(Yogyakarta, 27/09/2026) — Aroma khas akar wangi memenuhi Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu (27/9) sore. Di atas meja, potongan akar, serat daun, biji-bijian, benang, dan papan karton tersusun menjadi bahan-bahan yang siap dirangkai. Dua jam berikutnya, material alam tersebut perlahan berubah menjadi gantungan kunci di tangan para peserta.

Suasana itu hadir dalam Workshop Kriya Akar Wangi, salah satu agenda Suluh Sumurup Art Fest 2026. Digelar pukul 15.00–17.00 WIB, kegiatan ini mengajak peserta mengenal lebih dekat potensi material alam sekaligus mencoba mengolahnya menjadi karya kriya yang sederhana dan dapat dimanfaatkan kembali.

Workshop dipandu Aslimah, perajin asal Kudus, Jawa Tengah, yang kini menetap dan mengembangkan kerajinan akar wangi di Yogyakarta. Dalam sesi tersebut, Aslimah tidak hanya memperkenalkan teknik pengolahan, tetapi juga mengajak peserta melihat kembali material-material yang berada di sekitar mereka.

Bagi Aslimah, bahan alami memiliki banyak kemungkinan. Material yang terlihat sederhana dapat diolah menjadi karya ketika dipertemukan dengan kreativitas dan keterampilan.

Mengenal Akar Wangi dan Loro Setu

Di awal sesi, Aslimah memperkenalkan tanaman akar wangi yang dalam tradisi Jawa dikenal dengan sebutan loro setu. Sekilas, bentuk tanamannya menyerupai serai. Namun, bagian akarnya memiliki karakter dan aroma khas yang membuatnya banyak dimanfaatkan.

Akar wangi memiliki sistem perakaran yang kuat dan panjang. Karakter tersebut membuat tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga struktur tanah dan mengurangi risiko erosi.

Tidak hanya memiliki manfaat ekologis, akar wangi juga telah lama dimanfaatkan karena aromanya.

“Akar wangi memiliki aroma terapi alami. Sejak zaman dahulu, sebelum ada pembersih atau pewangi sintetis, akar wangi ditaruh di dalam lemari untuk memberi harum alami sekaligus mengusir serangga kecil dan kecoak,” ujar Aslimah.

Potensi tersebut kemudian dapat dikembangkan lebih jauh melalui proses pengolahan. Akar wangi dapat disuling menjadi minyak, sementara potongan akar maupun sisa pengolahannya masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan kriya.

Di sinilah kreativitas mengambil peran.

Ketika Sisa Bahan Mendapat Kehidupan Baru

Dalam workshop, peserta diajak memanfaatkan potongan akar dan serbuk sisa pengolahan untuk membuat gantungan kunci.

Bahan tersebut ditempelkan pada papan karton yang telah diberi lem, kemudian disusun menjadi pola. Agar tampilannya semakin menarik, Aslimah mengombinasikannya dengan material alam lain, seperti serat daun agel, biji ranti, dan biji saga yang memiliki warna merah alami.

“Untuk mempercantik tampilan, bahan-bahan pendukungnya kita ambil langsung dari alam, seperti serat daun agel, biji ranti, hingga biji saga. Bahan-bahan ini juga mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional lokal, salah satunya Pasar Beringharjo,” tutur Aslimah.

Proses tersebut memperlihatkan bahwa kriya berbasis alam tidak selalu membutuhkan material yang sulit ditemukan. Justru dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, peserta dapat belajar menciptakan sesuatu yang baru.

Jari-jari peserta mulai bekerja. Benang dililitkan, akar disusun, dan biji-bijian dirangkai menjadi ornamen. Ada yang mengikuti pola yang diberikan, ada pula yang mulai bereksperimen dengan susunan materialnya sendiri.

Bagi sebagian peserta, aktivitas ini menjadi pengalaman pertama bersentuhan langsung dengan akar wangi sebagai material kriya.

