(Yogyakarta, 01/10/2026) — Memasuki malam kedua, Rabu (30/9), gelaran Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV 2026 kembali menghadirkan ragam pertunjukan seni dari berbagai daerah di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Dimulai pukul 19.00 WIB, panggung malam kedua menampilkan karya dari enam kontingen, yakni Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Papua, dan Jawa Tengah.
Dipandu duet MC Gundhissos dan Winda Melantika, setiap kontingen menyuguhkan karya yang berangkat dari tradisi, ritual, mitologi, hingga kehidupan masyarakat di daerah masing-masing. Di sela-sela pertunjukan, perwakilan kontingen dan Kepala Taman Budaya turut hadir di atas panggung untuk menyapa penonton serta menjelaskan latar dan makna filosofis dari karya yang dipentaskan.
Selamatan Leut dari Kalimantan Selatan
Sebagai pembuka pertunjukan pada malam kedua, UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan tampil memukau lewat pertunjukan bertajuk Selamatan Leut. Karya ini mengangkat tradisi dan ritual adat pesta rakyat masyarakat suku Bajau Samah di Kabupaten Kotabaru sebagai ungkapan syukur nelayan atas kelimpahan hasil laut. Prosesi sakral dipimpin oleh seorang Sanro (pemimpin adat) yang membacakan mantra sambil memandu warga dari rumah adat ke pesisir. Puncak ritual ditandai dengan penancapan anjak ke dasar laut yang dipercayai membuat air laut di sekitarnya berubah menjadi tawar, penawar penyakit, serta pembawa kesejahteraan.
Gane Nggatuvu Pesan Leluhur dan Mantra Kehidupan
Selanjutnya, tampil UPT Taman Budaya dan Museum Sulawesi Tengah. Dalam penampilannya malam ini, Sulawesi Tengah mempersembahkan karya seni pertunjukan bertajuk Gane Nggatuvu yang berarti Mantra Kehidupan. Pertunjukan ini menggali keunikan warisan peradaban zaman prasejarah Sulawesi Tengah yang kaya akan pesan-pesan leluhur. Alunan instrumen musik tradisional Lalove dan Kakula mengalun merdu mengiringi gerak para penari. Pertunjukan ini mengangkat narasi tentang siklus kehidupan manusia yang harus melewati tahap pendewasaan, dengan menyoroti ritual adat Nokeso (atau Nokeru).
Mistik Mitos Dayak Paser dalam Nyingke Iden
UPTD Taman Budaya Disdikbud Kalimantan Timur menampilkan tari kreasi baru berjudul Nyingke Iden. Secara etimologis, Nyingke Iden berasal dari bahasa Paser Purba yang berarti membangkitkan atau menghadirkan kembali kepercayaan kuno. Karya ini merekonstruksi mitos masyarakat Dayak Paser saat gerhana bulan purnama, pada momen sakral yang diyakini sebagai tanda turunnya sosok spiritual Dayang Nyuwo ke bumi. Tarian ini dibawakan dengan begitu apik, menggambarkan prosesi pemanggilan roh leluhur yang berpuncak pada kondisi trance sebagai simbol penyucian jiwa.
Tari Pasampo, Mengagungkan Doa dan Tradisi Lisan
Giliran Taman Budaya Provinsi Sulawesi Selatan unjuk gigi dengan judul Tari Pasampo, Doa dan Harapan Leluhur. Pertunjukan ini membawa penonton menyelami kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan tempo dulu dalam mengawali setiap aktivitas bakti, seperti bertani, melaut, hingga bepergian. Elemen utama dalam tarian ini mengaitkan unsur artistik jampi-jampi atau mantra tradisional sebagai simbol perlindungan, doa keselamatan, serta penghormatan mendalam kepada Sang Pencipta dan para leluhur.
Nyala Semangat dan Syukur dalam Tari Ahoy Koy
Kemudian dilanjutkan UPTD Taman Budaya Provinsi Papua tampil membawakan persembahan bertajuk Tari Ahoy Koy Kampong Yoka. Karya seni tari kontingen Bumi Cenderawasih ini merefleksikan potret kehidupan, semangat kebersamaan, serta rasa cinta masyarakat Kampung Yoka terhadap tanah kelahiran dan adat Suku Sentani. Rangkaian gerak yang dinamis, tegas, serta penuh energi membawakan narasi ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas kelimpahan alam dan warisan leluhur. Selain itu, tarian ini menuturkan sejarah penting mengenai jejak perpindahan masyarakat dari Kampung Hebeybulu menuju kawasan di Ujung Timur Danau Sentani, yang kini dikenal sebagai Kampung Yoka di Kota Jayapura.
Ritual Tolak Bala Tradisi Surakarta dari Jawa Tengah
Sebagai penutup rangkaian pertunjukan kontingen daerah pada malam kedua, UPTD Taman Budaya Provinsi Jawa Tengah menghadirkan pertunjukan seni, yaitu Tari Umbul-Umbul Nur Roso. Tarian ini disajikan dalam balutan garapan tari tradisi gaya Surakarta. Pertunjukan seni ini terasa semakin magis dengan adanya pembacaan geguritan (puisi Jawa) yang diiringi alunan musik karawitan. Karya ini memiliki makna filosofis mendalam yang difungsikan sebagai ritual tolak bala sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan nikmat dan perlindungan Sang Pencipta.
Usai rangkaian penampilan seni tradisi dari enam provinsi, panggung malam kedua akhirnya ditutup dengan penampilan heboh dari grup musik etnik-ska asal Yogyakarta, Pendhoza. Suasana kian pecah dan penuh keakraban saat para penonton diajak maju merapat ke depan panggung untuk bernyanyi dan berjoget bersama.
Ditemui di akhir acara, Amanda, salah satu penampil dari kontingen Sulawesi Tengah, mengapresiasi kemegahan acara serta antusiasme warga Yogyakarta. “Kami sangat terkesan dengan pagelaran yang begitu megah dan meriah, serta penghargaan yang luar biasa dari panitia dan masyarakat Yogyakarta,” ujar Amanda.
Lewat ajang TKTB ke-25 ini, ia berharap kesenian tradisi Indonesia bisa semakin populer dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kemeriahan malam kedua Temu Karya Taman Budaya XXV tidak hanya menyajikan hiburan visual yang memukau, tetapi juga mempertegas pentingnya melestarikan kearifan lokal di tengah arus modernisasi. Kehadiran ribuan penonton yang memadati Concert Hall TBY menjadi bukti nyata bahwa seni tradisi Nusantara senantiasa memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.