(Yogyakarta, 08/08/2026) — Festival Kethoprak DIY 2026 resmi berakhir di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, Yogyakarta, pada Sabtu (8/8). Menghadirkan kethoprak di ruang publik, perhelatan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY ini menjadi ruang perjumpaan antara seni tradisi, sejarah, dan masyarakat.
Festival yang berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu (7–8/8), mengusung tema sejarah “Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti”. Setiap kontingen mengangkat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setelah Perjanjian Giyanti hingga sebelum meletusnya Geger Sepehi ke dalam lakon kethoprak yang dipentaskan di hadapan masyarakat.
Lima kontingen dari seluruh kabupaten/kota se-DIY ambil bagian dalam festival tahun ini, yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Sleman, Gunungkidul, dan Kulon Progo. Selain menjadi ajang kompetisi, festival juga menjadi upaya memperkuat ekosistem kethoprak sekaligus mendekatkan seni pertunjukan tradisi kepada masyarakat.

Pemindahan lokasi festival dari ruang pertunjukan tertutup ke Alun-Alun Sewandanan menjadi bagian dari strategi kebudayaan untuk menghadirkan seni tradisi secara lebih terbuka dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Plt. Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan DIY, Rulli Andriadi, S.S., M.A.P., mengatakan pemanfaatan ruang publik sebagai ruang kebudayaan merupakan bagian dari upaya membawa seni pertunjukan tradisi lebih dekat kepada masyarakat.
“Perubahan ini merupakan strategi Dinas Kebudayaan DIY untuk membawa seni pertunjukan tradisi lebih dekat kepada masyarakat melalui pemanfaatan ruang publik sebagai ruang kebudayaan,” ujar Rulli.
Menurutnya, tema sejarah yang diangkat dalam Festival Kethoprak DIY 2026 juga menjadi tantangan tersendiri bagi masing-masing kontingen. Setiap lakon harus disusun berdasarkan riset sejarah yang sahih, sehingga pertunjukan tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menghadirkan pengetahuan sejarah kepada penonton.
Kethoprak Hadir di Rumah Bersama Masyarakat
Pelaksanaan festival di lingkungan Pura Pakualaman mendapat sambutan positif. Penghageng Kawedanan Budaya dan Pariwisata Pura Pakualaman, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Indrokusumo, menyambut baik kehadiran kethoprak di ruang terbuka.
Menurutnya, Pura Pakualaman merupakan ruang yang terbuka bagi masyarakat untuk bersama-sama merawat dan menghidupkan tradisi.
“Pura Pakualaman bukanlah ruang yang berjarak dengan masyarakatnya, melainkan rumah bersama untuk merawat, menjaga, dan menghidupkan kembali tradisi-tradisi adiluhung peninggalan leluhur,” ujar Indrokusumo.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, pelaksanaan festival di ruang publik juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kehadiran penonton dari berbagai wilayah turut menggerakkan aktivitas ekonomi warga di sekitar kawasan Alun-Alun Sewandanan.
“Pagelaran ini bukan sekadar tontonan dan tuntunan, melainkan juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” lanjutnya.
Pelaksanaan festival juga menjadi pengingat akan keberadaan kethoprak di lingkungan Pakualaman yang sempat mengalami kevakuman selama puluhan tahun. Kembalinya pertunjukan kethoprak di ruang terbuka menjadi momentum untuk memperkuat kembali keterhubungan antara seni tradisi dan masyarakat.
Membawa Kethoprak Tobong ke Ruang Publik
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., menjelaskan bahwa pemilihan format outdoor merupakan upaya untuk membangkitkan kembali ingatan masyarakat terhadap suasana pertunjukan kethoprak tobong pada masa lalu.
“Baru kali ini Festival Kethoprak yang biasanya di ruang tertutup Taman Budaya Yogyakarta kami boyong ke ruang publik historis ini agar kethoprak hadir langsung di tengah masyarakat,” ujar Dian.

Menurut Dian, festival tidak semata-mata berorientasi pada kompetisi dan perebutan gelar juara. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga keberlangsungan ekosistem kethoprak agar terus tumbuh, berkembang, dan mendapat tempat di hati masyarakat.
Format pertunjukan outdoor juga memberikan pengalaman berbeda bagi para seniman maupun penonton. Keterlibatan panitia, tim artistik, dewan juri, serta para seniman turut mendukung terwujudnya pertunjukan yang tetap memiliki kekuatan dramatik meski digelar di ruang terbuka.
Lima Lakon, Satu Jejak Sejarah Mataram
Pada hari pertama, tiga kontingen tampil membawakan lakon masing-masing dengan alokasi waktu 45 menit. Kabupaten Sleman membuka rangkaian pertunjukan melalui lakon Tatu, disusul Kota Yogyakarta dengan Prang Trah, dan Kabupaten Bantul melalui Gunung Gamping.
Tatu membawa kisah drama tragis asmara dan peperangan pada masa pasca-Perjanjian Giyanti. Sementara itu, Prang Trah menghadirkan dilema perjuangan Raden Ronggo Prawirodirjo dalam menghadapi kekuatan Belanda.
Kabupaten Bantul melalui Gunung Gamping mengangkat cerita mengenai pergerakan awal pembangunan serta penataan Praja Ngayogyakarta.

