(Yogyakarta, 14/08/2026) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menghadirkan ruang temu antara eksplorasi visual dan jejak sejarah dengan menggelar pameran ganda bertajuk Pameran Fotografi “Rana Budaya #4: For Your People” dan Pameran Arsip “Pubdekdok: Catatan yang Tercecer”. Rangkaian agenda yang resmi dibuka pada Jumat (14/8/2026) di Ruang Galeri TBY ini berlangsung hingga 23 Agustus 2026. Kolaborasi ini menyuguhkan perpaduan apresiasi seni visual dan literasi sejarah kebudayaan. 

Rangkaian pembukaan diawali dengan penampilan pembuka dari kelompok Rumah Pantomim Yogyakarta yang membawakan lakon bertajuk Menangkap Momen. Atraksi gerak tubuh yang ekspresif tersebut menjadi pengantar simbolis sebelum masuk ke agenda utama.

For Your People, Ruang Refleksi Kemanusiaan dan Budaya Keseharian 

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dra. Purwiati, dalam laporan kegiatannya menyampaikan bahwa Rana Budaya tahun ini mengajak publik dan para fotografer untuk mengalihkan kembali perhatian pada figur-figur di sekitar yang setia merawat, mempertahankan, serta menghidupi kebudayaan dalam keseharian.

“Di tengah kesibukan dunia maya yang serba dipenuhi algoritma, tema For Your People menjadi ruang refleksi visual untuk melihat bagaimana fotografi mampu merekam dedikasi, perjuangan, kebudayaan, serta ikatan kemanusiaan yang terjalin erat di masyarakat,” ujar Purwiati.

Lebih lanjut, perhelatan ini mengusung tiga misi utama, yakni sebagai wadah apresiasi budaya-sosial, media edukasi kisah kemanusiaan, dan ruang silaturahmi komunitas seni. Di samping itu, ia turut menegaskan keistimewaan kolaborasi perdana bersama pameran arsip bertajuk Pubdekdok (Publikasi, Dekorasi, Dokumentasi) yang bertujuan untuk membawa kembali ingatan publik akan sejarah panjang TBY sebagai rumah bertumbuhnya para seniman lintas cabang seni. 

TBY sebagai Jendela Budaya dan Jembatan Ingatan Kolektif 

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., ia menyoroti esensi fotografi sebagai medium yang mampu menangkap denyut realitas sosial secara jujur sekaligus selaras dengan jargon TBY sebagai The Window of Yogyakarta. 

“Setiap foto adalah jendela dari budaya, selaras dengan jargon Taman Budaya yaitu The Window of Yogyakarta. Jika ingin melihat Yogyakarta, lihatlah Taman Budayanya. Melalui pameran foto ini, publik dapat melihat behind the scene, karakter kebudayaan, hingga pola kehidupan masyarakatnya yang terekam kamera,” tutur Dian. 

Dian juga menggarisbawahi pentingnya pameran arsip bertajuk Catatan yang Tercecer sebagai jembatan ingatan kolektif. Mengingat lokasi awal TBY di kawasan Purna Budaya UGM kini telah beralih rupa menjadi Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), arsip-arsip sejarah menjadi satu-satunya medium autentik untuk melacak dinamika lahirnya sumber daya manusia kebudayaan yang mewarnai Yogyakarta dari era 1970-an hingga saat ini.

Menguak Rekam Jejak Sejarah Lewat Pameran Arsip “Pubdekdok” 

Dalam sesi pengantar kuratorial pameran arsip, kurator Adinda Ayu memaparkan tantangan sekaligus temuan menarik dalam mengolah dokumen sejarah TBY. Menurutnya, arsip kerap kali disalahpahami sekadar sebagai tumpukan kertas menguning, foto-foto kusam, atau dokumen administratif yang kaku.

“Ketika membuka arsip TBY, kami menemukan banyak hal menarik yang terdokumentasikan dengan sangat baik. Arsip ini bukan sekadar alat legalitas formal, melainkan rekaman denyut kreativitas dan memori kolektif pelaku seni,” ungkap Adinda.

Pameran arsip ini Dirangkum dalam empat babak tematik tentang dinamika ruang, peristiwa, dan interaksi para seniman legendaris, pameran ini juga menjadi wujud apresiasi bagi para arsiparis TBY sekaligus pemantik kesadaran publik akan pentingnya pengarsipan mandiri. 

