Matajendela 2026 Edisi I "Pertemuan Seni dan Ekologi"

Matajendela 2026 Edisi I "Pertemuan Seni dan Ekologi"

PERTEMUAN SENI DAN EKOLOGI

Matajendela volume XXI nomor 1 Mei 2026 hadir sebagai himpunan catatan menyoal dinamika seni dalam kelindan krisis ekologi. Krisis ekologi yang acap kali dipandang sebagai angka statistik, deru mesin tambang, atau kepulan asap cerobong industri. Kritik soal krisis ekologi ini pun sering kali hadir di ruang pameran, panggung pertunjukan, atau berjilid-jilid buku.
Namun, jika dicermati, seniman dan karyanya bukanlah sosok serta-merta bersih dari dosa ekologis. Salah-salah ada keterlibatan seniman dalam menjadi infrastruktur intelektual yang justru melegitimasi ideologi penguasaan atas alam.
Keterlibatan seni dalam keruntuhan ekosistem bersifat subtil, bergerak di antara kesadaran dan ketaksadaran akan prosedur-prosedur artistik yang tampaknya otonom namun justru kerap terselip watak antroposentrisme. Ironi tersebut bisa jadi mewujud dalam praktik yang paradoks. Bayangkan sebuah pertunjukan teater atau instalasi seni yang mengusung tema besar tentang krisis iklim dan duka bumi, namun demi mencapai efek artistik yang dramatis dan memukau mata, ribuan watt listrik dikonsumsi, puluhan lampu pijar menyala sepanjang malam, dan menghasilkan jejak karbon yang kontradiktif dengan pesan yang diteriakkan di atas panggung. Daya yang dihabiskan demi sebuah "estetika duka" justru ikut menyumbang pada pemanasan yang sedang diratapi.
Situasi serupa juga menghantui dunia literasi. Berbagai kajian mendalam dan karya sastra ditulis dengan ketajaman intelektual untuk membedah masalah-masalah yang dialami alam. Namun, sering kali lupa kalau gagasan-gagasan cemerlang itu tercetak di atas lembar-lembar kertas yang berasal dari pohon-pohon yang ditebang. Di sini, karya seni terjebak, seolah-olah lepas dari materialitas asalnya, padahal ia adalah bagian dari rantai eksploitasi.
Mungkinkah seni bisa lepas dari jebakan-jebakan tersebut? Barangkali perlu menggeser tempat duduk ke arah ekosentrisme supaya orientasi estetis berubah dan tidak lagi melihat alam sebagai sekadar objek, melainkan setara. Mampukah kelaziman itu digugat mulai dari menimbang kemapanan estetikanya sendiri? Maka, seni(man) dapat berdiri dengan tatapan kritis sebagai kekuatan perlawanan terhadap krisis.
Melihat fenomena itu, diperlukan suatu upaya untuk mengumpulkan catatan demi catatan peristiwa, tatapan, gagasan, maupun wacana mengenai dinamika seni dan krisis ekologi di Indonesia secara umum, di Yogyakarta secara khusus. Disadari, soal kemanusiaan dan alam Indonesia menjadi sorotan yang tak kunjung usai, bahkan mungkin tak akan usai.


Latief S. Nugraha
Redaktur Majalah Matajendela.

Konten Lengkap

Copyright © 2022 Taman Budaya Yogyakarta