(Yogyakarta, 22/08/2026) — Praktik fotografi tidak selamanya bergantung pada kamera digital maupun zat kimia modern. Melalui rangkaian Rana Budaya #4, lokakarya bertajuk “Mengenal Anthotype: Fotografi dari Pigmen Tumbuhan” mengajak publik bereksperimen dengan bahan alami di Ruang Rapat Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (22/8). Lokakarya ini memperkenalkan anthotype, yakni teknik cetak foto klasik yang memanfaatkan cairan warna tumbuhan sebagai media peka cahaya untuk memunculkan gambar.
Mengenal Anthotype di Rana Budaya
Dipandu Juwita Wardah sebagai moderator dan Julie Febiola Almoest sebagai narasumber, para peserta diajak mengenal seluruh tahapan pembuatan anthotype. Mulai dari mengekstrak warna dari tumbuhan, mengoleskannya ke permukaan kertas, hingga menjemurnya di bawah terik matahari untuk menghasilkan gambar.

Dalam lokakarya ini, Julie membagikan pengalamannya bereksperimen dengan berbagai tumbuhan lokal sebagai sumber pigmen untuk mencetak foto. Baginya, penggunaan bahan alami dalam anthotype bukan sekadar upaya menghidupkan kembali teknik fotografi klasik, tetapi juga membuka kemungkinan baru dalam praktik seni yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau.
Eksplorasi tersebut memperlihatkan bahwa bahan untuk berkarya tidak selalu harus datang dari material khusus atau bahan kimia yang mahal. Pigmen dari tumbuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi medium untuk bereksperimen, menemukan karakter visual yang unik, sekaligus menghadirkan proses berkarya yang lebih sederhana dan berkelanjutan.
“Sebenarnya anthotype kan sudah ada dari dulu ya, cuma aku pengin gimana sih cara membuat seni tapi ramah lingkungan dari materialnya, ramah lingkungan dan ramah kantong juga,” ungkap Julie.
Bayam dan Kunyit Jadi Pilihan Utama
Dalam lokakarya kali ini, Julie memilih dua bahan utama yang telah terbukti memberikan hasil paling stabil, yaitu bayam dan kunyit. Menurutnya, memilih bahan nabati untuk anthotype memerlukan banyak eksperimen karena tidak semua buah atau sayuran memiliki sifat peka cahaya (photosensitive) yang sesuai untuk proses pencetakan.

“Aku kemarin sudah pernah bereksperimen. Buah naga yang kita kira pekat banget, ternyata malah enggak jadi. Blueberry dan buah bit juga enggak jadi. Sejauh ini yang jadi stroberi, tapi lapisannya harus banyak banget, sekitar sepuluh lapis, dan jemurnya lama,” ujar Julie.
Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa setiap tanaman memiliki karakter pigmen yang berbeda. Intensitas warna, ketebalan lapisan, hingga lama penyinaran menjadi bagian dari proses yang harus terus diuji untuk mendapatkan hasil cetak yang optimal.
Untuk memperkuat ketajaman kontras pada cetakan berbahan kunyit, Julie juga menerapkan perlakuan khusus setelah proses penyinaran.
“Setelah selesai penjemuran, aku mencuci kertas itu menggunakan cairan baking soda. Terus jadinya makin kuat,” jelasnya.
Karya yang Fana, Fokus pada Eksplorasi Seni
Salah satu karakter menarik dari anthotype adalah sifatnya yang fana (ephemeral). Karena pigmen alami terus bereaksi terhadap cahaya, gambar yang dihasilkan perlahan dapat memudar seiring waktu.
Karakter tersebut membuat anthotype memiliki pendekatan yang berbeda dari fotografi pada umumnya. Bagi Julie, karya ini lebih tepat ditempatkan sebagai ruang eksplorasi artistik dan pengalaman visual daripada sebagai produk komersial yang dituntut memiliki ketahanan jangka panjang.
“Karya ini kurang cocok kalau untuk dijual karena warnanya pasti memudar lama-kelamaan. Ini lebih ke media ekspresi dan proses berkarya bagi seniman,” pungkas Julie.
Sifat sementara tersebut justru menjadi bagian dari daya tarik anthotype. Karya tidak hanya dilihat sebagai objek akhir, tetapi juga sebagai rekaman dari sebuah proses yang terus berubah seiring waktu.
Praktik Cetak di Bawah Terik Surya
Pada sesi praktik, peserta mulai mengolah pigmen alami dengan menyaring emulsi menggunakan kertas saring kopi. Cairan tersebut kemudian disapukan secara merata ke atas kertas khusus dan dibiarkan hingga lapisannya mengering.

Setelah itu, peserta mulai menyusun berbagai objek di atas permukaan kertas. Klise film foto transparan, gambar manual menggunakan spidol pekat, hingga susunan daun dan bunga segar digunakan sebagai objek untuk menghasilkan gambar melalui proses fotogram.
Kaca penekan dipasang kuat agar objek menempel rapat pada permukaan kertas sebelum seluruh susunan dijemur langsung di bawah terik matahari. Diiringi canda dan harapan agar cuaca tetap cerah, proses penjemuran berlangsung dengan penuh antusiasme. Perlahan, detail visual mulai terbentuk melalui interaksi antara pigmen tumbuhan, objek, kertas, dan cahaya matahari.
Pengalaman melihat langsung proses cetak alami tersebut memberi kesan mendalam bagi para peserta. Salah satunya Raqim, yang mengaku terkejut sekaligus senang melihat kemampuan pigmen tumbuhan dalam menangkap cahaya.
“Perasaannya terkejut dan senang, karena ternyata pigmen tumbuhan itu bisa merekam cahaya yang begitu indah dan detail. Luar biasa,” ujar Raqim.
Lokakarya ini menunjukkan bahwa eksplorasi seni dapat berangkat dari hal-hal yang begitu dekat dengan keseharian. Bayam dan kunyit yang sederhana, ketika dipertemukan dengan kertas, objek visual, dan cahaya matahari, dapat berubah menjadi medium untuk merekam sekaligus menafsirkan gambar.
Di tengah perkembangan teknologi fotografi yang semakin cepat, anthotype menawarkan pengalaman berbeda: memperlambat proses, mengenali karakter bahan, dan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari karya. Dari sana, seni tidak hanya berbicara tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses, eksperimen, dan cara baru untuk berkarya lebih selaras dengan alam.