(Yogyakarta, 08/05/2026) — Panggung Yogyakarta Urban Teater Festival (YUTFest) 2026 mencapai puncaknya pada malam ketiga yang berlangsung meriah dan penuh emosi di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), pada hari Jumat (08/05). Menutup rangkaian panjang sejak proses kurasi pada Januari lalu, pementasan ini menjadi refleksi mendalam mengenai eksistensi manusia di tengah derasnya arus modernisasi kota.
Pada hari ketiga ini, alih-alih menyepi, suasana justru kian ramai hingga seluruh kursi di Concert Hall terisi penuh. Kehadiran mahasiswa, komunitas seni, hingga masyarakat umum tampak menyatu dengan riuhnya percakapan hangat antarseniman di sudut-sudut TBY. Kemeriahan tersebut semakin terasa saat MC Gundhissos dan Sora Gia membuka acara dengan gaya yang sangat interaktif dan komunikatif, mengajak penonton untuk larut dalam suasana malam puncak sebelum akhirnya masuk ke sesi pementasan.
Acara dimulai dengan persembahan teater yang menyentuh dari kelompok Mendak Creative melalui karya bertajuk “Bayang yang Berjalan” yang disutradarai oleh Fitri Bima Asih. Pertunjukan ini hadir sebagai refleksi mendalam atas kegelisahan masyarakat urban Yogyakarta yang kini berada di persimpangan jalan antara teguhnya tradisi dan deru modernitas yang kian cepat.

Melalui gerak artistiknya, para aktor menggambarkan bagaimana raga manusia dipaksa mengikuti ritme kota, sementara sisi batin mereka tertinggal demi mempertahankan nilai-nilai yang perlahan terpinggirkan.
Dalam lakon tersebut, penonton diajak menyelami perjalanan hidup manusia yang dimulai dari fase awal, mulai dari masa belajar hingga bermain yang penuh kepolosan. Cerita kemudian beranjak pada fase dewasa, di mana manusia mulai berbenturan dengan realitas urban yang pelik. Di tengah himpitan sistem sosial dan ekonomi kota yang keras, sosok manusia digambarkan terus berjuang hingga akhirnya perjalanan panjang tersebut bermuara pada satu titik akhir kematian.
Seluruh gerak tubuh para aktor tersebut seolah menegaskan potret manusia yang terjebak dalam sistem, di mana setiap fase kehidupan hanyalah bayangan yang terus bergerak mengikuti ritme pembangunan yang tak terelakkan.
Suasana kota Yogyakarta yang dulu dikenal syahdu kini mulai berganti wajah dengan kemacetan dan deru pembangunan. Fenomena perubahan sosial ini diangkat secara apik oleh kelompok seni Hurung Nemu dalam pementasan teater bertajuk Jogja Pukul Empat Sore yang disutradarai oleh Dhimas Duta.

Pementasan ini berlatar di sebuah perempatan jalan, atau yang akrab disebut warga lokal sebagai bangjo. Di sini, penonton diajak menyaksikan potret nyata kehidupan kota Yogyakarta melalui berbagai peran tokohnya, mulai dari pengamen dan anak-anak yang bermain, hingga pedagang nasi goreng dan hiruk-pikuk proyek pembangunan hotel.
Pementasan ini tidak hanya bicara soal kemacetan lalu lintas. Kehadiran latar pembangunan hotel yang masif di tengah permukiman warga turut menyuarakan isu perubahan lingkungan fisik kota. Bangunan modern tersebut menjadi simbol arus pariwisata yang perlahan menggeser citra Jogja dari kota yang tenang dan bersahaja, menjadi ruang urban yang padat.
Melalui pertunjukan ini, Hurung Nemu mencoba menjawab keresahan masyarakat tentang kotanya yang mulai terasa sesak. Namun, di balik itu semua, teater ini memberikan pesan mendalam bahwa di tengah rutinitas perempatan yang dianggap biasa, selalu ada hal luar biasa yang tumbuh dari perjuangan hidup setiap individu yang ada di sana.
Pementasan tersebut berhasil memukau ratusan pasang mata yang hadir, termasuk dari kalangan akademisi. Salma dan Puspa, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengaku sangat terkesan dengan alur cerita yang disajikan.
“Saya sendiri sangat antusias. Sepanjang menonton tadi, kebetulan kita banyak berdiskusi dengan teman saya. Apa sih ini teaternya? Artinya apa? Terus dia menceritakan tentang apa? Hikmahnya apa? ” ujar Salma. Bagi Puspa, pertunjukan teater bukan sekadar hiburan pelepas penat, melainkan ruang belajar visual yang relevan dengan bidang studi yang mereka tekuni.

Selain mahasiswa, hadir pula Kiki yang datang bersama buah hatinya. Sebagai orang tua yang menerapkan homeschooling, ia memanfaatkan festival ini sebagai sarana edukasi praktis bagi anaknya. “Alasan utama saya ke sini untuk mengenalkan seni teater kepada anak. Selain itu, pementasan ini menjadi referensi penting bagi proyek seni yang sedang saya garap,” ungkapnya.
Keberhasilan malam puncak YUTFest 2026 kembali menegaskan peran strategis TBY sebagai laboratorium seni yang kreatif dan inklusif. Festival yang didukung oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik dari Kementerian Kebudayaan ini sukses menjadi cermin bagi warga untuk melihat kembali kotanya sebagai ruang yang terus tumbuh, namun terkadang lupa menyisakan ruang bagi napas manusia di dalamnya. Harapannya, festival ini akan terus menjadi ruang bagi kelompok teater untuk menghadirkan karya yang kritis, jujur, dan dekat dengan realitas masyarakat urban.