(Yogyakarta, 03/09/2026) — Rangkaian Sayembara Penulisan Cerpen Berbasis Geomitologi bertajuk “Tutur Tumurun” yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) memasuki babak krusial. Sebanyak 10 penulis terpilih mempresentasikan karya mereka yang memadukan fakta geologis, sains, dan kekayaan mitologi lokal secara langsung di hadapan dewan juri pada Kamis (03/09) di Ruang Seminar.  Sesi presentasi ini menjadi tahapan penilaian akhir untuk menguji kesesuaian tema, kreativitas, dan orisinalitas karya. 

Dinamika Presentasi dan Uji Gagasan 

Acara dibuka dengan selingan canda santai dari pembawa acara yang berhasil mencairkan suasana tegang dan formal di ruang kompetisi sebelum sesi pemaparan dimulai. Memasuki sesi inti, ruang seminar beralih menjadi forum pendalaman ide yang dinamis; para nomine memaparkan secara komprehensif bagaimana mereka memilih titik pijak cerita berbasis fenomena lanskap Yogyakarta serta merajut struktur narasinya menjadi fiksi utuh. 

Dengan alokasi waktu sekitar 15 menit, setiap peserta tidak hanya membedah proses kreatif di balik penulisan, melainkan juga harus beradu argumentasi dan merespons tinjauan kritis dari tiga dewan juri sastra, yakni Ramayda Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indrayana. 

Daftar 10 Nomine dan Judul Karya Terpilih

Sesi presentasi dibuka oleh M. Rifdal Ais Annafis lewat karyanya yang berjudul Identitas, sebelum disusul oleh sembilan nomine lainnya. Secara keseluruhan, sepuluh nomine beserta naskah yang berhasil melaju ke babak kurasi presentasi ini meliputi:

  1. Identitas karya M. Rifdal Ais Annafis (tampil pertama)

  2. Jalan Pulang karya Syaeful Cahyadi 

  3. Nama Keenam karya Atika Tegar Imawati 

  4. Nyai Gadung Melati Mblenjani Janji karya Ana Indriyani 

  5. Peyok Ingin Menjadi Gajah karya Alfred Hendri 

  6. Radio Tua dan Perkara Lama karya Abdillah Danny 

  7. Riwayat Sepenggal Cerita Dari Jawa karya Mochammad Syaifulloh 

  8. Sebelum Gunung Itu Menjadi Kelir karya Muhammad Ade Putra 

  9. Sirnanya Ledek di Kaki Gunung Merapi karya Ainun Khalida 

  10.  Turgo karya Faizal Noor Ahmad 

Sorotan Juri: Kriteria dan Apresiasi Penulis Muda

Menanggapi jalannya proses kurasi dan presentasi karya, salah satu anggota dewan juri, Ramayda Akmal, membeberkan sejumlah elemen mendasar yang menjadi fokus utama tim penilai.

“Dalam proses penilaian, kami mempertimbangkan beberapa elemen. Yang pertama kesesuaian dengan tema, yang kedua tentu saja kreativitas, dan yang ketiga orisinalitas cerpen,” ujar Ramayda.

Ramayda juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kualitas serta kedalaman riset para nomine yang didominasi generasi muda. Menurutnya, karya-karya yang masuk memperlihatkan perpaduan apik antara daya cipta sastra dan pemahaman ruang kultural lokal.

Ia menambahkan bahwa ajang ini mengemban misi ganda, tidak hanya bagi pelestarian cerita lokal, tetapi juga bagi regenerasi sastrawan daerah. “Dengan adanya lomba ini, saya pikir bukan hanya menjadi ajang untuk mendokumentasikan geomitologi yang ada di Jogja, tetapi juga sebagai ruang untuk mengapresiasi penulis-penulis muda potensial di Yogyakarta.”

Menuju Antologi Pemenang 

Dari sepuluh nominasi tersebut, dewan juri akan menyaring kembali hingga terpilih 5 karya terbaik. Pengumuman lima karya pemenang tersebut dijadwalkan berlangsung pada 9 Oktober 2026 mendatang. Kelima cerpen terpilih nantinya diterbitkan ke dalam bentuk buku sebagai wujud dokumentasi sastra sekaligus pengarsipan narasi geomitologi Yogyakarta. 

Melalui sayembara ini, geomitologi tidak lagi sekadar menjadi catatan geologis atau dongeng masa lampau, melainkan ruang jelajah baru bagi sastra Indonesia. Gagasan yang dihadirkan para nomine membuktikan bahwa lanskap Yogyakarta menyimpan potensi naratif yang luas ketika disandingkan dengan imajinasi fiksi. Kehadiran antologi cerpen pemenang pada Oktober mendatang diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi sekaligus merawat ingatan kolektif masyarakat atas ruang hidupnya.