Dari Kudus, Menemukan Jalan Kemandirian di Yogyakarta

Di balik keterampilan yang dibagikan sore itu, terdapat perjalanan Aslimah dalam mengenal kemandirian dan mengembangkan kerajinan akar wangi. Perempuan asal Kudus ini pernah melalui proses panjang untuk menerima kondisi dirinya sebagai seorang difabel. Rasa malu dan putus asa sempat menghampiri sebelum ia mendapat kesempatan dibina di Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Setelah beberapa tahun menjalani pembinaan, Aslimah kemudian melanjutkan pendidikan SMA di Kudus, Jawa Tengah. Masa pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam prosesnya untuk menerima diri sekaligus belajar hidup mandiri.

“Setelah saya dibina di sana selama beberapa tahun, akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah saya SMA di Kudus, Jawa Tengah. Perlahan-lahan saya mulai bisa menerima kondisi ini dan memahami bahwa bentuk saya yang sempurna adalah Aslimah yang sekarang ini,” ujarnya.

Menjalani pendidikan di sekolah umum juga bukan tanpa tantangan. Hinaan dan berbagai kendala pernah ia hadapi. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti berusaha.

“Saya ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa penyandang difabel juga bisa hidup mandiri tanpa meminta belas kasihan pada orang lain,” katanya.

Semangat tersebut kemudian membawanya ke Yogyakarta. Bersama suaminya, Wahyu, Aslimah memulai kehidupan baru sekaligus merintis usaha kerajinan akar wangi. Pilihan tersebut dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: modal Rp250 ribu dan keberanian untuk mencoba.

“Modal awal kami hanya Rp250.000 dan modal nekat. Jadi kami kerjakan saja dulu dan tidak memikirkan berhasil atau gagal ke depannya,” kenangnya.

Dari modal tersebut, Aslimah dan suaminya perlahan mengembangkan berbagai produk berbahan akar wangi, mulai dari boneka hingga gantungan kunci. Hasil penjualan kemudian dikumpulkan kembali untuk menambah modal dan memperluas pemasaran. Kini, keterampilan yang awalnya digunakan untuk membangun penghidupan tersebut juga menjadi pengetahuan yang ia bagikan kepada masyarakat.

Merawat Kreativitas, Mengenal Kembali Material Alam

Workshop Kriya Akar Wangi menjadi salah satu cara Suluh Sumurup Art Fest 2026 mempertemukan masyarakat dengan praktik seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Peserta tidak hanya diajak menghasilkan sebuah benda, tetapi juga memahami proses di baliknya: mengenali karakter material, memanfaatkan bahan yang tersedia, serta mengolahnya dengan kreativitas.

Di tengah banyaknya produk yang dihasilkan secara massal, kriya berbasis material alam menawarkan pengalaman yang berbeda. Setiap bahan memiliki bentuk, tekstur, warna, bahkan aroma yang menjadi bagian dari karakter karya. Bagi Aslimah, keterampilan tersebut diharapkan dapat terus dipraktikkan setelah workshop selesai.

“Semoga para peserta merasa senang dan ilmu yang didapat hari ini bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang di rumah, sehingga mereka dapat terus produktif menghasilkan karya-karya baru,” ungkapnya.

Sore beranjak, satu per satu gantungan kunci selesai dirangkai. Karya-karya kecil itu menjadi hasil konkret dari dua jam belajar dan bereksperimen bersama. Namun, lebih dari sekadar membawa pulang hasil karya, peserta diajak melihat bahwa material alam di sekitar masih menyimpan banyak kemungkinan untuk dikembangkan.

Melalui Suluh Sumurup Art Fest 2026, Taman Budaya Yogyakarta menghadirkan ruang pertemuan antara seni, pengetahuan, kreativitas, dan masyarakat. Kali ini, sebuah akar sederhana menjadi titik awal untuk mengenal kembali kekayaan material alam sekaligus menemukan kemungkinan baru melalui kriya.