Pameran Fotografi “Rana Budaya #4”, Menatap Esensi Sekitar

Rana Budaya #4 hadir dengan format baru. Berbeda dari edisi-edisi sebelumnya yang melombakan foto tunggal (single photo), edisi kali ini mengusung format cerita foto (photo series). Pameran ini menampilkan 150 karya terpilih dari 914 kiriman karya 214 peserta se-Indonesia. Proses kurasi dan penjurian melibatkan tim kurator yang terdiri dari Rangga Purbaya, Aji Susanto Anom, dan Kurnia Yaumil Fajar, serta dewan juri Dwi Oblo, Aralee Niken, dan Kasan Kurdi. 

Mewakili tim kuratorial, Kurnia Yaumil Fajar memaparkan gagasan di balik tema pameran tahun ini. “Melalui tema For Your People, kita diajak untuk bergerak lebih lambat, mengamati apa yang benar-benar berlangsung di sekitar kita, dan memilih cerita apa yang esensial untuk dibagikan kepada orang-orang terdekat,” ujar Kurnia.

Kurnia menambahkan bahwa perubahan teknologi telah mengubah cara kerja dan cara pandang fotografer. Melalui karya-karya yang dipamerkan, penonton tidak hanya diajak menyaksikan atraksi budaya atau tradisi seperti jejak penjual jamu gendong yang kian langka, tetapi juga diajak memaknai kembali denyut keseharian masyarakat kota. 

Daftar Pemenang Lomba Fotografi Rana Budaya #4 

Berikut adalah daftar pemenang Lomba Fotografi Seni Budaya Rana Budaya #4 Tahun 2026:

  • Juara 1: Salsabila Eka Putri — Akar yang Tumbuh di Ruang Terbuka

  • Juara 2: Devi Rahman — Tradisi Megawe, Harmoni Manusia dan Alam 

  • Juara 3: Dikye Ariani — Nelayan Kerang Hijau

  • Juara Harapan 1: Subekti — Pasar Loak Jembatan Hitam, Dari Dunia Kelam Menuju Surga Barang Bekas

  • Juara Harapan 2: Irfan Choirul Akbar — Festival Perang Tomat

Selain para pemenang utama, dewan juri juga menetapkan 35 karya terpilih dari para nominator yang turut dipajang di galeri pameran.

Simbolis Pembukaan dan Kemeriahan Konser Malam Hari 

Pameran ganda ini resmi dibuka secara simbolis melalui pemukulan gong oleh Dian Lakshmi Pratiwi, didampingi oleh Purwiati, Suprapto (Kepala TBY periode 1991–2004), serta jajaran dewan juri dan kurator.

Keriuhan pembukaan berlanjut hingga malam hari di pelataran TBY. Pentas musik dibuka oleh penampilan energik dari Paksi Band yang memadukan nuansa tradisional dan modern. Puncak antusiasme penonton pecah saat grup musik Banda Neira naik ke atas panggung. Alunan petikan gitar dan lirik puitis khas Banda Neira memandu ribuan penonton dalam momen sing-along massal yang syahdu dan hangat, menutup malam pembukaan pameran dengan meriah. 

Apresiasi Publik dan Ragam Budaya Nusantara

Antusiasme pengunjung pun terasa hangat di sepanjang ruang galeri. Salah satu penonton asal Gorontalo yang kini bekerja di Yogyakarta, Riska, mengaku sudah dua tahun berturut-turut rutin berkunjung untuk menikmati karya-karya fotografi di TBY.

“Di sini kita bisa melihat bahwa yang dihadirkan bukan cuma budaya dari Yogyakarta saja, tetapi ada banyak sekali budaya dari berbagai daerah lain yang ikut disajikan dan bisa kita nikmati bersama. Sangat menarik, karena dari tahun ke tahun selalu ada hal baru,” ujar Riska.

Melalui sinergi antara rekaman visual masa kini dan arsip masa lalu, perhelatan ganda “Rana Budaya #4” dan “Pubdekdok” tidak hanya menjadi ruang apresiasi estetika, tetapi juga menjadi ajakan untuk terus merawat memori kolektif kebudayaan. Selama sepekan ke depan, TBY membuka pintunya lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin melambat sejenak, menatap realitas di sekitar, dan menemukan kembali jejak budaya yang membentuk kita hari ini.