(Yogyakarta, 14/07/2026) — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menggelar ajang bergengsi Lomba Cerdas Cermat Museum (LCCM) tingkat SMP/MTs se-DIY tahun 2026. Kompetisi edukatif ini berlangsung pada hari Selasa (14/7), bertempat di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta. Menjadi wadah bagi pelajar terbaik kabupaten dan kota se-DIY, kompetisi yang telah berjalan lebih dari delapan tahun ini terasa semakin istimewa karena mulai tahun ini peraih Juara 1 akan memboyong Piala Bergilir Gubernur DIY untuk meningkatkan prestise perlombaan.
Filosofi MONCER dan Tagline LCCM 2026
Tahun ini, LCCM mengusung tema menarik “MONCER” (bersinar atau cemerlang) untuk merepresentasikan museum bukan lagi sekadar tempat penyimpanan masa lalu yang kaku, melainkan ruang belajar yang dinamis, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Melalui tema ini, museum diharapkan mampu menjadi sumber inspirasi utama bagi lahirnya generasi muda yang cerdas, berwawasan luas, dan berprestasi.

Komitmen tersebut diperkuat dengan peluncuran tagline kompetisi “Generasi Cinta Museum, Cerlang, Berkarakter”. Melalui tagline ini, Dinas Kebudayaan DIY tidak hanya ingin melahirkan juara di bidang akademik, tetapi juga membentuk karakter generasi muda yang menghargai akar budaya bangsa melalui tantangan berpikir kritis, wawasan mendalam, serta kecintaan terhadap museum, sejarah, dan kekayaan cagar budaya.
Mendekatkan Museum, Menjaga Sportivitas
Dalam sambutannya, Sekretaris Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Drs. Budi Husada menyampaikan bahwa LCCM merupakan langkah nyata pemerintah untuk mendekatkan museum kepada generasi muda.
“Lomba Cerdas Cermat Museum merupakan salah satu upaya Dinas Kebudayaan DIY untuk menghadirkan museum sebagai ruang belajar yang dekat dengan generasi muda. Melalui kegiatan ini, kami berharap museum tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi, tetapi juga menjadi tempat yang dipahami, dicintai, dan menginspirasi lahirnya generasi yang menghargai sejarah serta budayanya,” ujar Budi.

Budi juga menegaskan komitmen panitia untuk menjaga profesionalisme dan sportivitas sepanjang perlombaan. Seluruh proses, mulai dari penyusunan soal hingga penilaian, dilaksanakan dengan menjunjung tinggi prinsip objektivitas, akuntabilitas, dan integritas demi memastikan setiap peserta mendapatkan kesempatan berkompetisi secara adil.
Sengitnya Kompetisi dan Kemeriahan Panggung
Untuk menentukan pemenang utama yang berhak membawa pulang piala bergengsi tersebut, kompetisi dikemas ke dalam empat babak yang menantang. Jalannya perlombaan berlangsung sangat seru dan kompetitif, memicu gemuruh tepuk tangan dan yel-yel kreatif dari masing-masing pendukung sekolah yang memadati concert hall.
Ketegangan mulai menyelimuti panggung begitu babak pertama dimulai. Pada sesi pembuka ini, kelima tim diberi masing-masing 10 pertanyaan yang harus dijawab dengan cepat dan tepat seputar sejarah, purbakala, dan permuseuman. Persaingan semakin memuncak pada babak keempat, yaitu babak rebutan, di mana kejar-kejaran skor yang sangat tipis memperlihatkan betapa matangnya persiapan para pelajar terbaik kabupaten dan kota se-DIY ini demi mengharumkan nama daerah mereka.

Usai ketegangan kompetisi berakhir dan sebelum pengumuman pemenang resmi dibacakan, suasana concert hall dicairkan oleh penampilan dari Sanggar Bawikaraga, yaitu Tari Montro Wasito Aji yang dibawakan dengan penuh energi dan keselarasan.
Mutu dan Esensi Belajar di Luar Kemenangan
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian dari Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa esensi utama dari kompetisi ini bukanlah sekadar meraih kemenangan. Menurutnya, seluruh rangkaian proses belajar, memahami, hingga melakukan survei langsung ke berbagai museum merupakan esensi utama dalam mendekatkan museum kepada para peserta didik.
“Melalui tagline Generasi Cinta Museum, Cerlang, Berkarakter, kita mengenal istilah Moncer yang berarti bersinar atau cemerlang. Kita tidak akan bisa moncer jika tidak melihat langsung objeknya, tidak datang ke museumnya, serta tidak berupaya memahami makna di balik setiap koleksi yang ada,” ujar Dian.

Dian juga menjamin mutu pelaksanaan ajang tahunan ini berjalan adil dan bertanggung jawab. “Kami menegaskan seluruh rangkaian LCCM DIY 2026 diselenggarakan dengan menjunjung tinggi prinsip integritas, objektivitas, dan akuntabilitas,” tuturnya.
Menutup sambutannya, Dian memberikan ucapan selamat kepada para pemenang dan menegaskan bahwa pada dasarnya seluruh peserta yang telah berani tampil adalah juara.
Daftar Lengkap Pemenang LCCM DIY 2026
Momen yang paling dinantikan pun tiba ketika dewan juri membacakan keputusan akhir perolehan poin dari kelima finalis. Setelah melewati pertempuran sengit di empat babak penuh tantangan, berikut adalah daftar lengkap pemenang LCCM DIY 2026:
Kategori Utama
Juara I: SMP Negeri 1 Wates (Kabupaten Kulon Progo) – memboyong Piala Bergilir Gubernur DIY
Juara II: SMP SahabatQu Pakem (Kabupaten Sleman)
Juara III: SMP Negeri 9 Yogyakarta (Kota Yogyakarta)
Harapan I: SMP Negeri 1 Sewon (Kabupaten Bantul)
Harapan II: SMP Negeri 2 Patuk (Kabupaten Gunungkidul)

Selain penghargaan utama, panitia juga memberikan apresiasi khusus bagi kreativitas dan dukungan luar biasa dari sekolah peserta melalui dua kategori tambahan yang sepenuhnya ditentukan berdasarkan hasil polling:
Juara Yel-Yel Terbaik: SMP Negeri 2 Patuk (Kabupaten Gunungkidul)
Juara SMP Favorit: SMP Negeri 1 Wates (Kabupaten Kulon Progo) – berhak membawa pulang Piala Barahmus (Badan Musyawarah Musea).
Keberhasilan meraih Piala Barahmus sebagai SMP Favorit pilihan publik ini menjadi pelengkap kebahagiaan bagi SMP Negeri 1 Wates, yang sukses mengawinkan gelar prestisius Piala Bergilir Gubernur DIY dengan predikat sekolah terfavorit dalam ajang LCCM DIY 2026.
Penyerahan trofi secara simbolis kepada para pemenang menandai berakhirnya seluruh rangkaian ajang LCCM DIY 2026. Kompetisi ini diharapkan tidak hanya melahirkan juara di atas panggung, tetapi juga menumbuhkan harapan baru agar nilai-nilai sejarah dan permuseuman tertanam kuat dalam karakter sehari-hari para siswa. Dengan suksesnya penyelenggaraan tahun ini, ajang LCCM diharapkan terus konsisten menjadi motor penggerak literasi budaya yang mampu menarik minat generasi muda untuk menjadikan museum sebagai ruang belajar yang interaktif, edukatif, dan menyenangkan.