(Yogyakarta, 2/07/2026) — Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menghadirkan ruang ekspresi bagi para pelaku seni melalui gelaran Pentas Rebon TBY yang berlangsung pada Rabu (1/7) malam di Concert Hall TBY. Dimulai pukul 19.00 WIB, pertunjukan ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Ratusan penonton memenuhi seluruh kursi yang tersedia untuk menikmati beragam sajian seni pertunjukan yang memadukan sejarah, komedi, kritik sosial, hingga refleksi kehidupan.
Suasana malam dibuka dengan khidmat melalui menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama seluruh hadirin. Setelah itu, atmosfer pertunjukan berubah hangat ketika duo pembawa acara, Ciblek Vertigo dan Harien Sumonah, mengambil alih panggung. Gaya komunikasi yang santai, penuh humor, dan interaktif berhasil mencairkan suasana sekaligus membangun antusiasme penonton sebelum pertunjukan utama dimulai.
Tragedi Cinta dan Intrik Kekuasaan dalam Kethoprak Rebon
Pertunjukan pertama dibuka oleh Kethoprak Rebon melalui lakon "Dhalang Panjang Mas: Suluk Kang Pungkasan". Mengangkat fragmen sejarah Mataram, pementasan ini menyajikan kisah tragis yang dipenuhi intrik politik dan pengorbanan cinta.

Cerita berpusat pada Ki Panjang Mas yang dibunuh secara keji di lingkungan keraton karena menolak menyerahkan istrinya, Retno Dumilah, kepada Sang Raja. Setelah kematian suaminya, Retno Dumilah dipaksa menjadi selir dengan gelar Ratu Malang. Duka mendalam yang terus menghantuinya membuat sang ratu akhirnya wafat, meninggalkan penyesalan yang begitu besar bagi Amangkurat I.
Dengan penyutradaraan yang kuat, tata artistik yang mendukung, dan permainan para aktor yang emosional, pertunjukan ini menghadirkan refleksi tentang kesetiaan, cinta, serta dampak destruktif dari keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Dagelan Mataram Hadirkan Kritik Sosial dalam Balutan Komedi
Pertunjukan berlanjut dengan Dagelan Mataram melalui lakon "AGhost in Cell". Mengangkat kehidupan di balik jeruji besi dari sudut pandang yang humanis, pementasan ini memadukan kritik sosial dengan humor khas Mataram yang mengundang tawa sepanjang pertunjukan.
Lakon tersebut mengajak penonton melihat kehidupan narapidana secara lebih utuh, sekaligus mempertanyakan stigma yang selama ini melekat terhadap para terpidana. Melalui pendekatan komedi, pesan-pesan kemanusiaan disampaikan secara ringan namun tetap mengena.

Suasana semakin semarak dengan penampilan spesial dari Kelas Vokal Art For Children (AFC) Taman Budaya Yogyakarta yang disambut meriah oleh tepuk tangan para penonton.
"Penggali Kubur" Tutup Malam dengan Satir Politik yang Menggugah
Sebagai penutup, kelompok teater "Penggali Kubur" menghadirkan drama satir tiga babak berlatar sebuah pemakaman desa. Kisah bermula dari penemuan misterius sepasang sepatu lars di atas tengkorak manusia yang kemudian membangkitkan berbagai arwah masa lalu, mulai dari korban pembantaian hingga aktivis yang terus menuntut keadilan.
Melalui perpaduan teater, musik, simbol-simbol visual, dan humor satir, pertunjukan ini menyampaikan kritik tajam terhadap praktik kekuasaan, pencitraan politik, serta berbagai bentuk ketidakadilan yang masih membayangi kehidupan masyarakat.

Alih-alih sekadar menjadi hiburan, "Penggali Kubur" mengajak penonton merenungkan apakah sejarah kelam benar-benar telah usai atau justru terus berulang dalam wajah yang berbeda.
Antusiasme Generasi Muda Warnai Pentas Rebon
Di tengah riuh tepuk tangan dan gelak tawa yang mengiringi setiap pertunjukan, hadirnya banyak penonton dari kalangan generasi muda menjadi pemandangan yang menggembirakan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa seni pertunjukan tradisional masih mampu menarik perhatian lintas generasi ketika dikemas secara kreatif dan relevan.
Salah satunya disampaikan oleh Janah dan Zulfa yang mengaku baru pertama kali menyaksikan pertunjukan seni panggung secara langsung di Taman Budaya Yogyakarta.
"Harapan kami, acara seperti Pentas Rebon lebih sering diselenggarakan agar generasi muda semakin mengenal kekayaan budaya yang kita miliki," ujar Zulfa.
Senada dengan itu, Janah berharap Pentas Rebon dapat terus menghadirkan konsep pertunjukan yang beragam sehingga semakin banyak anak muda tertarik datang dan menikmati seni pertunjukan tradisional.
Merawat Ruang Budaya yang Tetap Relevan

Keberhasilan Pentas Rebon TBY kembali membuktikan bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Panggung yang menghadirkan beragam ekspresi seni—mulai dari kethoprak, dagelan, hingga teater kontemporer—mampu menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan sejarah, hiburan, kritik sosial, dan refleksi kehidupan dalam satu malam pertunjukan.
Melalui penyelenggaraan Pentas Rebon secara rutin, Taman Budaya Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai ruang kultural yang memberi kesempatan bagi para seniman untuk berkarya sekaligus mendekatkan seni tradisi kepada masyarakat, terutama generasi muda. Dengan semangat tersebut, api pelestarian budaya di Yogyakarta diharapkan akan terus menyala dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.