(Yogyakarta, 31/08/2026) — Tahapan penjurian Tutur Tumurun 2026: Sayembara Penulisan Cerpen Berbasis Geomitologi telah rampung. Sebanyak 75 cerpen yang masuk dalam sayembara ini telah dibaca dan dinilai oleh dewan juri untuk menemukan karya-karya yang tidak hanya mampu merespons tema, tetapi juga menawarkan gagasan, tafsir, serta cara bertutur yang kuat.
Proses penjurian melibatkan tiga sastrawan dan penulis, yakni Ramayda Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indriyana. Penilaian tidak semata-mata melihat sejauh mana cerpen memenuhi tema sayembara, tetapi juga bagaimana peserta mampu menerjemahkan geomitologi ke dalam cerita yang memiliki gagasan dan perspektif yang kuat.
Dalam proses membaca puluhan karya tersebut, muncul beragam cara peserta dalam mengolah tema geomitologi. Sejumlah cerpen tidak berhenti pada upaya menerjemahkan tema secara harafiah, tetapi justru menjadikannya sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas, mulai dari identitas, sejarah, gender, kesenian, hingga kekerasan.
Dari Tema Menuju Tafsir
Salah satu tantangan dalam sayembara penulisan dengan tema tertentu adalah kecenderungan peserta untuk menjadikan tema sebagai sesuatu yang harus tampak secara langsung dalam cerita. Padahal, tema dapat bekerja lebih jauh sebagai fondasi yang menghidupkan persoalan, karakter, konflik, maupun sudut pandang dalam sebuah karya.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam proses penjurian Tutur Tumurun 2026. Karya yang menarik tidak hanya menunjukkan kepatuhan terhadap tema, tetapi mampu mengolahnya menjadi gagasan yang lebih personal dan membuka kemungkinan tafsir bagi pembaca.
Dari 75 cerpen yang dibaca, dewan juri menemukan keberagaman pendekatan dalam merespons geomitologi. Tema tersebut hadir melalui berbagai persoalan dan pengalaman manusia, sekaligus memperlihatkan bagaimana para penulis memandang kembali hubungan antara mitos, ingatan, masyarakat, dan kehidupan kontemporer.
Keragaman tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam proses penjurian. Cerpen-cerpen yang masuk menunjukkan kemampuan kreatif dan narasi yang beraneka, sekaligus memperlihatkan luasnya cara peserta dalam merespons tema dan mengembangkan gagasan ke dalam bentuk cerita.
75 Cerpen, 10 Nomine Terpilih
Setelah melalui proses pembacaan dan penilaian, dewan juri akhirnya menetapkan 10 cerpen sebagai nomine Tutur Tumurun 2026.
Sepuluh karya tersebut dinilai memiliki kekuatan dalam bercerita, mengembangkan gagasan, serta menunjukkan keberagaman cara dalam merespons tema geomitologi. Terpilihnya 10 nomine menjadi penanda bahwa perjalanan sayembara telah memasuki tahap berikutnya.
Menariknya, peserta yang mengirimkan karya pada sayembara tahun ini didominasi oleh perempuan. Namun, setelah melalui proses seleksi dan penjurian, komposisi 10 nomine justru menunjukkan dominasi peserta laki-laki.

Perbedaan komposisi tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan sayembara. Pada akhirnya, proses penjurian berfokus pada kekuatan karya, pengolahan tema, gagasan, kreativitas, dan kemampuan naratif, bukan pada identitas penulis.
Menuju Tahap Presentasi
Terpilih sebagai 10 nomine bukanlah akhir dari perjalanan. Para nomine selanjutnya akan memasuki tahap presentasi karya di hadapan dewan juri dalam waktu dekat.
Tahap ini menjadi ruang bagi para nomine untuk memperlihatkan lebih jauh gagasan, proses kreatif, serta cara mereka mengolah geomitologi menjadi cerita. Presentasi sekaligus menjadi bagian dari proses penilaian sebelum dewan juri menentukan lima karya terbaik Tutur Tumurun 2026.

Dari 75 cerpen yang masuk, kini tersisa 10 nomine yang melangkah ke babak berikutnya. Masing-masing membawa cerita, gagasan, dan tafsirnya sendiri terhadap tema geomitologi.
75 cerpen telah membuka 75 kemungkinan cerita.
10 nomine kini melangkah menuju tahap presentasi.
Dan lima karya terbaik masih menunggu untuk ditemukan.
Siapa saja 10 nomine tersebut? Nantikan rangkaian presentasi karya dan pengumuman lima terbaik Tutur Tumurun 2026 melalui kanal informasi Taman Budaya Yogyakarta.