang seniman dan sutradara ketoprak yang sering menggelar acara di TBY, mengapresiasi fasilitas yang ada di TBY, terutama kualitas gedung yang menurutnya sangat baik dan ramah di kantong. "Fasilitas di sini sangat bagus, dan harganya terjangkau. Dengan biaya yang wajar, kami bisa mendapatkan ruang pertunjukan yang memadai. Ini sangat membantu bagi kami para seniman yang ingin berkarya," kata Toelis.

Namun, Toelis juga memberikan masukan terkait fasilitas yang bisa lebih mendukung interaksi antar seniman. "Saya berharap ada ruang khusus bagi seniman untuk berkumpul dan bercengkrama. Sebuah ruang di mana seniman bisa bertemu, berbagi ide, dan menjalin silaturahmi. Tempat seperti itu akan memperkuat ikatan di antara para seniman dan mendorong kolaborasi yang lebih banyak," ungkapnya.

Broto Wijaya, seniman dan pengajar kelas pantomim di AFC, menambahkan masukan terkait kebutuhan aksesibilitas bagi teman-teman penyandang disabilitas. Menurutnya, TBY perlu memastikan bahwa ruang seni di sana dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. "Sangat penting bagi TBY untuk memastikan bahwa teman-teman disabilitas juga bisa menikmati pertunjukan seni, baik itu pameran atau pertunjukan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menyediakan teman pendamping yang siap membantu teman-teman disabilitas selama acara," ujar Broto.

Tak hanya itu, Broto juga menekankan pentingnya aksesibilitas melalui website TBY. "Website TBY juga harus lebih ramah bagi penyandang disabilitas, dengan menyediakan informasi yang mudah diakses, termasuk fitur seperti pembaca layar untuk penyandang tuna netra. Hal ini akan menjadikan TBY sebagai ruang seni yang inklusif di Yogyakarta," tambahnya.

Forum Konsultasi Publik ini menandai langkah Taman Budaya Yogyakarta dalam upaya untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, TBY berkomitmen untuk memperbaiki fasilitas fisik, seperti di Concert Hall, serta meningkatkan koordinasi dalam penyelenggaraan acara. Selain itu, TBY juga mendengarkan saran untuk menyediakan ruang lebih bagi para seniman dan meningkatkan aksesibilitas untuk penyandang disabilitas, menjadikan TBY sebagai ruang seni yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan.

Melalui kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari seniman, budayawan, hingga Polsek Gondomanan, diharapkan TBY bisa semakin berkembang dan menjadi tempat yang nyaman, aman, serta aksesibel bagi masyarakat luas.