(Yogyakarta, 02/07/2026) — Cerita-cerita rakyat yang terekam secara turun-temurun di tengah masyarakat kini mendapatkan ruang khusus untuk didokumentasikan kembali melalui pendekatan ilmiah dan kreatif. Sebuah program bertajuk Tutur Tumurun: Lokakarya Menulis Cerpen Berbasis Geomitologi DIY resmi digelar pada Kamis. Acara ini berlangsung di Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta (TBY). 

Misi Melestarikan Sejarah Tutur DIY 

Program Tutur Tumurun 2026 mengemban misi mengajak generasi muda menulis ulang dan mendokumentasikan folklor geomitologi di DIY. Geomitologi sendiri merupakan disiplin yang meneliti kaitan mitos atau legenda lokal dengan fenomena bentang alam geologisnya. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak sekadar mendengarkan dongeng, melainkan aktif mencatat dan menceritakan kembali sejarah tutur tersebut agar tidak punah. 

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menegaskan bahwa Tutur Tumurun merupakan agenda dua tahunan bermisi strategis. Program ini memberi ruang kreatif bagi cerpenis lokal untuk mengangkat narasi folklor yang belum banyak terdokumentasikan. Lewat tema Geomitologi, peserta ditantang mengaktualisasikan mitos dan cerita tutur masyarakat Yogyakarta ke dalam cerpen yang kontekstual dengan fenomena alam setempat. 

“Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat peran Taman Budaya Yogyakarta dalam memberikan dampak konkret yang tepercaya bagi pelestarian aset-aset seni dan budaya di DIY,” ujar Purwiati.

Mengulik Mitos dengan Kacamata Ilmiah

Dalam sesi pengantar bersama Latief S. Nugraha, peserta diajak bertindak layaknya detektif budaya. Menulis cerpen berbasis geomitologi bukan sekadar mereka-reka dongeng, melainkan mengulik keterkaitan narasi tutur seperti toponimi desa, keberadaan sendang, hingga mitos Gunung Merapi dan Laut Selatan dengan realitas geologis.

“Geomitologi bukan semata-mata tentang ingatan bencana seperti gempa atau gunung meletus, melainkan mencakup cerita rakyat, toponimi tempat, hingga situs budaya yang tersebar di DIY,” ungkap Latief.

Melalui lokakarya ini, para peserta dibekali kemampuan teknis oleh tiga narasumber ahli, yakni Paksi Raras Alit, Raudal Tanjung Banua, dan Herlinatiens.

Mitologi Sebagai Rekaman Alam dan Negosiasi Sosial 

Paksi Raras Alit memaparkan bahwa peradaban Jawa memiliki cara unik merekam peristiwa alam jauh sebelum mengenal teknologi kertas atau sains modern. Kisah lisan seperti runtuhnya Gunung Gamping, aktivitas Sesar Opak, hingga fenomena Lumpur Lapindo sengaja dikemas dalam bentuk mitos agar ingatan kolektif tersebut awet melintasi ribuan generasi. 

“Sastra lisan kita itu sudah awet ribuan tahun sebelum mengenal teknologi kertas Eropa,” ujar Paksi. Ia mencontohkan bagaimana fenomena alam dimanifestasikan melalui tokoh mitologis, seperti personifikasi Dewi Sri untuk urusan pangan, hingga cerita rakyat seputar candi dan sendang (mata air). 

Selain merekam fenomena alam, Paksi memaparkan bahwa mitologi Jawa juga berfungsi sebagai media negosiasi sosial. Hal ini terlihat dari struktur pewayangan Jawa yang menggambarkan tokoh punakawan seperti Semar, Togog, dan Bagong secara komikal dan absurd, namun memiliki kesaktian yang melampaui dewa-dewa tinggi seperti Batara Guru. Menurutnya, kontradiksi visual dan kekuatan ini adalah bentuk perlawanan kultural masyarakat lokal terhadap hegemoni budaya luar. 

“Ini adalah ciri khas orang Jawa: menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan). Melawan kemapanan bukan dengan kekerasan, melainkan lewat bahasa yang distilistika, lewat jenaka dan kekuatan sastra,” tambahnya.

Di era modern, manifestasi mitos ini menjelma menjadi fondasi kebijakan tata ruang seperti garis imajiner Yogyakarta hingga ritual adat dan penggerak ekonomi kreatif. Oleh karena itu, di akhir sesi, Paksi berharap para cerpenis hari ini berpikir kritis menggunakan fiksi untuk menyuarakan realitas yang terabaikan, termasuk membaca krisis ekologi dan ketidakadilan sosial di sekitar kita. 

Strategi Mendekonstruksi Mitos ke Ruang Fiksi 

Selanjutnya, sastrawan terkemuka Raudal Tanjung Banua memaparkan bagaimana penulis dapat meramu mitos menjadi fiksi kontemporer yang relevan. Menurutnya, tantangan terbesar menulis fiksi berbasis mitos adalah sifat narasinya yang kerap terlalu luas. 

Untuk menyiasatinya, Raudal menyarankan pengarang memperkecil cakupan (scope) mitos ke ranah yang lebih spesifik, seperti lingkup keluarga atau psikologis tokoh. “Jika berpedoman pada mitos yang terlalu umum, kita akan kesulitan membangun plot dan konflik,” jelasnya. Eksplorasi pada motivasi personal tokoh justru akan memberi fondasi kuat agar cerita tidak terkesan klise. 

Selain masalah cakupan, menulis mitos yang telanjur dipercayai publik memiliki sensitivitas tersendiri. Agar imajinasi tidak berbenturan dengan kesakralan narasi lokal, strategi cerita berbingkai (metafiksi) atau membawa mitos ke konteks kekinian bisa menjadi solusi. Melalui pendekatan ini, Raudal mengingatkan bahwa pengarang sebenarnya tidak sedang mengadili realitas budaya.

“Pretensi saya mengangkat mitos atau mitologi dalam sebuah karya, tidak punya pretensi moral untuk memberi justifikasi bahwa ini benar dan ini salah,” tutur Raudal. Raudal menambahkan bahwa mitos tidak pernah mati, melainkan bermutasi menjadi bentuk kecemasan modern yang menyusup ke dunia politik, kekuasaan, hingga ironi kehidupan urban. 

Berlanjut ke Tahap Sayembara Penulisan 

Rangkaian program Tutur Tumurun 2026 tidak berhenti di sesi lokakarya ini saja, melainkan masih terus berjalan ke tahap sayembara penulisan cerpen yang akan dibuka mulai 8 Juli hingga 16 Agustus 2026. Seluruh rangkaian tersebut nantinya akan bermuara pada puncak acara bertajuk Pesta Cerita sekaligus malam penganugerahan yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 9 Oktober 2026. 

Melalui Tutur Tumurun 2026, geomitologi bukan lagi sekadar romantisasi masa lalu, melainkan sebuah jembatan bagi generasi muda untuk membaca ulang ruang hidup mereka. Di tangan para penulis muda inilah, mitos-mitos Yogyakarta tidak hanya akan abadi sebagai cerita tutur, tetapi juga menjelma menjadi pemantik daya kritis dalam menghadapi tantangan zaman dan merawat kelestarian budaya serta alam di masa depan.