(Yogyakarta, 20/02/2026) — Peringatan Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak dibuka dengan panggung meriah atau pesta rakyat. Justru sebaliknya: dengan langkah pelan, doa yang lirih, dan tabur bunga di pusara para leluhur.
Jajaran Pemerintah Daerah DIY memulai rangkaian peringatan melalui ziarah ke tiga titik penting sejarah: Astana Kotagede, Astana Pajimatan Imogiri, dan Astana Girigondo. Di sanalah jejak panjang perjalanan Yogyakarta bermula dan terus dirawat.
Bagi sebagian orang, ziarah mungkin terlihat sebagai agenda rutin tahunan. Namun dalam konteks Hari Jadi DIY, prosesi ini menyimpan makna yang lebih dalam: mengingat bahwa Yogyakarta berdiri bukan hanya karena garis batas wilayah, melainkan karena perjuangan, keputusan politik, dan komitmen kebudayaan.

Sejarah membawa kita pada sosok Pangeran Mangkubumi yang berjuang hingga lahirnya Perjanjian Giyanti tahun 1755, tonggak berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Tanggal 13 Maret 1755 itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Jadi DIY.
Spirit itu berlanjut di masa kemerdekaan ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menyatakan dukungan penuh kepada Republik Indonesia. Sikap loro-lorone atunggal bukan hanya frasa simbolik, tetapi fondasi moral tentang kesatuan dan pengabdian.
Dalam sambutan Sekda DIY yang dibacakan Srie Nurkyatsiwi, ditegaskan bahwa peringatan tahun ini mengusung tema “Mulat Sarira Jumangkah Jantraning Laku”. Artinya sederhana namun dalam: berani melihat ke dalam diri, lalu melangkah dengan arah yang jelas dan terukur.

Bagi pelaku seni dan budaya, momentum ini terasa relevan. Yogyakarta dikenal bukan hanya sebagai kota pendidikan dan wisata, tetapi juga ruang hidup kebudayaan. Nilai-nilai kepemimpinan, keteladanan, dan spiritualitas yang diwariskan leluhur menjadi napas dalam setiap denyut aktivitas seni dari panggung pertunjukan hingga ruang-ruang diskusi kreatif.
Selama dua bulan ke depan, rangkaian kegiatan Hari Jadi DIY akan digelar. Ada peluncuran logo, penggunaan busana tradisional, aksi bersih lingkungan, lomba inovasi, hingga pesta rakyat. Namun sebelum semua itu berlangsung, ada satu pesan yang sudah lebih dulu disampaikan lewat ziarah: pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya.
Di usia ke-271 tahun, DIY seolah mengingatkan kita bahwa melangkah maju tak selalu berarti berlari cepat. Kadang, justru perlu berhenti sejenak, menunduk, dan mengenang agar setiap langkah berikutnya lebih bermakna.