(Yogyakarta, 16/11/2025) — Festival Kethoprak 2025 merupakan kegiatan dari Dinas Kebudayaan DIY yang digelar sebagai wadah pelestarian budaya dan ekspresi seni. Bertempat di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta, festival berlangsung selama dua hari (14-15 November) ini menyuguhkan pertunjukan kethoprak dari perwakilan kabupaten dan kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lakon Legendaris: “Memainkan Api di Bukit Menoreh”
Festival tahunan ini didukung dengan Dana Keistimewaan DIY, memperebutkan piala bergilir dan sejumlah hadiah bagi kelompok dan individu. Tema besarnya adalah “Memainkan Api di Bukit Menoreh” karya S.H. Mintardja, yang diadaptasi menjadi pertunjukan kethoprak. Kisah ini menceritakan perjuangan, kisah cinta, dan nilai luhur budaya Jawa di tengah gejolak zaman, memberikan tontonan yang mendalam dan penuh makna.
Festival kethoprak kali ini, melibatkan dewan juri yang kompeten di bidang seni pertunjukan yaitu KRT Stefanus Prigel Siswanto, M. Hum., Raden Mas Altianta Hendriyawan, Oki Surya Ikawati, S.Sn., Dr. Ahmad Athoillah, S.Pd., M.A., dan Pardiman Djoyonegoro, S.Sn. Kehadiran mereka memberikan penilaian yang adil dan profesional sesuai dengan kualitas dari setiap pertunjukan.
Teguhkan Kethoprak sebagai Pilar Kebudayaan Yogyakarta
Acara diawali dengan sambutan dari Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan ATLAS, Padmono Anggoro Prasetyo, S.Sn. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa upaya yang dilakukan saat ini merupakan langkah berjenjang dan strategis dalam mengangkat seni tradisi kethoprak.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berjenjang untuk mengembangkan dan memajukan seni tradisi kethoprak sebagai salah satu pilar kebudayaan masyarakat Yogyakarta,” tuturnya.
Ia menambahkan, “Tujuan utama festival ini adalah memperkuat karakteristik kethoprak, meningkatkan kualitas pembinaan dan pengembangan kethoprak, serta meneguhkan identitas Kethoprak Mataram sebagai ekspresi budaya Yogyakarta.”
Lebih lanjut, Padmono berharap seni kethoprak dapat didorong pemanfaatannya sebagai media pelestarian, pembelajaran, pengembangan kebudayaan.
Kethoprak: Media Multidimensi Penggerak SDM dan Kebudayaan
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., dalam sambutannya menekankan nilai multidimensi seni kethoprak.
“Festival Ketoprak ini menjadi salah satu seni teater tradisional yang memang cukup banyak mengaktifkan berbagai hal terkait dengan SDM. Selain itu, festival ini menjadi salah satu objek kebudayaan, ketopraknya sendiri, yang cukup banyak mengaplikasikan terkait dengan sastra, busana, tata kelola di dalam manajemen tradisional seni tradisi,” ujar Dian.
Ia juga menambahkan bahwa nilai sejati festival ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang bersama untuk saling mengapresiasi, saling belajar, dan saling bersanding demi semakin meneguhkan kethoprak di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pukulan Keprak Memanggil Kisah
Acara pembukaan Festival Kethoprak 2025, ditandai secara simbolis oleh Dian Lakshmi dengan memukul keprak, menandai dimulainya rangkaian festival. Pukulan keprak tersebut langsung disambut dengan alunan merdu gamelan yang mengiringi menciptakan suasana sakral dan penuh semangat.
Festival ini dibuka dengan penampilan perdana Kontingen Kabupaten Gunungkidul membawakan lakon “Layang”. Kisah ini menceritakan upaya balas dendam Sawung atas kematian ayahnya yang menjadi korban pengkhianatan Pangeran Singosari. Tak hanya menyajikan narasi yang mendalam, kontingen ini juga mengejutkan penonton dengan inovasi artistik hitam putih layaknya komik hidup, memberikan kesan segar di tengah pementasan seni tradisi.
Setelah penampilan dari Gunungkidul, panggung beralih ke kontingen Kabupaten Kulon Progo. Kontingen ini membawakan cerita “Rangsang”, yang mengisahkan tokoh bernama Sidanti yang didera kegelisahan karena sepanjang hidupnya tidak mengetahui identitas ayah kandungnya. Kontingen Kulon Progo menonjolkan kekuatan akting, dengan para pemain yang terlihat sangat fokus dan totalitas dalam mendalami peran.
Giliran kontingen Kabupaten Sleman dengan lakon “Geni”, yang mengisahkan bagaimana api amarah bangkit dalam diri Pradonggo setelah mengetahui ayahnya meninggal bukan di medan perang, melainkan pengkhianatan cinta yang melibatkan tokoh Tumenggung Sokalputra. Kontingen ini menyajikan pertunjukan dengan pola-pola garap yang inovatif dan dipadukan dengan iringan yang baru bertujuan memberikan pertunjukan yang segar bagi penonton.
Hari Kedua & Puncak Festival: Bantul Raih Juara Terbaik 1
Pada hari kedua, giliran Kabupaten Bantul tampil pada sesi pertama dengan membawakan lakon “Wuranta” karya Prayitno, adaptasi dari naskah S.H. Mintardja. Penampilan ini menunjukkan kedalaman garap, kekuatan interpretasi naskah, serta pengolahan panggung yang matang.
Melalui proses penilaian yang ketat, Kontingen Kethoprak Kabupaten Bantul akhirnya berhasil meraih predikat Juara Terbaik 1 Festival Kethoprak Antar Kabupaten/Kota DIY 2025.
Tak hanya itu, Bantul juga menyabet tiga penghargaan individu bergengsi:
Sutradara Terbaik – Silvester Anggung Kidung Pinurba
Penata Gending Terbaik – Refa Sudrajat
Penata Artistik Terbaik – Subekti
Sementara itu, Penyaji Terbaik Kedua diraih Kontingen Kabupaten Kulon Progo dengan membawakan lakon “Rangsang.”
Capaian ini disambut penuh bangga oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dan Forum Komunikasi Kethoprak Bantul (FKKB). Prestasi tersebut menjadi bukti konsistensi daerah ini dalam menjaga, mengembangkan, dan menghidupkan seni tradisi kethoprak.
Ruang Tradisi, Inovasi, dan Regenerasi
Festival Kethoprak DIY 2025 tidak hanya hadir sebagai ajang kompetisi, melainkan wadah pembinaan dan pembelajaran bersama antarpelaku seni. Inovasi garap, keberanian mengeksplorasi bentuk, dan keteguhan menjaga pakem menjadi kombinasi yang memperlihatkan bahwa kethoprak tetap relevan di era modern.
Melalui festival ini, DIY menegaskan kembali komitmennya untuk melestarikan Kethoprak Mataram sekaligus melahirkan generasi baru seniman yang unggul. Dengan dukungan publik, lembaga, dan pelaku seni, kethoprak akan terus hidup sebagai denyut budaya Yogyakarta dari masa ke masa.