(Yogyakarta, 19/08/2026) — Mengkaji perkembangan seni visual dan perannya di tengah masyarakat, program Rana Budaya menyelenggarakan sesi diskusi bertajuk “Fotografi Sebagai Spektrum: Praktik dan Partisipasi - For Your People”. Acara ini berlangsung di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Rabu (19/8), pukul 15.00 WIB. Diskusi ini menyoroti bagaimana medium visual dapat melampaui sekat-sekat estetika teknis dan menyatu dengan dinamika sosial warga.
Dipandu oleh pemrogram dari Rana Budaya, Ladidja Triana Dewi, dan difasilitasi oleh pengelola Bolo Space, Riza Rozaliani, sesi bincang santai ini menghadirkan Fajar Riyanto, fotografer sekaligus anggota kolektif Ruang MES 56. Diskusi ini membuka pembacaan baru mengenai praktik fotografi yang berakar pada laku keseharian, relasi komunitas, hingga pengarsipan isu-isu sosial.
Menggeser Sudut Pandang Lewat Tiga Pilar
Menurut Fajar, peristiwa sehari-hari tersusun atas tiga pilar utama: komunitas, objek, dan lanskap. Dari ketiganya, ia memilih memusatkan kerja artistiknya pada relasi emosional dan sosial di dalam komunitas.
“Fotografi itu bukan hanya soal bagaimana cara kita mengambil gambar atau tentang image, melainkan cara melihat dan memberi perhatian intens pada sekitar. Hal-hal yang tampak remeh-temeh jika dipahami secara mendalam justru menjadi fondasi karya yang kuat,” ujar Fajar.

Dalam presentasinya, Fajar menerjemahkan nalar fotografis ke berbagai medium partisipatif. Mulai dari eksplorasi gestur refleks saat bercermin lewat cermin berkamera pada 2014, hingga seni performa Laku Soegija (2024) yang mengolah arsip pola makan tanpa garam untuk mengasah kepekaan indra. Pendekatan sosial ini juga tampak pada proyek Pituah Sakti Majalengka (2019) yang merespons alih fungsi lahan industri dan inisiasi dapur komunal lintas medium sejak era pandemi hingga gelaran FKY di Gunungkidul.
Merawat Ingatan Lewat Cetakan Foto
Fajar juga menyoroti pentingnya wujud fisik foto dalam kerja-kerja advokasi dan pengarsipan warga. Bagi komunitas yang ruang hidupnya terancam atau telah berganti rupa, cetakan foto menjadi medium perawatan memori kolektif.
“Foto ini saya cetak dan saya bagikan kembali ke warga karena cetakan fisik itu bisa menjadi penanda. Dulu rumahnya seperti ini, sekarang sudah tidak ada, sehingga foto itu menjadi kenangan bagi mereka,” ungkap Fajar.
Ia menambahkan, “Fungsi fotografi itu untuk memperpanjang napas dari peristiwa ini. Peristiwanya sendiri mungkin sudah selesai, tapi melalui foto, ingatannya masih ada dan terus kita rawat bersama.”
Pendekatan Santai Lewat Tradisi Srawung
Salah satu sorotan menarik dalam diskusi ini adalah metode pendekatan sosial yang digunakan. Alih-alih datang dengan agenda kaku dan langsung memotret secara instan, Fajar memilih pendekatan kultural Jawa, srawung alias berbaur dan nongkrong.

“Dengan warga, kita tidak bisa langsung to the point. Kita main dulu, ngobrol santai dari soal burung dara, vespa, sampai urusan sehari-hari. Dari obrolan dua jam, kesepakatannya mungkin cuma lima menit di akhir,” kata Fajar.
Menjunjung Tinggi Etika dan Transparansi
Diskusi semakin mendalam ketika menyinggung persoalan etika fotografer terhadap subjek yang difoto. Fajar menekankan pentingnya transparansi sejak awal, mulai dari izin sebelum memotret hingga tujuan akhir penggunaan karya.
“Dari awal ke warga, kita harus jujur. Mau untuk pameran atau apa, kita bicarakan. Jangan tiba-tiba memotret tanpa izin,” tegasnya.
Terkait apresiasi atau royalti, Fajar membedakan antara karya lomba dan karya komersial. Jika karya memenangkan kompetisi yang umumnya menilai gagasan seniman, etika tetap dijaga dengan memberikan apresiasi berupa bingkisan atau bentuk terima kasih kepada warga. Namun, apabila karya dijual secara komersial, persentase pembagian hasil harus disepakati secara adil sejak awal.
Antusiasme dan Sudut Pandang Peserta
Keseruan dan pesan yang disampaikan narasumber turut dirasakan oleh para peserta yang hadir, salah satunya Alvin, peserta asal Manado. Ia mengaku termotivasi untuk mengikuti sesi ini untuk mempelajari cara mengabadikan momen secara lebih bermakna.
“Aku ikut For Your People ini karena ingin merawat banyak memori, tapi sebelumnya belum tahu bagaimana cara menangkapnya (capture). Lewat workshop ini, aku jadi tahu bagaimana cara menangkap momen agar memorinya bisa bernapas lebih lama. Kesannya seru banget dan suasananya hangat,” ujar Alvin.

Sesi diskusi Rana Budaya ini akhirnya menggarisbawahi bahwa kekuatan fotografi partisipatif tidak hanya bertumpu pada apa yang tampak di dalam bingkai (frame), melainkan pada bagaimana seniman merawat hubungan manusiawi dan kejujuran di luar bidikan kamera. Penyelenggaraan program ini sekaligus menegaskan komitmen Taman Budaya Yogyakarta sebagai ruang dialektika yang terus membumikan seni visual agar senantiasa berakar dan bermakna bagi dinamika sosial masyarakat.