PENTAS MONSERRAT TEATER ALAM : Monumen Kreasi Menolak Senjakala (Latief S. Nugraha)

Montserrat diseret prajurit penjaga penjara

di sore hari yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.

Senja yang temaram akan menghunjamnya

disertai enam orang lainnya yang tak berdosa.

....

 

Itulah sepenggal adegan drama Montserrat karya Emmanual Robles yang dipentaskan oleh Teater Alam, di Taman Budaya Yogya, Sabtu (8/12). Pementasan ini sekaligus menandai 47 tahun kiprah teater pimpinan Azwar AN di kancah teater Indonesia. Dan boleh dibilang sebagai monumen kreasi menolak senjakala.

Teater Alam menunjukkan giginya, meskipun beberapa aktor yang bermain dalam pentas tersebut sudah ompong dan menggunakan gigi palsu. Satu pertunjukan drama realis dari naskah klasik yang bagi generasi milenial mungkin nggak asyik, apalagi di tengah pertunjukan teater karikatural yang menonjol dengan gerak tubuh dan benda-benda sebagai simbol.

Meskipun demikian, di hadapan lebih dari 900 penonton yang sebagian besar adalah generasi milenial itu, Teater Alam hadir di atas panggung mempersembahkan sebuah tontonan yang (semoga tidak berlebihan) agung. Kematangan para aktor sepuh berpadu dengan para aktor generasi muda berbakat Yogyakarta tampak nyata. Drama yang sarat emosi psikologis sepanjang 90 menit itu berakhir giris.

Penonton tersirap, bergeming di kursi masing-masing. Drama klasik-realis itu memaksa dahi penonton berkernyit, berpikir kritis, mengawasi gerak-gerik hingga mimik para aktor berbarengan dengan memperhatikan dialog demi dialog yang tak mudah dimengerti bagi yang terbiasa membaca dan mendengar kata-kata verbal ujaran kebencian di kanal-kanal berita dan media sosial saat ini. Tata panggung megah dan gagah disorot cahaya, para aktor dengan busana ala Amerika Latin tahun 1800-an, musik merasuk menghidupkan suasana telah menyulap Cocert Hall Taman Budaya Yogyakarta menjadi ruang jaga penjara di Valencia, Venezuela yang tengah diduduki Kerajaan Spanyol.

Montserrat, cerita realis, kisah perjuangan Simon Bolivar memerdekakan negara-negara di Amerika Latin dipilih Teater Alam tentu bukan tanpa alasa. Tapi, menilik pentas-pentas Teater Alam sebelum-sebelumnya, pentas kali ini menunjukkan bahwa grup teater yang berdiri 4 januari 1972 itu bisa menyajikan genre lakon apa saja. Lakon komedi macam Si Bakhil dan Perkawinan, lakon surealis macam Obrok Owok-Owok Ebrek Ewek-Ewek, lakon klasik macam trilogi Oedipus, Caligula, Hamlet, Machbeth, lakon wayang Krishna Duta, bahkan lakon religi macam Qasidah Albarzanji pernah dipentaskan. Yang jelas, sanggar yang diasuh oleh Azwar AN ini hingga tahun 2018 masih bisa menunjukkan tajinya sebagai grup teater tertua di Yogyakarta yang masih eksis agaknya.

Puntung CM Pudjadi selaku sutradara tentu sudah mencurahkan seluruh energi dan pengetahuannya untuk mewujudkan pementasan ini. Maka, Meritz Hindra, satu dari  tujuh pendiri Teater Alam dan boleh dibilang murid pertama Azwar AN, sesuai perannya menjadi Izquierdo menguasai panggung. Ia hidup. Garis tebal pementasan yang merah dan tegas berada di tangannya. Ia menunjukkan stamina prima, emosi stabil, dan hafalan dialognya terjaga di usianya yang tak lagi muda. Daning Hudoyo berperan sebagai tokoh yang menjadi judul pementasan ini, Montserrat. Ia berakting dalam diam. Dingin. Sekali lagi, ini pementasan yang sarat dengan emosi-psikologis. Meski emosinya tampak tidak stabil. Hal ini tampak saat adegan monolog, kata-kata kunci berisi inti disampaikan terputus-putus berbau kertas.

Sementara, sejumlah peran hadir dengan karakter masing-masing. Tiga bawahan Izquierdo, masing-masing Zuasola diperankan Edy Jebeh, Antonanzas diperankan Daru Maheldaswara, dan Morales diperankan Dinar Setiyawan  membuka pertunjukan sesuai porsinya. Sayang, dari ketiganya tidak muncul karakter yang menonjol sebagai pembeda. Gege Hang Andhika, aktor gaek jebolan Bengkel Teater ini menunjukkan kematangannya berperan jadi Salas Ina sang saudagar kaya raya, meskipun gerakan-gerakannya kaku terasa pegal linu. Dapat dimaklumi, usianya sudah tak muda lagi untuk berakting sebagai sosok berumur 35 tahun yang usia pernikahannya baru satu tahun. Udik Supriyanta mencuri perhatian. Ia tentu saja lucu meski perannya sebagai seorang seniman bernama Juan Salcedo serius. Ia menghasilkan banyak tawa dan tepuk tangan para penonton. Begitu pula dengan Wahyana Giri M.C. sang membuat poci. Perannya sebagai Arnal Luhan boleh dibilang kecil saja. Tapi ia hidup, sebagaimana di dalam peran, ia bisa “menghidupkan” poci buatannya. Anastasia S. (Ibu), salah satu aktris Teater Alam yang aktif sejak tahun 1977 masih mumpuni di atas pentas. Aktris muda Dina Megawati berperan cantik sebagai Elena. Sorot matanya tajam menunjukkan seperti apa perannya dalam pentas itu. Bambang Wartoyo (Paderi) yang agaknya sudah lama tak naik panggung, juga MN Wibowo (Ricardo) yang sesekali mengisi dengan improfisasi, berperan sesuai porsinya.

Teater Alam malam itu telah mempertemukan para aktor dari berbagai generasi dalam satu panggung, telah mengumpulkan keluarga besar yang terpisah di berbagai kota di Indonesia setelah lama tak bertemu, dan telah menunjukkan bahwa Teater Alam patut disegani, namun, juga mohon dimaklumi. Disegani karena sebagai orang tua telah memberikan teladan baik bagi para generasi muda teater di Yogyakarta dan dimaklumi apabila akting tak lagi lincah, vokal tak lagi lantang, dan tidak sedikit dialog yang hilang. Mengutip kata Puntung CM Pudjadi, sang sutradara,

“Usia kami sudah 47 tahun, lebih dari 50 pementasan sudah digelar, lebih dari 30 anggota telah meninggal dunia, namun kami yang tersisa ini masih mencoba bergerak dan berkarya di sela-sela kesibukan kerja sebagai pencuri waktu dan penipu usia. Semangat kami tak pernah redup!”

Para tokoh teater dan seniman Yogyakarta satu persatu naik ke panggung menjabat tangan para aktor dan para pendukung pentas di tengah ratusan penonton generasi kiwari yang berebut mengajak berswafoto. Tak ada yang tampak loyo. Lebih ataupun kurang sejarah telah diukir oleh salah satu kelompok teater legendaris Yogyakarta.

Azwar AN menyaksikan keberhasilan anak-anaknya. Ia tersenyum bangga dan lapang dada. (Latief S. Nugraha, Carik Studio Pertunjukan Sastra)
Dimuat di
http://www.yogyapos.com/berita-pentas-monserrat-teater-alam--monumen-kreasi-menolak-senjakala-35