Pada hari kedua, giliran Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo melanjutkan rangkaian pertunjukan. Gunungkidul hadir dengan lakon Hangreksa, sedangkan Kulon Progo membawakan Dhawuh.
Kelima pertunjukan tersebut menjadi cara masing-masing kontingen dalam menerjemahkan sejarah Mataram ke dalam bahasa panggung kethoprak. Riset sejarah, kekuatan pemeranan, penyutradaraan, hingga tata artistik menjadi bagian penting yang dinilai dalam kompetisi.
Sleman Raih Penyaji Terbaik 1
Setelah seluruh kontingen menyelesaikan pertunjukan, dewan juri menetapkan hasil kompetisi Festival Kethoprak DIY 2026. Kabupaten Sleman melalui lakon Tatu berhasil meraih Penyaji Terbaik 1.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Gunungkidul melalui Hangreksa sebagai Penyaji Terbaik 2, disusul Kabupaten Bantul dengan Gunung Gamping sebagai Penyaji Terbaik 3.
Sementara itu, Kabupaten Kulon Progo melalui Dhawuh meraih Penyaji Terbaik 4, sedangkan Kota Yogyakarta dengan Prang Trah ditetapkan sebagai Penyaji Terbaik 5.
Daftar Penyaji Terbaik Festival Kethoprak DIY 2026
Penyaji Terbaik 1 — Kabupaten Sleman
Lakon: TatuPenyaji Terbaik 2 — Kabupaten Gunungkidul
Lakon: HangreksaPenyaji Terbaik 3 — Kabupaten Bantul
Lakon: Gunung GampingPenyaji Terbaik 4 — Kabupaten Kulon Progo
Lakon: DhawuhPenyaji Terbaik 5 — Kota Yogyakarta
Lakon: Prang Trah
Selain penghargaan bagi penyaji terbaik, Festival Kethoprak DIY 2026 juga memberikan apresiasi pada sejumlah kategori perseorangan. Penghargaan tersebut mencakup sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, pemeran utama terbaik, pemeran pembantu terbaik, serta kategori-kategori lain yang menjadi bagian dari penilaian kualitas pertunjukan.
Penilaian kompetisi dilakukan oleh dewan juri yang terdiri atas KRT Stefanus Prigel Siswanto, M.Hum., Dr. Ahmad Athoillah, S.Pd., M.A., Anon Suneko, S.Sn., M.Sn., Oki Surya Ikawati, S.Sn., dan Indra Tranggono.
Para juri menilai enam aspek utama, yaitu keaktoran, penyutradaraan, naskah, tata rias dan busana, tata iringan karawitan, serta estetika artistik pertunjukan secara menyeluruh.
Kethoprak untuk Generasi Berikutnya
Selama dua hari pelaksanaan, antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya penonton yang memenuhi kawasan Alun-Alun Sewandanan. Kehadiran masyarakat dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa seni tradisi masih memiliki ruang untuk tumbuh ketika dihadirkan dengan cara yang dekat dan terbuka.

Narendra, salah satu penonton asal Bantul, mengaku terkesan dengan tingginya antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan kethoprak.
“Saya datang untuk mengapresiasi dan melihat perkembangan kethoprak masa kini, apakah masih digemari atau tidak. Ternyata euforianya sangat luar biasa. Maju terus untuk Yogyakarta sebagai Kota Budaya,” ujarnya.
Berakhirnya Festival Kethoprak DIY 2026 bukan menjadi akhir dari perjalanan kethoprak, melainkan bagian dari upaya panjang untuk memastikan seni tradisi tersebut tetap hidup dan relevan. Pertemuan antara sejarah, ruang publik, seniman, dan masyarakat menjadi modal penting bagi regenerasi kethoprak di Yogyakarta.
Melalui Festival Kethoprak DIY 2026, kethoprak tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi terus diberi ruang untuk tumbuh, beradaptasi, dan hadir di tengah masyarakat sebagai seni pertunjukan yang hidup.